03 Dessember 2007
Industri Baja Kian Merana

JAKARTA. Ibarat makan buah simalakama. Itulah yang kini dirasakan para produsen baja lapis seng dan pipa baja. Mereka tergencet dari dua sisi, melambungnya harga minyak dunia dan serbuan barang impor dari India dan China yang lebih murah ketimbang produk lokal.
Produsen baja lapis seng sudah menaikkan hargajual awal November lalu mengekor lonjakan harga minyak. Namun, keputusan tersebut justru memicu makin derasnya arus impor produk-produk seng di bawah standar yang lebih murah. Seng impor hanya punya ketebalan 0,16 mm, sedang produk lokal 0,2 mm.

"Kondisi kami makin sulit. Kalau tidak menaikkan harga kami akan rugi karena biaya energi dan ongkos transportasi kini sudah naik cukup signifikan. Tapi sejak kami menaikkan harga, impor seng nonstandar makin banyak masuk ke dalam negeri," kata Ketua Umum Gabung Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) Ruddy Syamsuddin kepada KONTAN, Jumat (30/11).

Mulai awal November, harga seng dengan ketebalan 0,2 mm naik menjadi Rp 35.000 per lembar dari Rp 30.000. Sejak harga jual naik, pasar dalam negeri kian dibanjiri produk seng di bawah standar dari China dan India. Modus yang biasa dipakai importir seng nonstandar adalah memberi stempel SNI wajib pada produk yang diimpor. Tapi pemerintah tak berdaya. "Sayangnya Bea Cukai tidak punya wewenang menahan karena SNI wajib seng belum dinotifikasi ke WTO," kata Ruddy.Ruddi menuturkan, produk seng nonstandar itu jadi primadona lantaran harganya yang murah dibanding produksi lokal yang memenuhi SNI. "Berdasarkan data kami, pangsa pasar seng nonstandar di dalam negeri naik signifikan sejak kami menaikkan harga. Kini pangsa pasarnya sudah 50%, artinya sudah fifty-fifty dengan produksi yang standar," jelas Ruddy.
Maraknya peredaran produk seng nonstandar itu akan berdampak buruk terhadap kegiatan produksi BjLS dalam negeri. Bahkan, bila kondisi itu terus dibiarkan berlangsung, maka nasib produsen BjLS dalam negeri kemungkinan besar bakal tutup cerita."Kalau sampai tahun 2008 kondisinya masih seperti ini terus, maka banyak perusahaan anggota kami yang akan menutup usaha," ujar Ruddy.

Produsen pipa baja ikut menjerit Kondisi serupa juga dialami produsen pipa baja, kendati belum menaikkan harga jual. "Agak sulit juga, tidak menaik
kan menaikkan harga saja susah bersaing dengan pipa impor. Apalagi kalau harganya kami naikkan," kata Wakil Ketua Gabungan Pabrik Pipa Baja Indonesia (Gapipa) Untung Yusuf.Sebenarnya, ujar Untung, kondisi kini memaksa produsen pipa baja dalam negeri menaikkan harga. Tapi lantaran takut kalah bersaing dengan pipa baja impor, mereka pun lebih memilih strategi memangkas margin. "Jadi sampai saat ini belum ada kenaikan harga," kata Untung.

Sumber : Harian Kontan, Page : 18 

 

 Dilihat : 4075 kali