01 April 2016
Antisipasi Produk Impor, Produsen Baja Gencar Lakukan Inovasi

Untuk mempertahankan pangsa pasar serta keberlangsungan usaha di tengah fluktuasi harga baja global yang sempat anjlok di bawah ongkos produksi, produsen baja hilir domestik menyiasatinya dengan inovasi produk.

Simon Linge, Presiden Director PT NS BlueScope Indonesia, mengatakan volatilitas harga baja dunia hanya dapat dihadapi melalui inovasi, peningkatan produktivitas, kualitas serta pelayanan prima kepada konsumen.

“Di tengah harga yang fluktuatif, saat ini kami juga terganggu dengan kompetitor tidak langsung, yakni para importir barang seperti dari China dan Vietnam. Tetapi pasar baja Indonesia sangat prospektif dengan pertumbuhan 10 tahun terakhir mencapai dua kali lipat,” ujarnya, Selasa (29/3).

Oleh karena itu, lanjutnya, baru-baru ini perusahaan meluncurkan hasil inovasi terbaru yakni prepainted steel berteknologi paint system EON yang dapat memperpanjang masa penggunaan baja baik untuk manufaktur, properti dan lainnya. Sally Dandel, VP Marketing NS Blue-Scope Indonesia, mengatakan untuk mempertahankan pasar di tengah persaingan global, perusahaan menjalin kemitraan dengan arsitek, pengembang properti di seluruh Indonesia.

Selain inovasi produk, perluasan pasar dan sistem garansi, lanjutnya, pasokan bahan baku juga diambil dari produsen do mestik, yakni PT Krakatau Steel Tbk. Dengan skema ini, tingkat kandungan dalam negeri atas baja yang dihasilkan menjadi tinggi dan mudah diterima oleh proyek nasional.

Saat ini, NS BlueScope Indonesia yang menjadi pemimpin pasar di segmennya memiliki kapasitas produksi sebesar 210.000 ton per tahun untuk baja lapis logam serta 55.000 ton per tahun untuk baja lapis bercat.

Sukandar, Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk., mengatakan untuk menjamin volume penjualan di pasar domestik, KS telah melakukan long term supply agreement dengan sejumlah konsumen seperti PT NS Blue Scope Indonesia, PT Sunrise, dan PT Fumira untuk produk cold rolled coil (CRC). “Kesepakatan long term supply agreement bisa mencapai 25 tahun. Skema ini kami jalani untuk menjamin volume penjualan di tengah membanjirnya produk impor serta memberi kepastian pasokan bahan baku kepada mitra bisnis di dalam negeri,” tuturnya.

Selain itu, untuk meningkatkan daya saing dengan produk impor, fasilitas produksi blast furnace berenergi batu bara akan beroperasi pada akhir tahun ini. Melalui fasilitas ini, KS dapat menurunkan produksi slab hingga US$60 per ton melalui penghematan energi hingga 100 Megawatt per hari.

Bisnis Indonesia, Jakarta, 30 Maret 2016

 Dilihat : 7307 kali