12 Oktober 2016
Peluang Industri Baja Terbuka Lebar

DEBBIE SUTRISNO

JAKARTA — Kebutuhan baja dalam negeri tiap tahun semakin bertambah. Pembangunan infrastruktur yang menjadi fokus pemerintah akan meningkatkan kebutuhan atas baja dan besi. Tingginya permintaan baja seharunya bisa disambut dengan peningkatan industri baja nasional.

Komite Standar dan Sertifikasi Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia Basso Datu Makahanap mengatakan, tingkat konsumsi baja sejak 1970 hingga 2015 menunjukkan ketiakseimbangan kapasitas. Sebab, pertumbuhan jumlah produksi yang sedikit tidak sebanding dengan peningkatan konsumsi yang meningkat drastis.

Kebutuhan dalam negeri berada di angka 11,4 juta ton, tetapi industri hanya bisa memproduksi besi dan baja hingga 4,9 tonton. Akibatnya, pembangunan infrastruktur dan industri manufaktur masih banyak bergantung pada baja impor.

Basso mengatakan, proyeksi kebutuhan baja nasional pada 2020 mencapai 20 juta ton. Angka tersebut akan sulit tertutupi industri baja nasional yang nilai produksinya diprediksi akan berada di bawah 10 juta ton. Dan kekurangan pasokan tersebut, peluang untuk berinvestasi dalam industri baja masih terbuka luas.

“Dari sisi kebutuhan saja sudah bisa terlihat bahwa akan ada 10 juta ton baja yang siap diimpor dalam empat tahun ke depan. ini riil melihat perkembangan pembangunan di dalam negeri,” kata Basso dalam konferensi pers Indo Metal, Selasa (11/10).

Hingga 2013, lanjut Basso, Indonesia menjadi salah satu pengimpor baja terbesar. Satu hal yang Iebih mencengangkan, pertumbuhan produksi baja di Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Vietnam. Negara tersebut saat ini justru tengah mengincar Indonesia sebagai salah satu potensi pasar baja.

Investasi di sektor industri baja dan besi memang membutuhkan dana yang cukup besar. Pembangunan infrastruktur penunjang juga harus dihadirkan di sekitar industri tersebut. Khususnya di sektor energi, pemerintah dan investor harus menyediakan sumber energi yang cukup besar untuk industri baja.

Namun, saat industri ini mulai berjalan, akan banyak pertumbuhan ekonorni yang dirasakan, mulai dan masyarakat sekitar hingga industri penunjang industri baja.

“Industri baja bisa mendorong perekonomian. Industri baja akan menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan sektor manufaktur lain. ini yang akan meningkatkan perekonomian nasional,” papar Basso.

Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Pengerjaan Logam dan Mesin (Gamma) Indonesia Dadang Asikin menuturkan, baja memang menjadi produk yang harus diprioritaskan dalam pembangunan industri nasional. Sebab, baja akan menjadi bahan baku utama dalam setiap pembangunan infrastruktur. Mulai dari pembangunan jalan yang menggunakan beton, pembangunan jembatan, dan alat penunjang infrastruktur akan membutuhkan baja.

Namun, satu hal yang hams diperhatikan pemerintah adalah iklim investasi yang menunjang investor dalam menginvestasikan dana mereka di sektor industri baja. Iklim investasi yang selama ini cukup menghambat pembangunan industri adalah mahalnya energi.

“Sekarang kalau energi kita mahal, industri juga tidak akan bisa dibangun karena cost production yang mahal akan berpengaruh pada nilai jual produk,” ujar Dadang.

Selain iklim investasi, pemerintah pun harus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas untuk bekerja di sektor baja dan Besi. Jika SDM yang dimiliki kurang bagus, efisiensi dan industrinya pun akan merosot.

ed: ichsan emrald aLamsyah

sumber : REPUBLIKA

 Dilihat : 3822 kali