11 Februari 2016
Target 3.200 Km Rel, Peluang Industri Komponen

sumber : Media Indonesia, 11 Februari 2016

Industri perkeretaapian termasuk ke sektor industri berkelanjutan yang membutuhkan pembaharuan komponen dalam periode tertentu. Untuk itu, diperlukan kesiapan industri penunjang di Tanah Air agar kebutuhan komponen tak sepenuhnya bergantung impor.

“Industri berkelanjutan tidak lepas dari komponen. Lihat saja industri kedirgantaraan, kita bisa saja membeli pesawat, tapi untuk perawatan, sering kesulitan memasok kebutuhan komponen atau suku cadang,” ucap Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan di Jakarta, kemarin.

Adanya target pembangunan 3.200 km jalur kereta api dalam lima tahun mendatang, ditambah niat sejumlah kota besar mengekor Ibu Kota membangun moda transportasi berbasis rel seperti light rail transit (LRT), sistem moda raya terpadu (MRT), dan monorel disebut Putu sebagai peluang pasar memajukan industri penunjang perkeretaapian.

Putu tidak memungkiri masih adanya keraguan dan kontraktor menggunakan komponen yang dihasilkan industri lokal.

“Kuncinya itu volume. Produk komponen industri penunjang kereta api dalam negeri tidak kalah dengan luar. Asalkan ada pasar, tentu industrinya akan lebih berkembang,” tegasnya.

Saat ini, beberapa BUMN bergerak di sektor industri penunjang komponen kereta api, seperti PT Pindad (persero) untuk rem, PT LEN (persero) untuk persinyalan, PT Krakatau Steel (persero) Tbk untuk bahan baku baja, dan PT Barata (persero) untuk bogie.

Namun, menurut Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto Dwi Atmoko, sebelum dibentuk asosiasi, belum ada sinergi di antara BUMN tersebut.

“Industri penunjang itu penting baik prasarana, sarana, dan SDM. Dengan membentuk asosiasi, bisa menjadi jembatan antara institusi, swasta, dan kementerian,” tutur Hermanto.

Ketua Umum Asosiasi Industri Penunjang Perkeretaapian Indonesia (AIPPI) Tony Budi Santoso memastikan kesiapan industri penunjang di dalam negeri. Dia mengklaim sejumlah proyek kereta api di luar proyek kereta api cepat Jakarta menyerap 70% komponen dalam negeri.(Tes/E-3)

 Dilihat : 4337 kali