21 Dessember 2016
Krakatau Steel Raih Penghargaan Industri Hijau Level 5

Krakatau Steel Raih Penghargaan Industri Hijau Level 5 (1).jpg

Kementerian Perindustrian meluncurkan standar industri hijau (SIH) untuk 17 jenis industri. Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, SIH akan diberlakukan secara wajib ketika semua infrastruktur dan pelaku industri telah siap. SIH disusun berdasarkan Krasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) digit lima yang memuat ketentuan soal bahan baku bahan penolong, energi, proses produksi, produk, manajemen pengusahaan, dan pengelolan limbah. Sejak 2014 konsensus atas SIH tercapai untuk 17 jenis industri, yaitu semen Portland, ubin keramik, pulp dan kertas, susu bubuk, pupuk buatan tunggal hara makro primer, pengasapan karet, karet remah, tekstil pencelupan, pencapan dan penyempurnaan, gula kristal putih, kaca pengaman diperkeras, barang dari kaca, kaca lembaran, penyamakan kulit, pengawetan kulit, baja flat product, dan baja long product.

Dalam Penghargaan Industri Hijau yang telah diadakan oleh Kementerian Perindustrian setiap tahun, pada Penghargaan Industri Hijau Ke-7 tahun ini Krakatau Steel berhasil meraih Penghargaan Industri Hijau Level 5. Penghargaan ini diberikan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto kepada Direktur Utama Krakatau Steel Sukandar pada Selasa, 20 Desember 2016 di Ruang Garuda, Kementerian Perindustrian, Jakarta.

Penghargaan Industri Hijau Level 5 adalah penghargaan tertinggi kepada perusahaan yang mampu menerapkan prinsip-prinsip industri hijau pada proses produksinya. Penghargaan ini diberikan melalui proses seleksi yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian dengan penilaian yang dinilai dari aspek produksi dengan bobot 70%, aspek pengelolaan limbah sebesar 20%, serta aspek manajemen perusahaan dengan bobot 10%. Penghargaan industri hijau level 5 diberikan kepada 65 perusahaan industri besar dan 5 perusahaan industri menengah. Sedangkan penghargaan industri hijau level 4 diberikan kepada 57 perusahaan industri besar, 7 perusahaan industri menengah, dan 1 perusahaan industri kecil.

Airlangga mengatakan SIH penting bagi industri sebagai tolok ukur dalam peningkatan daya saing. Standar ini dapat menjadi pedoman bagi perusahan dalam menjalankan proses produksi yang efisien dan ramah lingkugan. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian Haris Munandar mengatakan SIH diperlukan sebagai alat ukur untuk mengetahui sejauh mana prinsip industri hijau telah diterapkan. Pengembangan industri hijau bertujuan meningkatkan efisiensi penggunaan energi yang dapat menurunkan emisi gas rumah kaca. (WI)

 Dilihat : 3702 kali