16 November 2017
Industri Baja- Permintaan Lampaui 13,5 Juta Ton

Bisnis Indonesia, 16 November 2017

Jakarta – Permintaan baja tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari 13,5 juta ton, naik 7% dari permintaan pada tahun lalu.

Dirjwn Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan, yang ditemui seusai musyawarah nasional Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (Indonesian Iron and Steel Industry Association/IISIA) pada Rabu (15/11), mengatakan pengerjaan infrastruktur yang masif mengerek pertumbuhan kebutuhan baja. Tahun lalu, realisasi permintaan baja nasional mencapai 12,67 juta ton.

Salah satu tantangan bagi pabrikan baja domestik adalah defisit kapasitas untuk memasok ke seluruh permintaan karena kapasitas terpasang industri baja di dalam negeri masih jauh berada di bawah angka permintaan. Hasilnya, separuh permintaan nasional pada tahun lalu dipenuhi dari impor.

Demand baja di Indonesia masih lebih tinggi dibanding kemampuan supplynya,” ujarnya.

Ketidakseimbangan permintaan dengan kapasitas tersebut mesti segera diatasi. Menurutnya, industri baja perlu terus meningkatkan kapasitas untuk memenuhi kenaikan permintaan baja di dalam negeri setiap tahun.

“Jangan sampai negara kita Cuma nyaman menjadi trader ketimbang manufacturer. Permintaan baja yang menguat jangan membuat kita bergantung terhadap impor, “ ujarnya.

Putu menilai idealnya baja buatan industri dalam negri paling tidak mampi menompang lebih dari separuh permintaan nasional. Dengan demikian, untilisasi pabrikan dapat terangkat pada kisaran yang cukup tinggi.

“Porsi produksi dalam negri mestinya mampu mememnuhi sebagian besar demand tahunan disini. Untilisasi mestinya mencapai 70% - 80%,” ujarnya.

 Putu menyatakan memang impor tak bisa dicegah dalam era persaingan global. Hanya saja, pemerintahan mendorong agar roda manufaktur domestilk dapat memeberikan nilai tambah didalam negri

“Pemerintahan menjaga agar impor bukan tertuju pada barang jadi, melainkan sebatas bahan baku. Su[aya memberikan peningkatan nilai tambah di dalam negri,” ujarnya.

Industri baja perlu meningkatkan efesiensi biaya untuk mendorong daya saing produk. Pemerintah masih mendiskusikan penetapan harga gas yang layak bagi industri strategis tersebut.

“Haraga gas yang paling feasible itu paling tidak US$6 per MMBtu di Plantgate.  Hanya memang harga di tiap lokasi masih berbeda-beda. Ada yang sudah sesuai harga penugasan meski suplainya terbatas,” ujarnya.

 

HARGA STABIL

Sementara itu, produsen baja domestik memperkirakan harga baja bakal tak mengalami fluktuasi yang berarti hingga tahun depan.

Direktur pemasaran PT Karakatau Steel (Persero) Tbk. Purwono Widodo memperikarakan baja hot rolled coil bertahan pada level harga yang relatif tinggi pada tahun depan, yaitu diatas US$550 per ton.

“Harga baja sampi tahun depan kemungkinan stabil pada titik yang cukup tinggi. Kalaupun turun tidak akan sampai ke titik terlemah,” ujarnya. Rabu (15/11).

Penguatan harga baja terjadi berkat penguatan permintaan baja di China. Terlebih, negara tersebut tengah konservatif menurunkan kapasitas produksi domestik dengan menutup pabrik baja di bawah kapasitas 5 juta ton. “Dampaknya langsung meningkat penjualan baja disini.” Ujarnya.

Keberlanjutan penguatan harga baja dalam jangka panjang dapat berdampak negatif karena kenaikan harga pada level tertentu dapat membuat kontraktor menunda pembelian material baja konstruksi.

Banyak kontrak pembelian baja yang masih mengacu kepada harga acuan baja pada thaun lalu tatkala harga baja hot rolled coil relatif rendah, yaitu sekitar US$500 per ton.

“Kalau kenaikan harga sampai melebihi bujet sektor konstruksi, mereka dapat menunda pembelian,”  ujarnya.

 Dilihat : 1250 kali