25 Oktober 2017
Baja Masih Bergantung Impor

JAKARTA, KOMPAS – Pertumbuhan ekonomi yang membaik berdampak pada peningkatan kebutuhan baja di dalam negeri. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5 persen, kebutuhan baja akan mencapai 17 juta ton hingga 20 juta ton pada 2015.

Dengan kebutuhan sebesar itu, pemerintah menargetkan sekitar 70-80 persen pasokan baja berasal dari industri di dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia tak bergantung pada produksi baja impor.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronik kementrian perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan di Jakarta, Selasa (24/10), mengatakan, saat ini Indonesia hanya bisa memenuhi sekitar 50 persen dari kebutuhan 12 juta ton -  13 juta ton baja per tahun.

Sekitar 40 persen kebutuhan baja Indonesia saat ini dipenuhi dari China, sebagai importir terbesar.

Baja merupakan komponen penting bagi dunia industri, properti, dan sektor pembangunan lainnya. Putu mengatakan, kebutuhan baja perkapita menjadi salah satu indikator perekonomian suatu negara.

Ia mencontohkan, saat ini Indonesia memiliki kebutuhan baja 30 kilogram (kg) per kapita per tahun. Sementara kebutuhan di Malaysia mencapai 300 kg per kapita per tahun dan di Korea Selatan mencapai 1 ton per kapita per tahun.

”Industri baja itu induk dari semua industri. Kebutuhan itu akan selalu ada. Negara memiliki banyak proyek besar. Oleh karena itu, kita harus bisa mandiri dalam hal pemenuhan kebutuhan baja” kata putu.

Terkait upaya memenuhi kebutuhan baja dari dalam negeri, Putu mengatakan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan beberapa perusahaan baja swasta di Indonesia ditargetkan dapat memenuhi kebutuhan 10 juta ton baja di dalam negeri pada 2025. “Dari Industri baja swasta di Marwali (Aulawesi Tenggara), nantinya akan menghasilkan 3,5 juta ton per tahun,” ujarnya.

General Manager Research & Technology Krakatau Steel M Yusuf Marhaban mengatakan, pembangunan pabrik baja lembaran panas yang kedua di kluster Cilegon saat ini sudah lebih  25 persen. Diperkirakan, pembangunan pabrik ini bisa selesai sesuai jadwal pada 2019. Pabrik ini akan menghasilkan 1,5 juta ton baja.

“Jika sesuai rencana, nanti kapasitas baja lembaran panas yang dihasilkan akan ditambah menjadi 3 juta ton di tahun 2021,” ujarnya.

Yusuf mengatakan, pabrik baja lembaran panas yang beroprasi saat ini menghasilkan 2,4 juta ton per tahun. Krakatau Steel menargetkan penambahan produksi menjadi 4 juta ton di 2025. “Hal ini kami lakukan untuk menekan defisit dengan baja kita sehingga kita tidak terlalu bergantung kepada impor.” Ujar Yusuf.

sumber : Kompas, 25 Oktober 2017

 Dilihat : 832 kali