10 Oktober 2016
INDUSTRI BAJA, Tak Sekadar Ekspansi, KRAS Juga Efisiensi

JAKARTA. PT Krakatau Steel(Persero) Tbk (KRAS) serius melakukan ekspansi. Tujuannya tak hanya menambah kemampuan produksi, tapi juga meningkatkan efisiensi biaya produksi. Perusahaan pelat merah ini antara lain ekspansi dengan membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 1X150 megawatt (MW).

Pembangunan PLTU 1x150 MW akan mencuil 34% dari dana penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 1,5 triliun. Hitung-hitungan Krakatau Steel, hasil setrum PLTU itu kelak bisa menghemat sepertiga biaya produksi.

PT Kratakatau Daya Listrik yang akan menangani proyek PLTU. "Sepertinya lagi bidding,” ujar Vice President Corporate communication PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Wisnu Kuncara kepada KONTAN, Minggu (9/10).

Sebelum merealisasikan PLTU, Krakatau Steel meningkatkan efisiensi biaya melalui tiga proyek. Dua proyek di antaranya dijadwalkan beroperasi akhir tahun ini. Pertama, pabrik blast furnace berkapasitas 1,2 juta ton baja cair per tahun. Pabrik tersebut bisa menurunkan biaya bahan baku dan konsumsi listrik.

Kedua, pabrik baja konstruksi di Cilegon, Banten. Ini proyek patungan dengan Osa ka Steel Co. Ltd. dengan investasi US$ 200 juta.

Sementara satu proyek lagi berupa pabrik baja untuk otomotif, baru akan beroperasi secara komersial pada Agustus 2017. Pabrik yang juga berada di Cilegon itu merupakan kerjasama Krakatau Steel dengan PT Krakatau Nippon Steel Sumikin.

Kalau semua pabrik baja konstruksi dan baja otomotif beroperasi, Krakatau bisa menurunkan biaya produksi baja slab dari US$ 385,9 rnenjadi US$ 332,4 per ton. “Atau turun 13,86%,” hitung Wisnu.

Selain aneka proyek tadi, Krakatau Steel berniat membangun pabrik hot strip mill(HSM) 2. Perusahaan berkode KRAS di Bursa Efek Indonesia ini akan memanfaatkan 66% dana PMN. Lewat PT Krakatau Engineering, perseroan berkongsi dengan SMS Group GmbH.

Groundbreaking proyek HSM Krakatau Steel berlang sung pada 22 Agustus 2016. Total investasinya sekitar US$ 460 juta. Pabrik tersebut akan memproduksi hot rolled coil (HRC) atau baja canai panas berkapasitas 1,5 juta ton per tahun.

Pembangunan pabrik HSM 2 untuk meningkatkan kapasitas produksi baja gulung hingga 4 juta ton per tahun. "Kami optimistis, pasar dapat menyerap, dengan menyasar segmen otomotif, rerolling, pila, tabung serta konstruksi,” kata Direktur Keuangan KRAS Tambok P. Setyawati kepada KONTAN, (6/10).

Ramadhani Koesnin

sumber : Koran Kontan

 Dilihat : 4053 kali