27 November 2007
'BM baja hilir agar dinaikkan

JAKARTA: Sejumlah pengusaha hilir baja mendesak Pemerintah menaikkan tarif bea masuk (BM) produk baja hilir a.l. pipa baja, profil, hingga seng baja [baja lapis seng/ BjLS] untuk mengendalikan banjir produk impor.

Wakil Ketua Umum Gabungan Industri Pipa Baja (Gapipa) Untung Yusuf mengatakan rencana kemungkinan pengenaan BM antidumping pada produk hulu yakni baja canai panas (HRC/hot rolled coils] yang saat ini sedang diinvestigasi oleh Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) dikhawatirkan akan memicu peningkatan impor produk baja hilir."Jika produk HRC impor terkena BMAD tentu akan memicu kenaikan impor secara besar-besaran untuk produk baja yang lebih hilir," kata Untung kepada Bisnis, kemarin.

Jika terjadi serbuan produk-produk jadi, lanjutnya, industri pengolah produk-produk hilir baja domestik dikhawatirkan bakal kolaps, karena itu pengenaan BMAD produk HRC harus disinergikan dengan kenaikan tarif BM di sisi hilirnya sehingga keputusan itu membawa efek positif bagi industri baja nasional."Sebenarnya kami menyambut baik rencana KADI menetapkan sanksi BMAD produk HRC impor, tapi kami juga meminta agar sektor baja hilir dilindungi. Jangan hanya semata-mata pengamanan di sektor hulu saja tapi sektor hilir diabaikan," lanjutnya.Selain itu, sebagai langkah konkret perlindungan di sekor hilir baja, kalangan produsen pipa mengusulkan agar pemerintah memberlakukan tata niaga impor."Jadi importasinya harus diatur, hanya importir produsen saja yang boleh mengimpor, bukan importir borongan [umum]'jelasnya.

Akibat serbuan impor pipa murah asal China, Untung memprediksikan, kinerja pipa baja nasional pada kuartal IV/2007 anjlok 30% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu dari 87.500 ton menjadi hanya 61.250 ton.Padahal, total kapasitas terpasang industri pipa baja men
capai 1,275 juta ton per tahun. Artinya, utilisasi produksinya hanya sekitar 35%, jauh di bawah level ideal.

Sumber : YUSUF WALUYO JATI Bisnis Indonesia, Page : T7 

 


 

 Dilihat : 3735 kali