27 Oktober 2016
IMPOR BISA TURUN US$ 1 MILIAR-KS Siap Operasikan Lagi Pabrik Baja Hulu

27 Oktober 2016 - Oleh Rahajeng Kumuso

Cilegon – Krakatau Steel Tbk (KS) siap mengoperasikan lagi tiga pabrik baja hulu, jika harga gas turun ke level US$ tiga per million matric british thermal unit (mmbtu) dari saat ini US$ 7,3 mmbtu. Tiga pabrik itu adalah pabrik besi spons (sponge iron), baja lembaran setengah jadi (slab) dan baja batangan setengah jadi (Billet).

Ketiga pabrik itu terpaksa ditutup KS pada 2014, menyusul mahalnya harga Gas dan jebloknya harga dunia. Ini merupakan salah satu strategi KS untuk memperbaiki kinerja. Gas digunakan dalam proses produksi besi spons, dengan sistem direct reduction. KS, yang merupakan perusahaan baja terbesar di Indonesia, tengah membangun pabrik besi baru dengan sistem tanur tinggi (blast furnace/BF).

Direktur Utama KS Sukandar mengatakan, kapasitas pabrik baja setengah jadi KS mencapai 2,5 juta ton pertahun. Jika dua pabrik itu beroprasi, impor slab dan billet bisa dipangkas. Devisa yang bias dihemat sekitar US$ 1 miliar, dengan asumsi harga slab dan billet US$ 400 per ton.

“Karena harga gas mahal, US$ 7,3 per mmbtu dari Pertamina, pabrik hulu terpaksa kami tutup. Kalau harga gas turun. Kalua harga gas turun sampai US$ 3 per mmbtu, kami bisa oprasikan lagi pabrik baja hulu, sehingga billet tidak perlu impor. Produsen baja long product bisa beli dari KS,” kata Sukandar, Rabu (26/10).

Sukandar menegaskan, industri baja sangat tertekan oleh mahalnya harga gas. Oleh sebab itu, industri ini sangat mendukung rencana pemerintah menurunkan harga gas. Hal ini diyakini bias membuat produk lokal bersaing dengan impor.

“ Harga bahan baku saat ini murah. Contohnya, harga bijih besi US$ 58 perton. Tapi, harga barang jadi mencapai US$ 400 perton. Ini karena mahalnya harga gas, sehingga kita tidak kompetitif,” Ujar Sukandar.

Dia mencatat, harga gas saat ini memakan biaya produksi sekitar 51% dan cukup memberatkan industri. Untuk mengoprasikan kembali pabrik tersebut, KS harus menunggu harga gas turun. “Kalau turun kami akan full blast, kami akan melting lagi. Kami akhirnya berusaha sekuat tenaga agar oprasi kami tidak terganggu,” kata dia.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah meninstruksikan penurunan harga gas hingga dibawah US$ 6 per mmbtu dari saat ini US$ 9-10 per mbbtu. Harga gas baru rencananya diumumkan November 2016 dan berlaku awal tahun depan.

Proyek Transmisi

Sementara itu, KS melalui anak usahanya, PT Krakatau Wajatama, melakukan pengiriman perdana baja profil dalam bentuk siku untuk Menara proyek transmisi listrik 46 ribu kms (kilometer sirkit). Kebutuhan baja untuk proyek transmisi ini mencapai 798 rbu ton untuk empat tahun kedepan. Tahap awal, Krakatau Wajatama akan mengirim 100 ribu ton baja, dengan nilai sekitar Rp 800 Miliar.

Selama empat tahun kedepan, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan membangun rata – rata 10 ribu unit Menara pertahun untuk transmisi 70 kilovolt (kv) hingga 500 KV. Untuk periode awal, November 2016 – 2017, akan dibangun 9085 menara transmisi 70 KV dan 150 KV.

Sukandar mengatakan, KS akan mensuplai hampir seluruh kebutuhan baja profil siku untuk proyek Menara transmisi. Hingga empat tahun kedepan, omzet bias yang diraup KS dari proyek ini Rp 6,5 Triliun. “ Untuk menjaga kualitas dan jaminan suplai, PLN meminta KS sebagai coordinator penyedia baja kepada fabricator yang ditunjuk PLN,” kata Sukandar.

Saat ini kapasitas pabrik baja profil Krakatau Wajatama mencapai 150 ribu ton per tahun. Kapasistas baja profil Group KS akan bertambah, seiring beroprasinya pabrik PT Krakatau Osaka Steel pada 2017, dengan kapasitas sebanyak 500 ribu ton per tahun untuk baja profil dan re-bar.

Pengiriman perdama besi siku ini ditunjukan kepada empat pabrikan menara nasional, yakni PT Bukaka Teknik Utama, PT Armindo Catur Utama, PT Karunia Berca Indonesia, dan PT Karya Logam Agung. Sementara itu 10 pabrikan lainnya adalah PT Citramas Teknikmandiri, PT Dutacipta Pakar Perkasa, PT Danusari Mitra Sejati, PT Twink Indonesia, PT Kurnia Adijaya Mandiri, PT Wika Industri dan Konstruksi, PT Kokoh Semesta, PT Bangyn Sarana Baja, PT Gunung Steel Construction dan PT Duta Hita Jaya. Kebutuhan besi siku unutk Menara 46.000 kms terdiri atas ukuran dimensi beragam, dari L40 sampai L250.

“Kapasitas produksi besi siku nasional mencapai 940 ribu ton pertahun, sehingga produsen dalam negeri bias memenuhi kebutuhan tersebut, selain itu, dibutuhkan pelat baja dengan perkiraan 10% dari kebutuhan besi siku,” kata dia.

Direktur Komersial PT Krakatau Wajatama Akmaludin mengatakan, dalam enam bulan ke depan, pihaknya menjamin pasokan besi siku minimal sebanyak 60 ribu ton dengan harga tetap.

sumber:Investor Daily

 Dilihat : 4319 kali