04 April 2016
PT KS Tingkatan Daya Saing dan Kembangkan Bisnis Inti untuk Peningkatan Kinerja

RUPS Tahunan Sahkan Laporan Keuangan Tahun Buku 2015

JAKARTA-Di tengah kondisi perekonomian dunia yang penuh tantangan, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (PTKS) terus berupaya meningkatkan kinerjanya melalui berbagai langkah strategis.

Pertama, meningkatkan daya saing biaya dengan menyelesaikan pembangunan pabrik Blast Furnace berkapasitas 1,2 juta ton yang akan tuntas pada akhir tahun 2016 ini, serta merencanakan pembangunan Coal Fire Steam Boiler 2x80 MW dan PLTU Batubara 1x150 MW.

Ke-dua, pengembangan bisnis inti dengan mendirikan pabrik HSM#2 berkapasitas 1,5 juta ton, pembangunan Push Pull Pickling Line dan Reversing Cold Mill untuk memproduksi baja lembaran dingin serta pembangunan pabrik baja tulangan dan profil oleh Joint Venture PT Krakatau Osaka Steel berkapasitas 500 ribu ton per tahun yang akan mulai beroperasi pada akhir 2016.

Ke-tiga, pengembangan industri hilir yang bernilai tambah tinggi oleh Joint Venture PT Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) guna memproduksi baja lapis galvanis untuk otomotif berkapasitas 500 ribu ton per tahun. Pembangunan ditargetkan selesai pada triwulan III 2017.

Ke-empat, meningkatkan bisnis non baja mencakup peningkatan kapasitas pasokan air industri, pengembangan kapasitas bongkar muat pelabuhan, dan menambah land banking untuk lahan industri.

Terakhir, PTKS secara bertahap akan merestrukturisasi bisnis untuk meningkatkan nilai perusahaan dan mengantisipasi dinamika bisnis di masa depan. Salah satunya adalah saat ini Perseroan sedang melakukan penjajagan bersama dengan BUMN yang bergerak dibidang pelabuhan untuk melakukan sinergi pengembangan anak perusahaan yang bergerak dibidang jasa pelabuhan.

Selain langkah strategis di atas, PTKS pada 2015 telah melakukan berbagai upaya perbaikan. Di September 2015 Perseroan melakukan revaluasi aset, sehingga total aset tercatat naik signifikan sebesar 42% menjadi US$ 3,7 miliar per 31 Desember 2015 dari tahun sebelumnya yang sebesar US$ 2,6 miliar. Dari revaluasi aset tersebut, Perseroan juga membukukan total penghasilan komprehensif yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk naik dari semula rugi US$ 0,15 miliar menjadi membukukan laba US$ 0,91 miliar,” jelas Direktur Utama PTKS Sukandar seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), di Jakarta, Senin (4/4).

Lebih lanjut Sukandar memaparkan, manajemen PTKS terus menerapkan efisiensi biaya guna menyiasati penurunan harga baja dunia. Sepanjang 2015, realisasi efisiensi mencapai US$ 17,98 juta yang berasal dari optimalisasi operasional, penurunan Non Conforming Product, efisiensi biaya angkutan, dan restrukturisasi organisasi. Perseroan juga berhasil menekan Beban Pokok Penjualan sehingga pada Semester Dua mengalami penurunan sebesar 8,2% dibanding Semester Satu. Selanjutnya penurunan Beban Pokok Penjualan tersebut mampu menekan kerugian kotor sebesar 73% dibanding Semester Satu yaitu dari USD 73 juta menjadi USD 20 juta Dolar Amerika.

Langkah lain yang dilakukan Perseroan guna menghadapi tekanan yang dialami bisnis baja adalah dengan melakukan upaya perbaikan non operasional seperti pengendalian belanja modal (capex), mengusulkan dukungan dari pemerintah, dan melakukan upaya sinergi dengan BUMN.

Sinergi BUMN dilakukan seperti bersama Perusahaan Listrik Negara (PLN) di mana PTKS akan memasok produk baja untuk proyek jaringan transmisi, BUMN karya untuk kebutuhan baja proyek infrastruktur dan swasta, BUMN semen hingga BUMN perkapalan dan manufaktur.

Dengan upaya-upaya yang telah dilaksanakan tersebut, Perseroan masih tetap menjadi pemimpin pasar domestik di tahun 2015 untuk produk HRC dengan pangsa pasar 39% dan produk CRC dengan pangsa pasar 29%.

Di luar hal-hal tersebut, manajemen juga secara internal terus melakukan pengembangan bisnis melalui lima strategi.

Harga Baja Mulai Membaik

Lebih lanjut Sukandar memaparkan, harga baja HRC global mengalami penurunan hingga akhir 2015. Penurunan harga dipicu oleh peningkatan kelebihan pasokan baja dunia terutama di Tiongkok yang mencapai 111 juta ton pada 2015, dibanding 83 juta ton pada 2014. Hal ini berdampak pada penurunan harga baja domestik.

Dari sisi permintaan domestik, menurut Sukandar, telah terjadi perbaikan mulai Semester II sehingga PTKS mampu mendongkrak volume penjualan 32% yakni dar 840 ribu ton pada Semester I menjadi 1,1 juta ton pada Semester II. Nilai penjualan pun membaik dari USD 525 juta menjadi USD 528 juta.

Dari sisi pangsa pasar terjadi peningkatan untuk baja HRC dari 34% pada semester I menjadi 43% pada semester II. Demikian pula dengan pangsa pasar baja CRC yang turut naik dari 26% menjadi 33%. Secara keseluruhan pangsa pasar baja HRC PTKS pada 2015 mencapai 39% dan CRC sebesar 29%.

Memasuki 2016, terjadi perbaikan harga baja dunia seiring diumumkannya kebijakan pemerintah Tiongkok untuk memangkas kapasitas produksi baja hingga 150 – 200 juta ton pada kurun 5 tahun mendatang. Harga baja HRC global telah bergerak naik dari US$ 265 per ton pada akhir Desember 2015 menjadi 360 ton pada awal Maret 2016. Di tengah dinamisnya kondisi eksternal tersebut, manajemen PTKS terus berupaya memperkokoh fundamental perusahaan agar ke depan semakin baik.

Hasil Keputusan RUPST PTKS tahun buku 2016, sebagaimana terlampir.

Unduh Lampiran

 Dilihat : 8241 kali