22 Maret 2016
Harga Bijih Besi Mulai Mengilap

Properti China Membaik

JAKARTA — Harga bijih besi terpantau meningkat seiring dengan pulihnya pasar properti China dan rencana kebijakan untuk mempermudah pinjaman dalam perdagangan ekuitas.

Pada perdagangan Senin (21/3), harga bijih besi untuk kontrak Mei 2016 meningkat 12 poin atau 2,58% menjadi 70,53558 per ton. Sementara bursa Dalian Commodity Exchange sebagai bursa berjangka teraktif di China menunjukkan harga melonjak 4,5% menjadi 469,5 yuan atau US$72,39 per ton.

Data Bloomberg menunjukkan harga bijih besi sepanjang 2016 sudah meningkat tajam sebanyak 42,4%.

Bijih besi sudah mengalami koreksi harga selama tiga tahun berturut-turut akibat berlebihnya pasokan. Namun, permintaan baja China diprediksi akan meningkat sehingga menaikkan sentimen potensi penguatan harga bijih besi.

Penyerapan baja berbanding lurus dengan menanjaknya harga properti Negeri Panda di sebagian besar kota sejak 2014 setelah pemerintah mulai melonggarkan pembatasan.

Data dari National Bureau of Statistics of China (Biro Statistik Nasional China) menunjukkan harga rumah baru naik di 47 kota pada Februari dibandingkan 38 kota pada Januari. Penjualan dalam dua bulan pertama 2016 juga naik 3%, dibandingkan peningkatan 1% sepanjang tahun lalu.

Pemerintah juga meningkatkan kuota pinjaman broker untuk memacu geliat pasar ekuitas. China Securities Finance Corp., lembaga negara yang mendukung penyediaan dana bagi para broker, akan memperpanjang durasi pinjaman untuk sejumlah perusahaan sekuritas.

Senior Commodity Strategist Australia & New Zealand Banking group Ltd. di Sydney Daniel Hynes menuturkan, kenaikan harga rumah mendukung penguatan harga baja dan bijih besi sebagai bahan bakunya.

"Namun, tren bearish masih membayang hingga akhir tahun meski peningkatan sejak awal tahun terbilang tinggi,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (21/3)

Senada dengan ANZ, Goldman Sachs Group Inc melansir barga bijih besi di akhir 2016 tidak akan melewati level US$35 per ton. Morgan Stanley pun menurunkan proyeksi harga bijih besi 2016 sebesar 14% menjadi US$40 per ton dan 2017 anjlok 17% menuju ke US$37 per ton.

Diperkirakan harga masih cukup stabil hingga pertengahan tahun ini karena aktifnya kinerja perdagangan baja, kemudian berangsur menurun drastis.

Laporan Morgan menyebutkan, estimasi harga bijih besi pada kuartal III/2016 anjlok 29% menjadi US$32 per ton, sedangkan kuartal IV/2016 turun 25% menjadi US$30 per ton.

PENYUMBANG TERBESAR

China menyumbang hampir setengah pasokan baja dunia, tetapi pabrik dalam negeri sedang mengalami tekanan berat dan berencana memangkas produksi akibat melemahnya permintaan. Tahun lalu, tingkat produksi turun pertama kalinya sejak 1981.

World Steel Association atau Asosiasi Baja Dunia mencatat produksi baja mentah dan 66 negara pada Januari 2016 turun 7,1% (secara tahunan) menjadi 128 juta ton. Negeri Tembok Raksasa memimpin pelemahan produksi sebesar 7,8% secara tahunan menuju level 63,2 juta ton.

Sebelumnya, Bank Dunia, dalam Commodity Market Outlook January 2016 memproyeksikan harga logam secara keseluruhan dapat terkoreksi 10%. Hal tersebut terjadi akibat menurunnya permintaan pasar negara berkembang, khususnya China, dan peningkatan kapasitas produksi yang baru.

Harga bijih besi menurun paling tajam sekitar 25%, karena berkurangnya impor dari produsen baja di Negeri Panda dan adanya pasokan baru di Australia dan Brazil. Penurunan nilai jual diikuti juga oleh nikel (16%) dan tembaga (9%).

Walaupun begitu, dengan pengetatan belanja modal para produsen tetap akan melakukan produksi untuk menjaring laba. Menurut Mackenzie, faktor utama yang membuat suplai masih melebihi pertumbuhan permintaan adalah langkah China, yang meninggalkan industri berat. (Bloomberg/Hafiyyan)

Bisnis Indonesia, 22 Maret 2016

 Dilihat : 7314 kali