20 Dessember 2016
Paparan Publik 2016 PT Krakatau Steel (Persero) Tbk

Public Expose KRAS 2016.jpg

Jakarta - (20/12). PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) optimis dalam perbaikan kinerjanya seiring dengan adanya pemulihan harga baja dunia yang diikuti dengan penggunaan baja KRAS untuk proyek-proyek infrastruktur nasional.

Direktur Utama Krakatau Steel Sukandar menyatakan bahwa perbaikan kondisi bisnis baja nasional di tahun 2016 ini terjadi seiring membaiknya kondisi pasar baja internasional selama tahun 2016, setelah mengalami penurunan selama tahun 2014 – 2015 dan menyentuh titik terendah di Desember 2015.

“Penguatan harga baja selama tahun 2016 dipicu oleh meningkatnya permintaan di China yang disebabkan faktor restocking persediaan dan menguatnya permintaan dari sektor konstruksi perumahan. Rencana pemerintah China untuk mengurangi produksi baja sebesar 100 – 150 juta ton dalam 5 tahun ke depan turut memberi sentimen positif bagi penguatan harga baja global,” ungkap Sukandar.

Permintaan baja HRC di pasar domestik tumbuh sebesar 12,8% Year-on-Year (YoY) menjadi 3,1 juta ton selama periode Januari – September 2016 (M9 2016).

KRAS telah memperkuat struktur permodalan dengan melakukan rights issue yang berhasil mengumpulkan dana senilai Rp1,875 triliun melalui Penawaran Umum Terbatas (PUT), di mana 66% dana akan digunakan untuk proyek pembangunan pabrik HSM #2 dan sisanya untuk pembangunan PLTU Batubara berkapasitas 1x150 MW. Aksi korporasi ini juga akan menambah ruang leverage Perseroan dalam memenuhi kebutuhan permodalan kedepan.

Lebih lanjut, Sukandar menambahkan, Perseroan melalui anak perusahaan telah melakukan pengiriman pertama produk baja profil untuk proyek jaringan transmisi 46.000 KMS dari PLN pada tanggal 26 Oktober 2016. Pembangunan jaringan transmisi tersebut, yang merupakan bagian dari proyek pembangkit listrik 35.000 MW PLN, membutuhkan baja profil sebesar total 800.000 ton dalam jangka waktu 4 tahun ke depan, di mana 100.000 ton pertama untuk periode November 2016 – November 2017. Selain itu Perseroan juga akan memasok kebutuhan baja untuk proyek jalan tol Jakarta – Cikampek II (Japek II) sepanjang 36 km. Proyek tersebut ditargetkan selesai dalam 21 bulan dengan kebutuhan baja sebesar 250 ribu ton yang direncanakan akan disuplai dalam 10 bulan pertama sejak awal tahun 2017.

“Perbaikan harga baja internasional serta kuatnya permintaan baja dari domestik menjadi momentum bagi produsen baja dalam memperbesar pertumbuhan. Untuk itu KRAS fokus pada peningkatan kapasitas dan daya saing serta peningkatan produk bernilai tambah. Pada Agustus 2016, KRAS telah melakukan ground breaking Pabrik Lembaran Baja kedua (HSM #2) yang akan menambah kapasitas produksi sebesar 1,5 juta ton/tahun di tahun 2019. Sementara itu, pabrik Blast Furnace yang ditargetkan mampu memangkas biaya produksi produk baja akan mulai beroperasi di awal tahun 2017,” lanjut Sukandar.

Perseroan telah menyelesaikan proses di area coil yard dan saat ini dalam proses penyelesaian pondasi area main bay di proyek HSM#2. Terkait proyek Blast Furnace, Perseroan telah memulai proses pemanasan pabrik coke oven plant Blast Furnace mencapai suhu 950°C hingga Februari 2017 sebagai bagian dari persiapan proses first blow in Blast Furnace.

Perseroan melalui anak perusahaan, PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (PT KIEC), saat ini sedang mengakuisisi lahan di daerah Anyer untuk dikembangkan menjadi kawasan industri ketiga seluas ±500 ha. Pengembangan lahan (cut and filled) untuk 100 ha pertama ditargetkan akan dilaksanakan pada triwulan-4 2017 dan sudah mulai dipasarkan pada triwulan-1 2018.

PT KIEC juga sedang menjajaki kemungkinan pengembangan kawasan industri baru di kawasan Bojonegara dan Subang melalui sinergi dengan dua anak perusahaan BUMN lain. Rencana tersebut saat ini sedang dalam kajian kelayakan.

Kinerja M9 2016

Produk KRAS masih mendominasi pangsa pasar baja di Indonesia. volume penjualan Perseroan di 9M2016 tumbuh 22,25% Year-on-Year (YoY) menjadi 1,68 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,37 juta ton. Kenaikan produk baja Perseroan tersebut disumbang oleh HRC yang tumbuh 40,76% menjadi 891 ribu ton, CRC tumbuh 6,49% menjadi 409 ribu ton dan produk pipa baja yang tumbuh 61,38% menjadi 60,3 ribu ton.

Tingginya pertumbuhan volume penjualan ini karena meningkatnya konsumsi baja domestik sebagai dampak dari proyek-proyek infrastruktur yang digenjot pemerintah dan upaya pemerintah dalam melindungi baja lokal.

Peningkatan volume penjualan Perseroan berimbas terhadap kinerja keuangan. Laba kotor Perseroan di 9M-2016 tercatat sebesar USD138 juta naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih membukukan kerugian bersih USD20,89 juta. Begitu juga dengan laba operasi Perseroan yang tercatat sebesar USD28,8 juta meningkat dibandingkan kondisi priode yang sama tahun lalu yang masih mencatatkan rugi operasional sebesar USD118,34 juta. Perbaikan pada laba operasional tersebut membuat EBITDA Perseroan di 9M-2016 meningkat menjadi USD96,92 juta dari sebelumnya minus USD69,19 juta.

 Dilihat : 1660 kali