12 Juli 2016
INDUSTRI BAJA - Penyederhanaan Regulasi Mendesak

JAKARTA — Pelaku industri menilai belum terlaksananya penyederhanaan regulasi di level bawah mengancam daya saing industri dalam negeri. Belum turunnya harga bahan bakar industri memperparah pertumbuhan industri baja.

Wakil Ketua Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) Ismail Mandry mengatakan beberapa regulasi bertentangan dengan regulasi yang berlaku secara internasional.

“Sebenarnya instruksi dari presiden sudah jelas tapi implementasi ke bawahnya masih tidak jalan. Contohnya aturan tentang tata niaga impor scrap yang tidak memberikan toleransi tetang impuritas, sementara tata niaga dunia mau. Ini menimbulkan high cost,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (11/7).

Dia mencontohkan peraturan yang baru-baru ini dikeluarkan Kementerian Perdagangan yaitu Permendag No.31/2016 tentang Ketentuan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun.

Adapun aturan lainnya yang memberatkan industri adalah aturan tentang kepabeahan yang bisa merugikan industri hingga ratusan juta rupiah akibat adanya selisih berat ketika melakukan impor baja.

“Aturan memang dibuat untuk menghindari spekulan, tapi jangan sampai jadi hambatan bagi industri yang baik,” katanya.

Ismail menjelaskan tingginya harga bahan bakar seperti listrik dan gas membuat industri baja tidak bersaing, bahkan di level Asean.

UTILITAS RENDAH

Hal tersebut menyebabkan masih rendahnya utilitas dari industri baja dalam negeri, yaitu hanya sebesar 40%—50%. Dia mengatakan posisi Indonesia saat ini sudah di bawah Vietnam secara kapasitas.

“Kami minta listrik turun sampai sekarang tidak direspon. Begitu juga dengan gas. Jadi bagaimana kita mau bersaing. Kecuali utilisasinya sudah 80%. Hampir semua peleburan tidak jalan. Sekarang kami ketergantungan impor billet karena jauh lebih murah daripada produksi,” katanya.

Dia memprediksi industri baja pada kuartal II/2016 tidak akan banyak mengalami perubahan.

Menurut data Kementerian Perindustrian, kebutuhan gas industri baja diprediksi mencapai 186.871,5 MMBtu pada 2035 atau naik 8%. Adapun kebutuhan listrik akan naik 19%.

Thai iron and Steel Club melaporkan industri baja terutama di Asean perlu memperkuat kerja sama dengan pemain baja global seperti Jepang, Korea Selatan atau Eropa.

“Industri baja perlu bermitra dengan pemain seperti China, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Hal tersebut akan menguntungkan skill tenaga kerja dan transfer teknologi dan memperkuat negosiasi,” seperti dikutip dan laman resmi South East Asian Iron & Steel Industry (SEAISI).

Negara-negara tersebut akan menyediakan akses bagi industri baja sekelas Asean pada pasar potensial dan menciptakan basis produksi yang efisien dalam biaya energi di negara Asean.

(Nindya AldiIa)
Bisnis Indonesia

 Dilihat : 4489 kali