24 Mei 2017
Indonesia Bebas Impor Baja 2025

Jakarta – Indonesia segera memiliki kapasitas produksi baja yang cukup besar untuk tidak lagi tergantung pada produk baja impor. Itu dimungkinkan dengan adanya kluster industri baja Cilegon yang mampu memproduksi 10 jut aton baja pada 2025.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, konsumsi baja nasional tahun lalu mencapai 12,67 juta ton, naik dari tahun 2015 yang hanya mencapai 11,37 juta ton. Padahal, industri baja dalam negeri baru mampu memproduksi sekitar 8 juta ton baja per tahun. Tambahan produksi dari kluster industri baja di Cilegon diyakini cukup untuk memenuhi kebutuhan baja nasional di masa mendatang. “Industri baja merupakan salah satu prioritas yang tengah kami kembangkan. Sektor ini sebagai mother of industry karena produknya merupakan bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri lain,” kata Direktur Jenderal Industri Logam Mesi Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) I Gusti Putu Suryawirawan pada acara Steel Conference 2017 di Jakarta kemarin.

Pengembangan industri ini penring mengingat kebutuhan baja akan terus meningkat seiring tumbuhnya perekonomian. Pertumbuhan ekonomi diyakini terus membaik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2017 mencapai 5,01% naik dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I/2016 sebesar 4,92%. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan lebih tinggi, yakni di kisaran 5,2-5,4%. Kemenperin meyakini pertumbuhan tersebut merupakan sinyal baik bagi perkembangan pasar baja domestik.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (PT KS) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan, PT KS bekerja sama dengan perusahaan baja asal Korea, Posco, mengembangkan kluster industri baja di Cilegon. Kluster industri baja dengan kapasitas produksi 10 juta ton tersebut menyedot investasi hingga USD4 miliar. “Kawasan industri Krakatau Steel di Cilegon saat ini ditempati oleh industri baja terpadu, yakni PT KS dan PT Krakatau Posco (perusahaan patungan PT KS dan Posco),” paparnya.

Saat ini, kapasitas produksi PT KS digabungkan dengan PT Krakatau Posco telah mencapai 4,5 juta ton dan segera meningkat dengan beroperasinya pabrik HSM #2 yang berkapasitas 1,5 juta ton pada akhir 2019. Dengan begitu, total kapasitas produksi akan mencapai 6 juta ton. “Artinya, hanya perlu menambah 4 juta ton untuk mencapai proyek 10 juta ton dari kluster tersebut,” ujar Mas Wigrantoro.

Kluster baja Cilegon ini akan menghasilkan baja gulungan untuk konstruksi, baja lembaran untuk peralatan rumah tangga, perkapalan, mobil, hingga baja lembaran berkualitas tinggi. Kluster industri baja yang akan selesai di 2025 ini siap menggantikan 70-80% baja impor.

CEO Posco Oh-Joon Kwon menambahkan, kluster industri baja Cilegon akan menyerap tenaga kerja 420.000 orang sekaligus mendorong produksi senilai USD6,8 miliar dengan peningkatan PDB sekitar 0,4%. “Kami siap berkontribusi untuk kemajuan industri di Indonesia,” tegasnya.

Di bagian lain, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, industri baja di dalam negeri diarahkan pada pengembangan produk khusus bernilai tambah tinggi. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan indsutri pengguna baja seperti sektor automotif, perkapalan, maupun perkeretaapian yang sebagian besar masih diimpor.

“Pertumbuhan industri pengguna abaja di Indonesia pun terbilang cukup baik,” tandasnya.

Selain diserap oleh sektor industri untuk kebutuhan produksi, baja juga dibutuhkan sebagai komponen utama dalam sektor infrastruktur secara luas yang meliputi bangunan dan properti, jalan, dan jembatan, telekomunikasi, serta ketenagalistrikan.

Dikutip dari: Koran Seputar Indonesia, Rabu, 24 Mei 2017, penulis: Oktiani Endarwati

 Dilihat : 2701 kali