24 Agustus 2007
Jembatan Baja Tahan Cuaca di UI Selesai

JAKARTA, Proyek jembatan penghubung antara Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Budaya di kampus Universitas Indonesia, Depok, selesai kemarin. Jembatan ini menggunakan material baja yang tahan perubahan cuaca.

Struktur utama jembatan yang mulai dikerjakan pada 7 Juli lalu itu menggunakan baja tahan karat tahan cuaca (weatherlng steel). Adapun bagian atapnya terbuat dari pelat baja merah-putih buatan PT Krakatau Steel, perusahaan yang menyumbang seluruh bahan dan pendanaan jembatan tersebut.

Baja tahan cuaca itu mengandung paduan bahan-bahan khusus, seperti nikel, krom, tembaga, dan fosfor. "Selamanya baja ini tak akan berkarat," kata Ridho Yulianto, manajer proyek jembatan tersebut, kepada Tempo di Depok kemarin.

Adapun baja merah-putih terbuat dari bijih besi yang berasal dari Kalimantan. Proses pemisahan oksigen dari bijih besi, yang disebut juga proses reduksi, telah menggunakan alat-alat buatan Krakatau Steel sendiri. Kandungan nikel dan krom baja Jju hampir sama dengan baja tahan cuaca.

Karena itu, resistensi baja merahputih terhadap korosi juga sama tingginya. Menurut Ridho, bahan ini merupakan material yang masih dalam proses riset dan pemanfaatannya di jembatan yang dinamai TeKSas (singkatan dari teknik sastra) itu adalah yang pertama kalinya.

Jembatan sepanjang 90 meter yang melintas di atas danau buatan itu dibangun dengan bentuk yang unik. Segmen penopang (pylon) dari Fakultas Teknik berbentuk layar menjulang tinggi, menggambarkan lingga atau simbol lelaki berdasarkan mitologi Hindu. "Mayoritas mahasiswa di fakultas ini adalah lelaki," kata Ridho. Adapun pylon dari Fakultas Ilmu Budaya berbentuk gerbang yang melambangkan yoni alias simbol kewanitaan.

Jembatan yang dibangun dengan biaya Rp 4 miliar itu memiliki atap berbentuk riak-riak air, yang melambangkan dinamika Universitas Indonesia sebagai lembaga pendidikan. Bagian atap tersebut akan dikomersialkan sebagai papan reklame. Di tepian danau juga dibangun jalur joging dan sejumlah selter tempat berteduh.

Sumber : Koran Tempo, Page : 12, Friday, 24 August 2007

 Dilihat : 3709 kali