09 November 2017
Industri Baja - Permintaan Terus Menguat

JAKARTA – Permintaan terhadap baja domestik terus menguat seiring dengan keberlanjutan tren penguatan harga baja global.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesia Iron and Steel Industruy Association/IISIA) Hidayat Triseputro menyatakan komoditas baja dalam beberapa bulan terakhir berada dalam rentang harga yang cukup tinggi.

“Kalau lihat awal tahun, harganya rata-rata justru mendekati ongkos produksi. Kondisi seperti sekarang ini yang mestinya terus bertahan agar porsi impor bisa terus berkurang,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (8/11).

Menurutnya, kenaikan harga baja yang terjadi tak terlepas dari penguatan permintaan domestik China. Produsen baja terbesar di dunia itu mulai mengantisipasi berbagai kebijakan proteksionisme dengan mulai memangkas kelebihan kapasitas baja.

“ Pengaruh China itu besar sekali terhadap pergerakan harga baja. Harapan kami tentunya sebagian besar kue di Indonesia bisa kita supply sendiri.” Ujarnya.

Asosiasi Baja Dunia (World Steel Association) mencatat volume produksi baja global selama Januari-September tahun ini naik 5,6% dibandingkan dengan tahun lalu menjadi 1,26 miliar ton. Sementara itu, pada periode yang sama tingkat utilisasi produsen baja di dunia naik 2,8%.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Purwono Widodo menyatakan pendapatan perseroan meningkatkan seiring dengan kenaikan harga hot rolled coil, cold rolled coil, long product, dan pipa.

Menurutnya, hot rolled coil sebagai penyumbang pendapatan terbesar perseroan bertahan pada kisaran US$600 per ton dalam beberapa bulan terakhir. Padahal, pada awal tahun kisaran harga HRC berada di kisaran US$520 per ton.

“Kalau dilihat memang masih merugi tetapi terus mengecil. Kalau kita lihat tren baja dunia sekarang terus bagus, mudah-mudahan akhir tahun sudah kami bisa dapat profit,” ujarnya.

Krakatau Steel menargetkan mulai memperoleh laba pada tahun ini dengan menggenjot angka penjualan. Perkuartal ketiga tahun ini, Krakatau Steel mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 5,87% menjadi senilai US$1,04 miliar.

Hanya saja, perseroan masih mencatatkan rugi bersih meski berhasil meningkatkan pendapatan. Krakatau Steel masih mencatatkan rugi bersih senilai US$75,05 juta, turun 34,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai US$114,7 juta.

Purwono menargetkan perseroan dapat memasarkan sebanyak 2,6 juta ton baja pada tahun ini. Pada tahun lalu, perseroan mencatatkan volume penjualan sekita 2,2 juta ton baja.

“Sebetulnya yang sekarang sedang kami kejar itu target penjualan pipa baja karena memang potensial. Banyak proyek konstruksi besar yang membutuhkan pipa baja,” ujarnya.

PERTUMBUHAN PRODUKSI

World Steel Association memproyeksikan permintaan global terhadap produk baja mencapai 1,62 miliar ton pada tahun ini, atau naik 7% dibandingkan dengan tahun lalu.

Dengan catatan, pertumbuhan produksi baja di China sebagai produsen baja terbesar di dunia hanya tumbuh 3% pada tahun ini. China mulai banyak menutup pabrik berteknologi induction furnace dan mulai terkendala efek proteksionisme.

Sementara itu, basis data yang sama memperkirakan permintaan baja di Asean tumbuh 4,8% menjadi sebanyak 77,7 juta ton pada tahun ini. Permintaan baja di Indonesia diproyeksikan melebihi 14 juta ton pada 2018. Adapun permintaan baja di Vietnam diperkirakan menjadi yang tertinggi di Asean dengan menembus 27 juta ton pada tahun yang sama.

Permintaan baja di dalam negeri pada tahun lalu mencapai 12,94 juta ton. Pabrikan dalam negeri memasok sebanyak 6,79 juta ton dari total kebutuhan tersebut meski kapasitas terpasang mencapai 8 juta ton.

Pabrikan baja domestik tertekan dengan beban biaya produksi relatif tinggi tatkala China terus melakukan praktik dumping. Akibatnya, baja impor tak terbendung membanjiri pasar domestik.

Badan Pusat Statistik mencatat nilai impor besi dan baja pada Januari-September tahun ini tercatat senilai US$5,44 miliar, atau naik 23,62% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai US$4,40 miliar.

Sementara itu, volume impor besi dan baja Januari-September tahun ini tercatat sebanyak 9,18 juta ton, atau menurun 3,6% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2016 sebanyak 9,53 juta ton.

Sumber : Bisnis Indonesia 09 November 2017

 Dilihat : 916 kali