09 Januari 2017
PERINDUSTRIAN - Infrastruktur Dorong Konsumsi Baja Domestik

JAKARTA, KOMPAS — Krakatau Steel optimistis menggarap pasar dalam negeri pada 2017. Hal ini seiring pertumbuhan kebutuhan baja, terutama di proyek infrastruktur dan pembangunan perumahan di Indonesia.

“Kami optimistis mampu menjual 300.000 ton Iebih hanyak dibandingkan dengan penjualan tahun lalu yang sekitar 2,3 juta ton,” kata Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Sukandar di Jakarta, pekan lalu.

Sukandar mengatakan, peningkatan penjualan berasal dari pasar baru di sektor infrastruktur dan permintaan material bangunan. Ekspor baja KrakatauI Steel berkisar 10.000-15.000 ton per bulan. Perseroan berupaya memenuhi sebanyak mungkin kebutuhan baja domestik untuk mengurangi impor.

Merujuk data Kementerian Perdagangan dan United Nations Conference on Trade and Development, defisit perdagangan baja Indonesia tahun 2013 sebesar 8,9 miliar dollar AS Defisit perdagangan baja Indonesia tersebut turun menjadi 7,2 miliar dollar AS pada 2014 dan 6,8 miliar dollar AS pada 2015.

Sukandar menuturkan, Krakatau Steel sedang berinvestasi besar dan berharap ada keberpihakan pada baja. “Terutama untuk HRC (baja canai panas/hot rolled coil), CRC (baja canai dingin/cold roller coil), dan wire rod (baja batangan) yang sedang parah karena dibanjiiri barang impor,” katanya.

la meyakini, akan terjadi penghematan akibat penurunan harga gas, yakni dari 7,3 dollar AS menjadi sekitar 6 dollar AS per juta metrik british thermal unit (MMBTU), yang diterima Krakatau Steel per Januari 2017.

Harga gas

Ditanya mengenai daya saing terhadap produsen baja di luar negeri yang selama ini mendapat harga gas lebih murah, Sukandar mengatakan, Krakatau Steel mampu berkompetisi. “Bisa di bayangkan kalau kami tidak bisa bersaing, mana bisa kami mampu menjual 2,3 juta ton setahun? Angka ita bukan angka kecil,” katanya.

Informasi yang didapat Kompas dari Krakatau Steel pada Maret 2016 lalu menyebutkan, pabrik baja di India membayar gas alam hanya 3,82 dollar AS per MMBTU.

Harga gas per MMBTU di Malaysia 4,47 dollar AS, Singapura 4 dollar AS, Vietnam 4,24 dollar AS, Myanmar 5 dollar AS, dan Filipina 5,43 dollar AS. Sementana ¡tu, di Indonesia, Krakatau Steel harus membayar 7,30 dollar AS untuk suplai dari Pertamina dan 9.87 dollar AS dari PGN.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, tahun ini terus dilakukan pendalaman struktur industri, dorongan bagi industri kecil dan menengah, dan penjagaan pasar domestik serta ekspor.

Menurut Airlangga, industri kecil dan menengah alat pertanian pun kini mendapat dukungan pasokan bahan baku dari Krakatau Steel. “Ujungnya. saya sudah bicara dengan Menteni BUMN, ada peta jalan 10 juta ton kapasitas Krakatau Steel, termašuk untuk menyuplai otomotif tahun ini,” katanya. (CAS)

sumber : KOMPAS - 09 Januari 2017

 Dilihat : 2866 kali