01 Dessember 2007
Harga Baja Melambung 42,8%

JAKARTA-Harga baja lapis seng (BjLS) berukuran 0,2 milimeter terus melambung 42,8% dalam sebulan terakhir akibat tekanan beruntun kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri yang pada Desember akan kembali naik hingga 21,7% dibandingkan periode November 2007.
Pada awal November, harga seng baja masih relatif stabil di kisaran Rp 24.500 per lembar.

Namun, untuk awal Desember harga BjLS sudah mendekati Rp 35.000 per lembar.Ketua Umum Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) Ruddy Syamsuddin menjelaskan, penyesuaian harga BBM industri yang akan diberlakukan dua minggu sekali terbukti membawa efek berantai sehingga memaksa produsen seng baja nasional menaikkan harga jual. "Sejumlah pelaku sektor manufaktur menempuh cara-cara pragmatis untuk bertahan dalam jangka pendek. Salah satunya dengan menaikkan harga ke konsumen," katanya di Jakarta, Jumat (30/11).Menurut dia, kenaikan harga jual itu terpaksa ditempuh mengingat semakin membengkaknya ongkos produksi industri seng nasional akibat peningkatan biaya energi dan ongkos transportasi. "Total struktur biaya produksi industri seng nasional naik sekitar 25% setelah didera kenaikan harga BBM industri tiga kali berturut-turut sejak September lalu," paparnya.

Pertamina mulai 1 Desember 2007 kembali menaikkan harga BBM industri hingga 21,7% dibandingkan periode November. Kenaikan harga BBM itu mengacu pada patokan harga Singapura (Means of Platts Singapore! MOPS) yang naik sekitar Karena itu, per 1 Desember, harga premium menjadi Rp 7.451 per liter, minyak tanah Rp 8.348, minyak solar transportasi Rp 8.300, minyak solar industri Rp 7.940, minyak diesel Rp 7.700, minyak bakar Rp 5.751, dan Pertamina Dex Rp 8.450.Sebelumnya, per 1 November, harga premium masih Rp 6.389 per liter, minyak tanah Rp 6.861, minyak solar transportasi Rp 7.161, minyak solar industri Rp 6.850, minyak diesel Rp 6.642, minyak bakar Rp 4.776, dan Pertamina Dex Rp 7.268.
Kenaikan beruntun itu dinilai semakin memukul industri seng baja nasional. Apalagi, daya serap pasar dalam negeri diyakini belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut diyakini memicu makin maraknya peredaran produk-produk seng di bawah standar (dengan ketebalan hanya 0,17 mm) yang lebih murah.

Mengkhawatirkan, Ruddy Syamsuddin menambahkan, peredaran BjLS nonstandar selama berlangsungnya kenaikan harga' BBM industri kian mengkhawatirkan. Menurut perhitungan Gapsi, peredaran BjLS nonstandar telah mencapai di atas 50% dari total produksi tahunan yang merata sekitar 325.000 ton."Industri mengalami situasi dilema yang sangat kronis. Kalau tidak dinaikkan, produsen semakin merugi. Kalau margin dipangkas, kerugian yang ditimbulkan semakin besar. Lama-lama semua perusahaan kami bisa bangkrut," ujarnya.

Kondisi serupa dialami industri pipa baja nasional. Namun, Wakil Ketua Umum Gabungan Industri Pipa Baja Indonesia (Gapipa) Untung Yusuf mengatakan, produsen pipa baja cenderung memilih cara memangkas margin keuntungan untuk menjaga kestabilan pasar. Langkah tersebut ditempuh untuk membendung pipa impor murah asal Tiongkok."Kalau kami menaikkan harga, produksi dalam negeri semakin tak bisa mengimbangi impor murah. Artinya, kami hanya bisa mengorbankan margin keuntungan. Sebab, saat ini harga pipa impor dengan produk lokal berselisih 20-30% lebih murah," katanya.Untuk menjaga agar industri pipa dan seng baja dalam negeri tetap stabil, Untung dan Ruddy sepakat agar pemerintah memperketat pengawasan perdagangan. Selain itu, pemerintah perlu melindungi industri hilir baja dari serbuan produk murah dengan meningkatkan bea masuk.

Sumber : Andryanto Suwismo, Investor Daily Indonesia, Page : 13

 

 Dilihat : 3142 kali