30 September 2016
Produk Rumahan yang Sudah Dipasarkan ke Supermarket

Laer, Minuman Kesehatan Asal Kebondalem

Tak kenal lelah, itulah yang pantas untuk menggambarkan Sri Titin Supadmi yang merupakan owner Laer, minuman yang berasal dan jahe dan berbagai bahan herbal lainnya.

HAIRUL ALWAN.Purwakarta

MEMULAI bisnisnya sejak 2006 lalu, Sri mengaku, mengawali usahanya dengan modal Rp5 juta. la yang saat itu memulai bisnisnya bersama sepuluh anggota kelompok lainnya mengaku mulai memproduksi minuman dan jahe emprit dengan pengerjaan secara manual, yakni menggunakan parutan biasa.

Entah mengapa, kesepuluh orang yang menjadi anggota kelompoknya yang sama-sama mengikuti pelatihan wirausaha pada program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL Krakatau Steel) tidak melanjutkan usaha yang dirintis bersama dan meninggalkan Sri sendirian.

Tidak ingin menyerah dengan kondisi itu, Sri tetap menjalankan bisnis minuman tersebut. Minuman ¡tu diproduksi langsung oleh Sri dibantu beberapa pegawai di kediamannya di Lingkungan Rama Baru, Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Purwakarta.

la pun memasarkannya mulai dari forum pengajian hingga mengikuti pameran. “Dulu saya bikin sendiri, pasarkan sendiri, bahkan ke mana saja saya pergi selalu saya hawa,” ungkap Sri.

Sedikit demi sedikit, peminat minuman jahe buatan Sri semakin bertambah. Lantaran tidak bisa memenuhi pesanan yang membeludak, Sri memutuskan untuk menambah modalnya hingga Rp18 juta.

“Penambahan modal itu saya gunakan untuk memperbaiki kemasan dan pembelian alat produksi. Saat itu produksi per hari secara manual maksimal dua kilogram. Kalau pakai alat, bisa sampai lima kilo gram,” tuturnya.

Terus berkembang dan meraup keuntungan yang tidak sedikit, Sri mengaku, menambah beberapa alat produksi untuk memaksimalkan minuman buatannya. Semula alat yang hanya ada satu, terus ia tambah untuk memaksimalkan produksi. “Saya terus menambah alat, bahkan ada juga alat penggiling yang bisa digunakan untuk mengiling 15 kilogram jahe,” ucapnya.

Terus melakukan inovasi produk, Sri menemukan saat di mana ia melihat produk jahe merah di salah satu pameran lebih laku daripada minuman dan jahe emprit miliknya. Dari situ ia mendapat ide baru untuk membuat minuman dari jahe merah. Alhasil, produk buatannya juga mendapat respons postif dan pelanggannya.

Setelah percobaan berhasil, banyak konsumen mengusulkan bahan Iainnya seperti kunyit, kencur, dan temulawak. “Saat saya buat alhamdulillah, banyak juga peminatnya,” jelasnya.

Terus dan terus berkembang, bisnis yang Sri jalankan menjadi perhatian berbagai kalangan. Mulai dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Cilegon, Dinas Perdagangan Provinsi Banten, hingga ke Kementerian Perdagangan.

“Saya sering diajak seminar-seminar, ikut pameran dan pelatihan. Dari situ pelanggan dan pesanan dalam jumlah banyak terbuka,” ujarnya.

Dalam salah satu acara yang digelar di Jakarta, Sri bahkan sempat kebanjiran pesanan dari para pengunjung dalam danluar negeri. “Waktu itu saya malah dapat pesanan satu kuintal per hari selama sekira empat hari. Bahkan, Presiden Jokowi dan menteri-menteri sudah minum minuman jahe buatan saya,” tuturnya.

Terus berinovasi dalam penjualan produknya, Sri mencoba mengajukan Laer pada beberapa supermarket seperti Smesco, Indomaret, dan Carrefour. Banyak persyaratan akurasi yang harus ia penuhi untuk memasarkan produknya mulai dari kandungan bahan dalam minuman buatannya, proses produksi, hingga tempat produksi. Semua diperiksa, dan alhamdulillah lolos. Sekarang sudah dipasarkan di Smesco, Carrefour Lebak Bulus, Bintaro, Cempaka Putih, dan Indomaret,” ungkapnya.

la juga sempat diajak Disperindagkop berkunjung ke Jogjakarta. Saat itu, la makan malam di salah satu rumah makan bernama Ringsewu dan mencoha menawarkan produknya. Kata dia, dari penawaran ini pihak restoran tertarik dan meminta Sri memasok ke delapan restoran cabangnya. “Saat itu saya disuruh laporan kantor pusat Ringsewu di Purwokerto karena harus mengirim langsung ke delapan restoran dan secara terpisah saya pending karena ongkosnya kemahalan kalau begitu,”katanya.

Tak hanya pesanan dari daIam negeri, ia juga sempat mendapat pesanan dari Ti mur Tengah, Jepang, dan Korea. Lantaran keterbatasan bahan baku, ia belum menyanggupi itu. la mengurai, bahan baku minumannya mempunyai syarat khusus, yakni harus jahe merah berumur sepuluh bulan. "Kalau kurang dari itu, tidak bagus karena cepat lembek. Selama ini bahan baku dari Baduy, Serang, dan Pendeglang. Itu pun kirimannya kalau lagi panen, jadi memang terbatas juga untuk memenuhi pesanan yang banyak,” ujarnya.

Sementara itu, Lurah Kebondalem Edi Hilfiandi mengapresiasi usaha yang dijalankan salah satu warganya. Kata Edi, pihaknya tahu betul produk Sri bisa terkenal meIalui proses yang panjang. Sejumlah cara pemasaran pun telah dilakukan olehnya. “Dari awal dia jualan tidak kenal menyerah, Ibu Sri memasarkannya sendiri dan kemana-mana membawa produk buatannya,” katanya. (*)

sumber : Radar Banten

 Dilihat : 2823 kali