05 April 2017
PRODUKSI BAJA - Permintaan Terus Meningkat

JAKARTA — Produksi baja dunia terus menanjak terdorong perbaikan permintaan. Namun, tren kenaikan produksi membuat produsen Indonesia mempertanyakan komitmen China mengurangi produksi.

Data Worldsteel menunjukkan produksi baja 67 negara dunia naik 4,1% year on year menjadi 126,6 juta ton pada Februari. Produksi baja China pada bulan yang sama naik 4,6% menjadi 61,2 juta ton dibandingkan tahun lalu.

Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Hidayat Triseputro mengatakan produsen baja global menggenjot produksi mengikuti tren kenaikan permintaan.

“Dan Segi pasar memag ada perubahan, Ada tren Peningkatan. Kami berharap akan membaik terus,” katanya ke pada Bisnis, belum lama ini.

Kenaikan permintaan juga terjadi di Indonesia. Produsen baja di Tanah Air merasakan konsumsi baja terdorong oleh peningkatan kebutuhan material proyek konstruksi.

Pemacu utama peningkatan konsumsi baja adalah realisa si proyek. proyek infrastruktur pemerintah, yang memicu Produsen menggen jot produksi baja struktur.

“Permintaan baja struktur naik terkait dengan proyek-proyek. Permintaan dari proyek Sangat signifikan makanya produsen naikkan pasokan,”katd Hidayat

GENJOT PRODUKSI

Sementara ¡tu, Direktur Marketing PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Dadang Danusiri membenarkan kenaikan permintaan signifikan pada produk baja struktur, terutama baja tulangan beton atau reinforced bar (rebar).

Dia menjelaskan proyek infrastruktur yang permintaannya paling tinggi adalah proyek- proyek pembangunan jalan tol, termasuk rencana pembangunan jalur layang di lintas tol Jakarta—Cikampek.

Krakatau Steel, jelasnya, mulai menggenjot produksi untuk memenuhi pesanan 200.000 ton baja besi beton. Dadang mengatakan proses pengiriman pertama dijadwalkan pada Mei.

Dadang memastikan harga produk baja besi beton stabil meskipun permintaan naik signifikan karena kapasitas produksi Indonesia dan global masih memadai.

Namun, kenaikan harga sulit dihindari pada kategori produk baja lembaran seperti baja canai panas (hot rolled coil) karena kapasitas produksi global masih terbatas.

Sementara itu, Hidayat menyatakan akan kembali mempertanyakan tren kenaikan produksi baja di China kepada asosiasi produsen baja dari negara tersebut.

Dia menjelaskan asosiasi produsen baja China (CISA) sebelumnya telah berkomitmen untuk menekan produksi dan mengurangi ekspor baja ke Asean.

“China sudah komitmen kurangi pasokan ke Asean-6 tetapi ternyata produksinya masih meningkat, masih tinggi. Kami akan kembali minta agar komitmen mereka jadi kenyataan," kata Hidayat. (Demis Rizky Gosta)

sumber : Bisnis Indonesia - 05 April 2017

 Dilihat : 1802 kali