05 Januari 2017
PASAR BAJA - Pengurangan Produksi di China Buka Peluang

JAKARTA — Pengurangan produksi baja di China diyakini dapat memberikan peluang bagi pabrikan baja di negara lain, termasuk pemasok dari Asia Tenggara.

International Relations Director Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Purwono Widodo meyakini pengurangan produksi diChina akan memperbaiki pasar baja regional dan memperbaiki harga baja ke tingkat yang Iebih wajar.

“Baja impor dari China tidak lagi murah yang kemudian dapat berpotensi dumping. Sepanjang jumlah produksi baja dari negara itu tidak berlebih, maka tidak terlalu mengganggu baja dalam negeri,” katanya kepada Bisnis, Selasa (3/1).

Purwono mengatakan salah satu pemicu kenaikan harga baja juga disebabkan oleh peningkatan harga dua bahan baku utama baja, yaitu coking coal dan iron ore yang naik mencapai US$100 per ton.

Impor baja Indonesia dari China pada Januari - Agustus 2016 naik sekitar 45% yang didominasi oleh baja tulangan sebesar 2,5 juta ton.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal South East Asia lron and Steel Institute (Seaisi) Tan Ah Yong mengatakan asosiasi baja dunia, Worldsteel, memprediksi konsumsi baja China akan melemah hingga 2% pada tahun ini menjadi 652,3 juta ton.

Pada 2016, lanjutnya, industri baja di negara Asean-6 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan Vietnam) dapat bernapas lega karena harga yang mulai membaik pada kuartal 1.

Industri juga diuntungkan oleh kenaikan permintaan baja di pasar Asean-6 sebesar 19,3% menjadi 39,3 juta ton. Berdasarkan perhitungan Seaisi, perdagangan baja di Asean naik 14% pada tujuh bulan pertama tahun lalu menjadi 1,73 juta ton.

Adapun impor tertinggi dilakukan oleh Indonesia yaitu 228.317 ton dengan kenaikan sebesar 77%. Namun, pada waktu yang sama Indonesia juga paling dominan dalam mengekspor hot rolled plate (HRP) yang mencapai 122.542 ton, melonjak tiga kali lipat dibandingkan dengan 2015.

Sementara itu, produk baja berupa steel plate berpotensi besar untuk diekspor karena kapasitas produksinya yang besar dibandingkan dengan kebutuhan dalam negeri, terutama dengan beroperasinya PT Krakatau Posco. (Nindya Aldila)

sumber : Bisnis Indonesia, 04 Januari 2017

 Dilihat : 1849 kali