27 September 2016
Industrialis Baja Lokal kembali Ketar-ketir

SEJUMLAH pengusaha baja dalam negeri kembali meminta dukungan pemerintah untuk membendung masuknya baja impor.

Kendati telah ditetapkan bea masuk yang sudah dinaikkan, impor baja terindikasi dilakukan dengan mengalihkan pos tarif sehingga terhindar dari bea masuk. Dugaanitu dikemukakan Managing Director PT Ispat Indo Baldeo Prasad Banka seperti dilansir Antara, kemarin.

“Kami terpaksa menutup satu line pabrik serta mengistirahatkan 500 karyawan sebagai dampak membanjirnya produk baja impor,”keluhnya.

Banka mengatakan, sebagai produsen utama produk baja wire rod, selama ini pihaknya menguasai pangsa pasar 60%. Namun, pangsanya kini tergerus menjadi 15%. Walhasil, bisnis pun terganggu.

Menurut dia, kasus membanjirnya impor baja sebelumnya juga pernah terjadi pada tahun lalu. Produk dikemas bak produk baja ringan dengan menambah unsur paduan atau dikenal dengan istilah baja paduan seperti pada produk baja karbon.

Produk baja paduan selama ini memang mendapat fasilitas bea masuk dari pemerintah. Namun, ujar Banka, hal itu kadang disalahgunakan importir dengan memasukkan produk baja paduan ber kandungan di bawah standar, bahkan pada beberapa kasus nyaris tidak ada kandungan apa pun di dalamnya. Kondisi demikian membuat harga baja impor itu menjadi lebih murah ketimbang baja produksi dalam negeri.

Juru bicara PT Gunung Garuda, Ketut Setiawan, menyampaikan pemerintah pernah berhasil memperketat impor baja paduan itu lewat bea masuk atas produk baja paduan yang tidak ber-SNI. “Kebijakan itu sempat efektif, tapi entah kenapa kembali terjadi pada tahun ini.”

Senada dengan Banka, ja mengeluh pangsa pasar perusahaannya juga tergerus. “Permintaan baja profile dari perusahaan kami dan PT Krakatau Wajatama berkisar 400 ribu ton per tahun, tapi akhir-akhir ini angka itu tidak tercapai."

la meminta pemerintah melindungi produsen lokal, antara lain dengan menetapkan bea masuk antidumping, disamping memperketat pengawasan dan prosedur atas impor. “Dari data sumber kami, pada Januari-September 2016 ada 46 ribu ton produk baja karbon masuk lewat Tanjung Priok. Padahal, selama ini baja karbon impor paling banyak 1.000-2.000 ton.” (E-1)

sumber : Media Indonesia

 Dilihat : 6201 kali