02 Agustus 2016
PROYEK PEMERINTAH-Produk KS Terserap Maksimal

JAKARTA — PT Krakatau Steel Tbk mengklaim penyerapan baja yang berasal dan proyek pemerintah telah mencapai 83% atau sekitar dua juta ton dan pabrik hot strip mill miliknya hingga kuartal I/2016.

Direktur Utarna PT Krakatau Steel Tbk Sukandar mengatakan pabrik hot strip mill (HSM) pertamanya telah mampu diserap oleh proyek pemerintah hingga 83%, meski kapasitasnya masih kecil yaitu 2,4 juta ton.

“Ya ini untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kira-kira kami jual hot rolled coil [HRC] kurang lebih 2 juta ton,” ujarnya di kantor Kementerian Perindustrian, Senin(1/8).

Dia menjelaskan produk HRC tersebut akan dikonsumsi oleh cold rolling mill dan juga dijual dalam bentuk pipa gas, tiang pancang, serta bahan konstruksi tangki, jembatan. dan box girder.

Menurutnya, saat ini pabrik HSM milik perusahaain akan diperluas dengan menambah kapasitas sebesar 1,5 juta ton di Cilegon dengan nilai investasi sekitar US$460 juta. Ground breaking akan dilaksanakan pada 22 Agustus mendatang, sedangkan target operasi baru mulai pada 2019.

Adapun ekspansi yang dilakukan oleh unit usaha patungan di bawah KRAS, seperti Krakatau Posco, Krakatau Nippon Steel Sumikin, dan Krakatau Osaka Steel akan berkomitmen untuk menyerap baja dari induk perusahaannya.

Berdasarkan data yang diunggah oleh asosiasi baja dunia atau world-steel, produksi crude steel China hingga semester I/2016 mencapai 399,5 juta ton atau menurun sangat tipis sekitar 1,1% dibandingkan dengan semester I/2015.

Hal tersebut tidak sesuai dengan pernyataan dari pemerintah China yang akan mengurangi produksi bajanya hingga 45 juta ton pada tahun ini dan sekitar 50 juta-100 juta ton dalarn 3-5 tahun ke depan. Padahal, produksi baja China pada 2015 mencapai 803,8 juta ton.

China bahkan menjadi negara eksportir baja terbesar dengan rasio ekspor sebesar 52% pada 2015. Namun, Sukandar mengklaim perusahaannya tidak terpengaruh hal tersebut. Pada kesempatan sebelumnya, Sukandar mengatakan kendala industri baja saat ini adalah harga yang tidak stabil.

Pelaku industri baja khawatir harga baja yang tidak stabil dan cenderung rendah dapat meng ganggu pertumbuhan industri, ditambah ekspor yang turun hingga 9%. "Kami berharap ada perbaikan volume jual sehingga ada perbaikan semuanya. Kendalanya adalah harga komoditas yang rendah dibanding 2008, sekarang tinggal 50%-nya,” jelasnya. (Nindya Aldila)

Bisnis Indonesia-02 Agustus 2016

 Dilihat : 4396 kali