15 November 2017
Menata Titik Keseimbangan Pasar Baja Nasional

IISIA Pengurus.jpgJakarta (15/11) – Asosiasi industri besi dan baja Indonesia (IISIA) menyelenggarakan Musyawarah Nasional yang ke-3 di Hotel Royal Kuningan Jakarta. Musyawarah ini dihadiri antara lain oleh Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika I Gusti Putu Suryawirawan, Chairman IISIA Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan Muhri, Direktur Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Non B3 Sayid Muhadhar, serta Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Kacaribu.

Chairman IISIA Mas Wig menjelaskan bahwa permintaan baja Indonesia yang terus tumbuh ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik. Sektor-sektor pengguna baja yang terpenting adalah sektor konstruksi dan industri manufaktur. data yang dirilis oleh South East Asia Iron & Steel Institute (SEAISI) hampir seluruh negara ASEAN-Six mencatatkan laju pertumbuhan konsumsi baja 2 digit pada tahun 2016. “Khususnya di negara kita ini, konsumsi baja Indonesia meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dari 11.47 juta ton (finished steel) di 2015 menjadi lebih dari 12.67 juta ton di tahun 2016 (finished steel) atau mencatat pertumbuhan sebesar 11%,” ujar Mas Wig yang juga menjabat Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk.

Dalam sambutannya Putu menyatakan harus terjadi keseimbangan antara permintaan dan ketersediaannya. “Jangan sampai regulasi berpotensi merugikan salah satu pihak. Impor tetap akan dibutuhkan untuk memenuhi produk baja yang belum bisa tersedia di dalam negeri. Namun hal yang sebaliknya juga jika produsen dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan pasar, jangan para pabrikan mengambil produk impor. Hal ini juga salah”, ujar Putu. Ia menyarankan agar dalam forum ini para pelaku baja juga dapat dibahas setiap sektor untuk menghasilkan formula yang terbaik dalam menyikapi permasalahan seperti ini. Ia berharap agar utilisasi baja dapat ditingkatkan hingga mencapai 80 persen dan ditambah dengan adanya upaya pemerintah menggerakkan infrastruktur.

Sementara Direktur Eksekutif IISA Hidayat Triseputro menambahkan, peluang tumbuhnya industri baja nasional cukup besar. Konsumsi baja perkapita kita saat ini masih sangat rendah yaitu 49 kg pada tahun 2016. Namun, dibutuhkan upaya dari semua pihak untuk meningkatkan penggunaan baja. “Sampai hari ini baja impor terus membanjiri pasar domestik kita, tentu kami menyadari bahwa untuk beberapa penggunaan baja spesifikasi tertentu, kami belum dapat sepenuhnya memasok baja yang diperlukan, akan tetapi kami berharap agar kami diberi kesempatan untuk bersaing dengan fair. Praktek mengeskpor baja dengan harga dumping atau dibawah harga yang wajar tidak dapat diterima meski dengan dalil keterbukaan pasar,” ujar Hidayat.

Hidayat juga menambahkan pada kesempatan ini, berupaya mendetilkan bersama asosiasi untuk meningkatkan utilisasi pabrik baja lokal sekaligus mengundang investor masuk dalam menambah kapasitas dalam negeri. Selain itu Musyawah Nasional IISIA ini juga akan mendorong perbaikan regulasi-regulasi yang belum tertata dengan baik untuk keberpihakan kepada produsen baja lokal.

Hasil Musyawarah Nasional IISIA 2017 memutuskan struktur kepengurusan baru IISIA 2017 – 2021 sebagai berikut:

Chaiman

:

Mas Wigrantoro Roes Setiyadi

Vice Chairman 1

:

Ismail Mandry

Vice Chairman 2

:

Djamaluddin Tanoto

Executive Director

:

Hidayat Triseputro

Cluster Nails, Wire, Bolt, Nut, PC Wire, Wire Mesh

:

Ario Setiantoro

Cluster Flat Products

:

Purwono Widodo

Cluster Billet, Rebar, Wire Rod

:

Sri Sundari

Cluster Bloom, Profile, Section

:

Ken Pangestu

Cluster Galvanized Sheet

:

Lenny Tanzil

Cluster Al-Zn Coated

:

Henry Setiawan

Cluster Pipe Products

:

Hardiman

Cluster Coil and Steel Center

:

Dwi Ratna Limin

Cluster Specialty Steel

:

Rajesh

 Dilihat : 1115 kali