28 September 2016
PROYEK TRANSMISI - Produk KS Terserap 18%

JAKARTA — Proyek pembangunan menara transmisi PT PLN (Persero) akan menyerap 18% dari total kapasitas produksi baja panjang PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Presiden Direktur PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS), Sukandar, mengatakan pengiriman baja untuk proyek transmisi PLN dimulai pada Oktober.

Krakatau Steel akan memasok baja jenis besi profil siku dan besi profil plat sebagai bahan baku pembangunan sekitar 9.000 menara transmisi listrik. "Ini bagian dari rekanan produsen-produsen nasional buat proyek transmisi nasional. Kami delivery mulai Oktober,” kata Sukandar kepada Bisnis,Selasa (27/9).

Dia memaparkan proyek pembangunan menara transmisi tersebut akan menyerap 130.000—150.000 ton besi profil siku produksi Krakatau Steel. Kebutuhan proyek transmisi mencakup 18% dari total kapasitas produksi baja panjang perseroan sebanyak 800.000 ton per tahun.

Pengadaan besi profil siku untuk proyek PLN berpotensi mendongkrak volume produksi baja profil Krakatau Steel yang tahun lalu dilaporkan sebanyak 66.077 ton.

Krakatau Steel tahun lalu menjual lebih dan 1,94 juta ton produk baja. Produksi terbesar perusahaan adalah baja lembaran panas (HRC) sebanyak 1,47 juta ton, diikuti oleh baja lembaran dingin sebanyak 0,56 juta ton.

“Pengadaan infrastruktur sangat berdampak kepada produksi baja nasional. Saya harap pemerintah dan BUMN semakin gencar mendorong penggunaan produk dalam negeri,” kata Sukandar.

Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Hidayat Triseputro mengatakan penyerapan baja produksi Krakatau Steel oleh proyek transmisi menunjukkan komitmen pemerintah terhadap penggunaan produk dalam negeri berdampak besar pada industri nasional.

Dia menjelaskan biasanya kontraktor proyek pemerintah Iebih suka menggunakan produk impor yang dijual jauh di bawah harga wajar produksi.

“Kita tahu harga baja impor itu harganya tidak fair. Kami juga paham pengambil keputusan [pengadaan] juga takut disalahkan jika ada produk yang harganya lebih murah. Lewat tekad pemerintah utamakan produk dalam negeri, produk impor bisa dikendalikan,” katanya.

Hidayat berharap pola pengadaan PLN bisa digunakan oleh proyek infrastruktur BUMN dan pemerintah lain seperti pembangunan jalan, gedung pemerintah, atau pelabuban. (Demis Rizky Gosta)

sumber : Bisnis Indonesia

 Dilihat : 2696 kali