19 April 2016
Industri Lokal Mulai Menggeliat

Harga Baja Dunia Melonjak 20%

Oleh Rahajeng KH

Investor Daily, 19 April 2016

JAKARTA — Harga baja dunia April 2016 mencapal US$ 365 per ton, melonjak 20% dari Januari sebesar US$ 305 per ton. Harga baja terus membaik, seiring langkah pemerintah Tiongkok memangkas kapasitas produksi terpasang industri baja setempat berkisar 150-200 juta ton.

Tiongkok melakukan hal itu untuk mengatasi overkapasitas produksi industri baja dunia yang kronis. Hal ini menjadi biang keladi kemerosotan harga baja dalarn lima tahun terakhir.

Tahun lalu, berdasarkan data ME Steel, lembaga riset baja berpusat di Tìmur Tengah, harga baja dunia merosot 37% menjacli US$ 325 per ton pada 2015 atau terendah dalam 10 tahun terakhir. Pada periode ini, harga baja dimía menyentuh titik tertinggi Agustus 2008 sebesar US$ 1.100 per ton. Namun, sejak 2009, harga baja dunia terus tergelincir.

“Langkah Tiongkok memangkas kapasitas produksi positif bagi industri baja, karena harga terkerek,” ujar Direktar Eksekutif Indonesian Iron dan Steel Industry Association (IISIA) Hidayat Triseputro di Jakarta, belum lama ini.

Bank investasi Amerika Serikat (AS) Morgan Stanley mcmperkirakan, 2016 adalah tahun kebangkitan harga baja. Alasannya, pemerintah Tiongkok sudah mengumumkan program reformasi pasokan produk hasil industri. Dalam program itu, pemerintah Tiongkok mengalokasikan dana 30 miliar yuan untuk menurunkan kapasitas produksi industri manufaktur, termasuk baja.

Seiring dengan itu, Hidayat menambahkan, industri baja mampu tumbuh mendekati 5% kuartal I tahun ini. Hal ini didorong pertumbuhan ekonomi nasional dan belanja infrastruktur pemerintah. Selain itu, implementasi program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) berdampak positif terhadap industri baja.

“Pemerintah sudah menyadari dan menyiapkan bagaimana produk lokal menjadi tuan rumah, mudah-mudahan ini tetap konsisten,” kata Hidayat.

Tahun ini, dia menegaskan, industri baja gencar mengamankan pasar dalam negeri. Ini penting dilakukan di tengah terpukulnya industri baja dunja, terutama Tiongkok. Apalagi, penjualan baja domestik diperkirakan naik tajam tahun ini, seiring percepatan pembangunan infrastruktur.

“Memang beberapa tahun belakangan ini penjualan cenderung turun, sehingga kita harus bertindak cepat dengan menyelamatkan pasar untuk industri lokal. Itu alasan asosasi meminta pemerintah menggunakan baja lokal dalam proyek infrastruktur,” kata Hidayat.

Indonesia, menurut dia, berpotensi pasar yang berbeda dengan negara lain. Oleh sebab itu, baja lokal harus digunakan dalam proyek strategis, agar industri lokal tidak gulung tikar.

Hidayat mencatat, setiap tahun, industri baja Tiongkok mengekspor 112 juta ton. Padahal, Tiongkok sudah memangkas produksi.

Impor Turun

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) I Gustri Putu Suryawiryawan mengatakan, penerapan P3DN untuk industri baja mulai menunjukan hasil positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor besi baja per Februari 2016 turun 31%. Kemenperin hingga kini terus mencermati realisasi proyek yang sedang berjalan.

“Penurunan impor bisa juga terjadi karena di awal tahun beberapa proyek masih dalam proses tender. Kita harus lihat setelah semester I,” kata Putu.

Dia memperkirakan pertumbuhan belanja infrastruktur mencapai 6% lebih kuartal I-2016. Kenaikan produksi baja bisa mendekati pertumbuhan tersebut.

“Tahun ini, memang terasa membaik. Paling terasa dan harga yang mulal naik ke taraf normal, tahun lalu tidak normal. Saya berharap pemerintah konsisten menggunakan baja produksi dalam negeri untuk proyek infrastruktur,” kata Hidayat.

 Dilihat : 3908 kali