24 Februari 2016
Harga Domestik Lebih Murah Dibanding Impor

JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta penurunan harga baja dunia berdampak pada lebih murahnya harga baja produksi dalam negeri ketimbang impor.

Ario N. Setiantoro, Executive Committee Cluster Wire of Product Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), mengatakan harga baja produksi dalam negeri Iebih murah 10% dibandingkan Impor.

“Saat ini dari pada impor, Iebih baik membeli produk dalam negeri. Oleh karena itu data impor besi dan baja dari BPS pada Januari terjadi penurunan. Di sisi lain proyek infrastruktur pemerintah meningkatkan permintaan hingga 20% dari biasanya,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (23/2).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), impor besi dan baja pada Januari 2016 hanya US$504,2 juta, turun 34,46% dibandingkan Januari 2015 sebanyak US$769,3 juta.

Dia menuturkan tidak hanya proyek infrastruktur pemerintah yang mendorong peningkatan permintaan besi dan baja. Sektor swasta, khususnya properti, juga sudah mulai membangun.

Penurunan impor, ujarnya, juga disebabkan sejumlah peraturan pemerintah yang memperketat impor, seperti Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) untuk steel wire road, serta barang larangan dan/atau pembatasan (Lartas).

“Selain harga lebih murah, impor baja seperti wire road low carbon juga sudah diperketat, sehingga lebih baik pakai dalam negeri. Tetapi untuk produk yang jumlah dan kualitasnya kurang memadai di dalam negeri masih mengandalkan impor,” tuturnya.

Di lain sisi, lanjutnya, penurunan produksi baja global yang terjadi pada tahun lalu serta deklarasi pemerintah China yang akan memangkas produksi sekitar 100 juta ton — 150 juta ton pada tahun ini diharapkan dapat memperbesar porsi penggunaan baja domestik di dalam negeri.

PRODUKSI CHINA

Hidayat Triseputro, Direktur Eksekutif IISIA, mengatakan pemangkasan produksi baja China berdampak pada peningkatan harga baja dunia. Di sisi lain, rendahnya harga baja di dalam negeri seiring belum terpakainya stok baja yang diimpor ketika harga rendah.

“Di dalam negeri masih rendah karena stok bahan baku yang diimpor ketika harga rendah belum habis. Setelah stok lama habis maka akan terbentuk harga keseimbangan baru di dalam negeri,” ujarnya.

Jika Pemerintah China konsisten menjalankan kebijakan pengurangan produksi baja, harga baja dunia akan segera terangkat. Di lain sisi, pengerjaan proyek di dalam negeri diharapkan mengutamakan baja domestik.

Berdasarkan data World Steel Association, produksi baja mentah Asia sepanjang 2015 turun 2,3% dibandingkan 2014, dengan volume 1.113 juta ton. Penurunan ini didorong oleh penurunan produksi di China, Jepang dan Korea Selatan.

Bisnis Indonesia, 24 Pebruari 2016

 Dilihat : 5325 kali