24 Agustus 2007
Industri baja terancam rontok, Penghapusan BM baja berdampak serius

JAKARTA: Eksistensi industri baja hulu nasional, khususnya produsen hot rolled coil (HRC/baja gulungan panas), terancam rontok akibat kebijakan pemerintah menghapus bea masuk (BM) produk tersebut yang sebelumnya dikenai tarif 5%.

Mayoritas pelaku usaha di industri baja yang tergabung di dalam Gabungan Asosiasi Produsen Besi dan Baja Indonesia (Gapbesi) menilai keputusan penghapusan BM itu bakal memicu impor secara besar-besaran produk HRC murah asal China.

Jika hal tersebut terjadi, HRC yang diproduksi PT Krakatau Steel produsen HRC terbesar di Indonesia akan kalah kompetitif terhadap produk serupa asal China yang dijual murah.

Pada akhir pekan lalu Menteri Keuangan menghapus tarif bea masuk produk HRC melalui Peraturan Menkeu No. 85/PMK.011/ 2007. Peraturan tersebut berlaku selama enam bulan terhitung sejak 7 Agustus 2007.

Berdasarkan catatan Bisnis, pada semester 1/2007 total produksi HRC di dalam negeri produksi PT KS dan PT Gunung Garuda menunjukkan gejala kemerosotan, dari 800.850 ton menjadi 673.135 ton, atau anjlok 15,8% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Hal ini disebabkan faktor teknis yakni adanya perbaikan rutin (overhaul) di pabrik milik PT KS.

Penurunan produksi ini tentu saja menyebabkan kemerosotan ekspor HRC pada semester 1/2007, dari 116.634 ton (semester 1/2006) menjadi 90.609 ton.

Kendati importasi HRC pada paruh pertama 2007 masih terkendali, peredarannya di dalam negeri dapat mengancam pasar yang selama ini dikuasai KS karena sebagian produk impor asal China dijual dengan harga murah. Kondisi pasar seperti ini bisa menyebabkan utilisasi produksi pabrik KS anjlok pada tahun depan.

Bea masuk impor HRC yang kini dihapuskan itu mencakup produk dengan nomor HS 7208.27.00.00 dan 7208.39.00.00. Keduanya merupakan produk baja tipis dengan ketebalan 2 milimeter (mm).

"Kami sudah mengajukan protes ke Depperin [tentang keputusan penghapusan tarif BM], tapi pengambil keputusan kan ada di Depkeu," kata Ketua Umum Gapbesi Daenulhay kepada Bisnis, baru-baru ini.

Menurut dia, Gapbesi akan melayangkan protes keras atas penghapusan bea masuk HRC kepada Depkeu. "Kami menyimpulkan, kebijakan pemerintah ini keliru."

Cukup terkendali Dia menjelaskan pada paruh pertama 2007 impor HRC dan CRC dari China masih relatif terkendali karena nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah.

"Kondisi itu membuat konsumen cenderung menahan impor karena khawatir merugi akibat selisih kurs yang lumayan tajam. Sebaliknya harga produk domestik jadi lebih kompetitif, jadi pasar nggak terlalu terganggu oleh impor dari China," kata Daenulhay yang juga Dirut PT Krakatau Steel.

Saat ini harga baja di dalam negeri relatif bagus, yakni sekitar US$500 hingga US$550 per ton. Selama harga baja di atas US$500, papar dia, kenaikan harga energi terutama gas industri yang mencapai US$5,5 per juta Btu tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap kinerja industri baja nasional.

Tetapi, lanjutnya, aktivitas impor HRC dari China berpotensi meningkat tajam pada semester II menyusul kebijakan penghapusan bea masuk. "Bahkan, berdasarkan informasi, pada September akan terjadi serbuan impor HRC murah asal China sekitar 10.000 ton."

Kondisi industri di dalam negeri bisa semakin parah mengingat hingga sekarang pemerintah belum mampu menekan peredaran produk baja nonstandar yang mayoritas diduga berasal dari China.
 
Sumber: Bisnis Indonesia, Wednesday, 22 August 2007

 Dilihat : 5080 kali