27 November 2007
Investasi Modal Korporasi Jepang Meningkat

Investasi modal sejumlah korporasi Jepang selama satu tahun hingga Maret 2008 diprediksi meningkat 11 % dibandingkan periode tahun sebelumnya. Angka itu adalah pertumbuhan dua digit selama empat tahun berturut-turut. Demikian hasil survei hariaji bisnis terkemuka Jepang, Nikkei, yang dirilis Minggu (25/11).Survei dilakukan Nikkei di 1.695 perusahaan. Jika perkiraan itu benar, kenaikan belanja modal itu akan menandai ekspansi tahun kelima, periode pertumbuhan terpanjang sejak lima tahun hingga Maret 1992 saat Jepang dilanda bubble aset.

Sejumlah korporasi Jepang dari semua sektor masih mampu menginvestasikan modal mereka di tengah kekhawatiran akan outlook perekonomian dunia akibat krisis subprime Amerika Serikat (AS). Masih menurut Nikkei, sektor nonmanufaktur berencana meningkatkan belanja modal hingga 14,8%, kenaikan terbesar year-on-year selama satu tahun pada Maret 1981 saat angka itu menembus 14,9%. Sedangkan sektor manufaktur diramaikan membelanjakan modalnya 8,7% lebih besar dalam satu tahun hingga Maret 2008, termasuk belanja pada industri mobil dan elektronik yang diprediksi naik sekitar 6%.

Meski pertumbuhan sektor manufaktur secara keseluruhan lebih kecil ketimbang ekspansi tahun lalu sebesar 13,5%, investasi modal di beberapa industri kunci, seperti sektor material, masih kuat dan diprediksi meningkat 11,7%."Ekonomi global mempertahankan momentumnya. Jadi kami tidak bermaksud mengubah rencana investasi dan produksi," jelas Presiden Nippon Steel Corp Akio Mimura seperti dilansir Nikkei.Yen Menguat Sementara itu, yen kembali menguat terhadap hampir semua dari 16 mata uang yang aktif diperdagangkan pekan ini setelah para investor memilih untuk menjauhi kredit berbasis aset dengan yield tinggi di Jepang.

Yen menguat ke level tertinggi sejak Juni 2005 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (23/11). Sedangkan dolar terperosok ke rekor terendah versus euro dan franc Swiss di tengah rumor bahwa Federal Reserve akan memangkas biaya pinjaman bulan depan. Berdasarkan survei Bloomberg News, laporan penjualan rumah di AS pada Oktober yang bakal dirilis pekan depan kemungkinan menunjukkan penurunan penjualan ke level terendah sejak 1999.

"Permainan riil yang marak di kota saat ini adalah yen. Yen benar-benar sedang melambung, dan ekonomi AS sedang menghadapi banyak ketidakpastian," kata David Woo, kepala analis mata uang pada Barclays Capital, London.Yen menguat 2,5% versus greenback pekan ini setelah menyentuh rekor tertinggi selama dua tahun di level US$ 107,55 per yen. Yen juga menguat 1,4% terhadap euro di level EUR 160,55 per yen. Terhadap poundsterling, yen menguat di posisi 221,31 per yen.

Sumber : Dian Agustina Investor Daily Indonesia, Page : 3 

 Dilihat : 2988 kali