13 Juli 2016
IHSG TEMBUS 5.100 - 4 BUMN Rights Issue Rp14,3T

Oleh Yosi Winosa dan Abdul Muslim

JAKARTA — Pemerintah menyetujui rencana penerbitan saham baru dengan skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue empat badan usaha milik negara (BUMN)sebesar Rp 14,3 triliun. Pemerintah akan menyerap rights issue ini melalui penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 9 triliun, sedangkan sisanya Rp 5,3 triliun dari publik.

Keempat BUMN itu adalah PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk.

Rencana rights issue ini merupakan bagian dari program privatisasi Kementerian BUMN 2016 untuk memperkuat permodalan BUMN. Seluruh hasil penjualan saham baru ini akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek bisnis masing-masing perusahaan milik negara itu.

“Ini momen paling tepat bagi BUMN melakukan rights issue. Perlu dibuat rencana yang matang untuk menyambut program tax amnesty karena akan ada dana besar yang masuk. Permintaan surat-surat berharga dalam waktu 6 bulan ini akan melonjak. Harganya pun pasti bagus. Dan menurut saya, yang paling siap adalah BUMN,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dalam Rapat Koordinasi Komite Privatisasi, di Jakarta, Selasa (12/7).

Hadir dalam rakor antara lain Menteri Negara BUMN sekaligus anggota Komite Privatisasi Rini M Soemarno, Menteri Keuangan/ anggota Komite Privatisasi Bambang Brodjonegoro, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)/anggota Komite Privatisasi Basuki Hadimuljono, Menteri Perindustrian/anggota Komite Privatisasi Saleh Husin, Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Bintang Perbowo, Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Adityawarman, Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Sukandar, dan Direktur Utama PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk Tumiyono.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, empat BUMN yang akan melakukan rights issue adalah Krakatau Steel, PTPP, Wijaya Karya, dan Jasa Marga, atau BUMN yang mendapatkan PMN pada APBN Perubahan 2016. “Dengan adanya PMN itu mereka akan melakukan rights issue, supaya juga saham pemerintah tetap. Kalau tambahan PMN kan porsi pemerintah tetap, tidak terdelusi,” tambah dia.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro menjelaskan, rights issue dari empat BUMN tersebut berjumlah sekitar Rp 14,3 triliun, yang terbagi antara PMN Rp 9 triliun dan dari publik Rp 5,3 triliun. “Kami tetap mempertahankan posisi pemerintah,” kata dia.

Menurutnya, hasil dan rights issue akan digunakan untuk mendukung pembiayaan proyek-proyek infrastruktur prioritas pemerintah, seperti jalan tol, pembangkit listrik, fasilitas pengolahan air bersih, pelabuhan, apartemen kelas menengah, dan kawasan industri.

Dia menargetkan proses rights issue keempat BUMN tersebut rampung paling lambat Oktober 2016.

Besaran PMN untuk empat BUMN infrastruktur yang teriibat dalam rapat koordinasi tersebut sebelumnya telah disetujui dalam APBN-Perubahan 2016 dengan total Rp 9 triliun, dengan rincian PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) Rp 4 triliun, PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) Rp 2,25 triliun, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) Rp 1,25 triliun, dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) sebesar Rp 1,5 triliun.

Sedangkan besaran dana yang diperoleh dari publik sebesar Rp 5,3 triliun dengan rincian WIKA sebesar Rp 2,1 triliun, PTPP Rp 2,15 triliun, KRAS Rp Rp 375 Miliar, dan JSMR Rp 575 Miliar.

Dongkrak Kinerja

Direktur Utama Wijaya Karya Bintang Perbowo mengatakan, perusahaan yang dipimpinnya mendapatkan PMN sebesar Rp 4 tiiliun, dan akan membidik Rp 2,1 triliun dari publik. "Bond belum, itu mungkin akhir tahun tapi belum tahu berapa,” kata dia.

Bintang menyebutkan, PMN akan memberikan dampak baik pada pertumbuhan kinerja emiten dengan kode saham WIKA itu. Sedangkan pertumbuhan kontrak, kata dia, tumbuh 25% dan tahun lalu. “Sampai Juni sudah Rp 15 triliun kontrak baru, tumbuh dari tahun lalu 30%. Targetnya Rp 50 triliun di 2016, akhir bulan ini tambah lagi Rp 15 triliun,” tambah dia.

Dihubungi terpisah, Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada mengatakan, persetujuan dari pemerintah bagi empat BUMN untuk menerbitkan saham baru (rights issue) akan memperbaiki struktur keuangan, daya saing, menjamin kelangsungan ekspansi, serta akan berdampak bagus bagi kinerja keuangan dan pergerakan positif sahamnya ke depan.

“Sebuah perusahaan yang akan ekspansi tentu membutuhkan dana, yang bisa dicari dari berbagai cara, salah satunya rights issue. Nah, empat BUMN itu akan mendapatkan dana untuk memperbaiki struktur keuangan dan menjamin terlaksananya ekspansi dan rights issue. Itu tentu akan positif pada kinerja keuangan dan sahamnya ke depan,” ujar Reza.

Menurut dia, rights issue yang akan dilangsungkan oleh empat BUMN tersebut hampir dipastikan akan sukses karena pemerintah sudah menyiapkan dana pembelian saham sebagai bagian dari PMN dalam APBN-P 2016 dan siap menjadi pembeli siaga (stand by buyer) bagi pemegang saham minoritas yang tak mau mengambil hak rights issue-nya.

