24 Agustus 2016
KADI: Ada Dumping CRS di Enam Negara

DUMPING BAJA

JAKARTA. Komite Anti Dumping lndonesia (KADI) telah merampungkan penyelidikan dugaan dumping untuk produk baja cold rolled stainless steel (C RS) atau baja lembaran canai dingin. Hasil penyelidikan, KADI menemukan adanya dugaan kuat perilaku dumping harga yang dilakukan pengimpor CRS.

Ernawati, Ketua KADI menyebutkan, negara pengimpor CRS yang melakukan dumping tersebut berasal dari enam negara, yakni; China, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura. Adapun hasil perhitungan dari KADI, margin dumping untuk keenam negara tersebut berkisar dari 0% sampai dengan sekitar 26,7%. "Kami menghitung adanya injury atau kerugian dari perusahaan yang mengajukan petisi dumping tersebut.” ujar Ernawati kepada KONTAN di kantornya, Senin (22/8).

Karena kini penyelidikan sudah selesai, KADI akan melaporkan keputusannya tersebut ke Menteri Perdagangan untuk selanjutnya disampaikan ke Kementerian Keuangan. Namun, keputusan ada atau tidak pengenaan besaran bea masuk dumping (BMAD) untuk CRS akan masuk pertimbangan kepentingan nasional (PKN).

Pengajuan petisi dumping CRS dilakukan PT Krakatau Steel Tbk. Jika disetujui, Indonesia akan menerapkan BMAD lewat Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Dalam catatan KADI, Krakatau Steel dianggap mewakili industri CRS dalam negeri karena menguasai pangsa pasar CRS sebesar 35%. Jika nanti pengenaan BMAD ditetapkan, maka yang akan diuntungkan adalah Krakatau Steel dan perusahaan lain yang memproduksi CRS di dalam negeri.

Selain menyelesaikan hasil penyelidikan dugaan dumping untuk produk baja jenis CRS, KADI juga melakukan menuntaskan penyelidikan ulang terhadap pengenaan BMAD sebelumnya atau sunset review untuk produk baja hot rolled coil (HRC) atau canai panas tidak dibalut/disepuh/dilapisi.

Adapun negara pengimpor yang dituduh melakukan dumping HRC tersebut adalah Korea Selatan dan Malaysia. Khusus untuk Korea Selatan, dilakukan interim renew dengan perubahan, yakni; empat perusahaan importir dari Korea Selatan dikenakan BMAD sebesar 0%. Sedangkan perusahaan pengimpor lainnya dikenakan BMAD sebesar 8,5% dari semula 3,8%.

Adapun tarif BMAD untuk importir HRC dari Malaysia dikenakan bea masuk anti dumping sebelumnya sama sebesar 48,4%. Untuk diketahui, pengenaan BMAD berbentuk penambahan bea masuk yang dipungut berdasarkan skema tarif bea masuk preferensi yang berlaku untuk importir atau produsen yang terbukti melakukan dumping.

Pamela Sarnia

Sumber : KONTAN

 Dilihat : 1881 kali