04 Januari 2019
Krakatau Steel Dorong Penjualan dan Efisiensi di 2018

Jakarta (4/1), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menggelar paparan publik atau Public Expose di Gedung Bursa Efek Indonesia. Dalam paparannya Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menyatakan harga baja di pasar internasional sampai dengan Desember 2018 mengalami penguatan (recovery). Faktor ini dipicu oleh tambahan pemangkasan kapasitas produksi Cina sebesar sebesar 30 juta ton/ tahun sehingga dalam 5 tahun ke depan turut memberikan sentiment positif bagi penguatan harga baja global. Permintaan baja HR di pasar domestic periode Januari – Desember 2018 sebesar 4,78 ton atau tumbuh sebesar 0,1% (YoY).

“Rekor volume penjualan HRC berhasil dicapai pada bulan Oktober 2018 yang mencapai 127.005 ton, setelah sebelumnya pada bulan Maret sempat mencapai 120.843 ton. Sementara total volume penjualan produk baja Perseroan selama Januari–September 2018 mencapai 1.595.260 ton, atau naik 14,24% Year-on-Year (YoY) dari 1.396.422 ton selama periode yang sama tahun lalu. Kami juga mencatat rekor produksi HRC tertinggi sebesar 189.702 ton pada November 2018”, ungkap Silmy.

Tren positif ini diikuti oleh kenaikan harga jual produk baja sebesar 11% (YoY). Di sisi kinerja keuangan, perseroan juga mengalami kenaikan pendapatan netto sebesar 22,71% (YoY), dan laba / (rugi) yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas produk meningkat sebesar 50,19% (YoY).

Soal efisiensi, perseroan pun telah melakukan sejumlah langkah perbaikan kinerja operasional di Hot Strip Mill terkait dengan peningkatan produktivitas pabrik serta penghematan konsumsi energi dan bahan consumables seperti konsumsi gas, listrik, dan work roll dengan total penghematan mencapai  Rp. 593 miliar hingga November 2018.

Secara Compound Annual Growth Rate (CAGR), konsumsi baja domestik sejak 2009 – 2017 tumbuh sebesar 7,9% meski sebagian kebutuhan baja masih dipenuhi oleh impor. Kemudian total defisit neraca perdagangan baja menurut data Kementerian Perdagangan Republik Indonesia mencapai USD 30,2 miliar selama lima tahun terakhir.

Selama Januari – September 2018, Krakatau Steel memiliki pangsa pasar Hot Rolled Coil sebanyak 40%, Cold Rolled Coil 24%, dan Wire Rod 7%, sisanya adalah pangsa produsen domestik lain dan impor.

Dalam hal strategi pertumbuhan perseroan, sebagian besar proyek telah diselesaikan oleh Krakatau Steel Group. Fasilitas Blast Furnace Complex telah beroperasi sejak tanggal 20 Desember 2018. “Ini merupakan suatu awal dari rangkaian usaha Perseroan untuk meningkatkan daya saing di sektor hulu, dimana Fasilitas Blast Furnace merupakan teknologi berbasis batu bara. Penggunaan batu bara ini juga akan meningkatkan -eksibilitas penggunaan energi serta mengurangi ketergantungan terhadap gas alam yang diproyeksikan akan terus mengalami kenaikan harga dan keterbatasan”, tambah Silmy.

Proyek lainya yang telah rampung adalah Zero Reformer. Proyek ini mengapdosi teknologi terbaru untuk meningkatkan kapasitas produksi, menurunkan konsumsi gas, dan meningkatkan kehandalan peralatan, kualitas produk dan lingkungan.

Kemudian PT Krakatau Nippon Steel Sumikin, perusahaan yang memproduksi baja Cold Rolled Coil, baja lapis galvanis dan galvanil berkapasitas 500.000 ton per tahun untuk sektor otomotif telah beroperasi komersial sejak 7 Agustus 2018.

Proyek pembangunan Bendungan Cipasaruan yang dioperasikan oleh PT Krakatau Tirta Industri yang bertujuan meningkatkan pasokan air baku sebanyak 750 liter per detik untuk kawasan industri di Anyer dan mengoptimalkan kapasitas Water Treatment Plant (WTP) Krenceng sampai dengan 2.000 liter per detik telah selesai pada 29 Agustus 2018.

Adapun proyek yang masih dalam progres adalah pembangunan Hot Strip Mill #2 yang sudah mencapai 90,23% terhitung per November 2018. Proyek pemasok baja Hot Rolled Coil dengan kapasitas 1,5 juta ton per tahun ini ditargetkan selesai pada April 2019. Dan yang terakhir adalah pembangunan dermaga 7.1 dan 7.2 yang akan dioperasikan oleh PT Krakatau Bandar Samudera. Proyek yang bertujuan melayani kebutuhan bongkar muat curah dengan kapasitas kapal sandar maksimal 70.000 DWT ini telah mencapai progres 68,53% per November 2018 dan ditargetkan selesai pada Mei 2019.

Di samping itu, beberapa langkah strategis telah dilakukan oleh Krakatau Steel. Pada 3 Oktober 2018, perseroan menandatangani MoU untuk suplai produk baja dan jasa terkait dengan beberapa BUMN seperti PT Barata Indonesia (Persero), PT Industri Kereta Api (Persero), PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero), dan PT Boma Bisma Indra (Persero), serta menandatangani Long Term Supply Agreement (LTSA) untuk supply produk Cold Rolled Coil dengan PT Sunrise Steel.

Langkah sinergi dengan BUMN karya pun dilakukan tanggal 23 November 2018 oleh perseroan terkait pengadaan baja untuk pembangunan proyek infrastruktur, yaitu dengan PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Hutama Karya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, dan PT Nindya Karya (Persero), serta di waktu berbeda perseroan bersinergi dengan BUMN lain seperti Pertamina, Jasa Marga, Barata Indonesia, IKI, dan KAI.

Perseroan pun menyuplai baja untuk pembangunan jalan tol Jakarta – Cikampek II yang telah mencapai 154.138 ton dari total kebutuhan 225.000 ton.

Perseroan sedang bekerja sama dengan konsultan manajemen internasional McKinsey & Company untuk restrukturisasi bisnis yang mencakup bisnis induk dan anak perusahaan sebagai upaya untuk terus meningkatkan kinerja dan menjamin kelangsungan usaha perseroan dalam jangka panjang.

 Dilihat : 2042 kali