Karena itu, Reza pun juga kurang sependapat jika keputusan pemerintah untuk menyetujui rights issue bagi keempatnya dikaitkan dengan momentum pasar saham di BEI yang sedang dalam tren bullish dalam dua hari terakhir.Sebab, nantinya, ketika rights issue dilaksanakan, saham baru empat BUMN itu sudah ada pembelinya, yakni pemerintah. Karena itu, momentum pasar tidak relevan dikait-kaitkan.

Dia menyampaikan, pemerintah ‘memerintahkan’ PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk untuk rights issue karena berkepentingan agar menyukseskan proyek infrastruktur pemerintah yang tengah dibangun besar-besaran. Karena itu, pelaksanaan rights issue pun dijamin akan sukses.

“Jadi, empat BUMN itu tinggal melaksanakan rapat pemegang saham untuk mendapatkan persetujuan dan dipastikan lolos rights issue-nya karena pemegang saham mayoritasnya juga pemerintah. Setelah itu, langsung eksekusi,” tambahnya.

Reza menuturkan, komposisi kepemilikan saham di empat BUMN itu akan tetap jika pemerintah dan semua pemilik saham lainnya mengeksekusi hak membeli saham baru yang akan ditetapkan. Namun, jika ada pemilik saham minoritas tak mengambil hak rights issue-nya, kepemilikan saham pemerintah bisa bertambah besar karena kemungkinan menjadi stand by buyer.

Dia memperkirakan saham JSMR, WIKA, KRAS, dan PTPP kemungkinan akan turun sebelum eksekusi rights issue. Selanjutnya, kinerja sahamnya berpeluang kembali menguat seiring dengan kemajuan proyek-proyek infrastruktur yang digarapnya dan membaiknya kinerja keuangan.

“Kinerja keuangan BUMN-BUMN itu memang sedang tak terlalu baik karena di antaranya pengaruh dan kondisi global. Namun, seiring kinerja keuangan yang akan makin membaik karena kemajuan proyek-proyek yang digarapnya, kami merekomendasikan buy untuk JSMR, WIKA dan PTPP, serta hold untuk KRAS,” rekomendasi Reza.

Senada, analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya berpendapat, kebijakan pemerintah menyetujui rencana rights issue empat BUMN cukup bagus dan jeli membaca pasar yang tengah bergairah karena tengah masuknya dana asing ke dalam negeri (capital inflow), seiring penerapan kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) yang mulai berlaku Juli ini hingga awal 2017. Selain itu, kondisi dalam negeri dan global juga tengah mendukung.

“Soal tepat atau tidaknya right issue yang ditempuh oleh empat BUMN tersebut, itu merupakan strategi, pilihan, dan kebutuhan yang diperlukan oleh masing-masing perusahaan. Sebab, ada juga sebenarnya skema lain untuk mencari pendanaan, antara lain loan ke bank, atau penerbitan obligasi,” katanya.

Dia berpendapat bahwa dana rights issue jelas akan menjamin kelanjutan proyek-proyek yang digarap oleh Jasa Marga, Wijaya Karya, Krakatau Steel, dan Pembangunan Perumahan. Kesuksesan eksekusi rencana proyek juga akan berdampak bagus pada kinerja keuangan dan saham perusahaan-peusahaan tersebut ke depannya.

IHSG Tembus 5.100

Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEl) sempat menembus level 5.100 sebelum ditutup naik 30,514 poin (0,60%)ke 5.099,533 pada perdagangan Selasa (12/7). Sedangkan indeks LQ45 ditutup menguat 4,911 poin (0,56%) ke 877.165.

Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG bergerak di teritori positif. Pada sesi pra-pembukaan, IHSG bergerak naik 23,146 poin (0,46%) ke 5.092,165. Mengawali perdagangan, IHSG dibuka menguat 24,910 poin (0,49%) ke 5.093,929. Kemudian, pada perdagangan sesi I, IHSG ditutup bertambah 36,630 poin (0,72%) ke 5.105,649.

Kenaikan IHSG pada perdagangan kemarin dipicu oleh berlanjutnya aliran dana asing yang masuk ke pasar saham domestik sehmgga mendorong harga saham. Berdasarkan data BEI, investor asing membukukan beli bersih atau foreign net buy sebesar Rp 1,577 triliun. Sedangkan frekuensi saham ditransaksikan sebanyak 366.370 kali dengan total volume perdagangan sebanyak 7,794 miliar saham senilai Rp 9,390 triliun.

Enam sektor menguat, sementara 4 sektor lainnya melemah. Sektor tambang mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 2,88%, disusul sektor keuangan sebesar 2,45%, dan infrastruktur 1,11%. Sementara sektor yang mencatatkan pelemahan tertinggi terjadi di sektor consumer goods sebesar 1,11%. Sebanyak 180 saham naik, 134 saham turun, dan 89 saham stagnan.

Bursa regional juga mencatatkan penguatan, di antaranya indeks Bursa Hang Seng menguat 344,24 poin (1,65%) ke level 21.224,74, indeks Nikkei naik 386,83 poin (2,46%) ke level 16.095,65, dan Straits Times menguat 25,68 poin (0,89%) ke posisi 2.901,82. (ant/jn)

 Dilihat : 6204 kali