06 Januari 2016
Hadapi MEA, Industri Baja Harus Konsolidasi

sumber : Investor Daily, 06 Januari 2016

Jakarta - Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah berlaku membuat industri baja nasional harus berkonsolidasi untuk menghadapi potensi serbuan baja dari negara-negara Asean. Ada tiga negara yang perlu diwaspadai, yakni Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Mulai tahun ini, negara-negara Asean akan bersaing ketat untuk menjadi pemain utama industri baja di kawasan ini. Oleh karena itu, pelaku industri baja berharap pemerintah dapat menemukan cara untuk melakukan konsolidasi dan menyatukan industri baja nasional.

"Sama seperti negara-negara Asean lainnya, tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah serangan baja impor murah dari Tiongkok dan negara-negara di luar Asean. Dengan demikian, negara-negara Asean harus kompak bersatu untuk mengambil langkah-langkah taktis dan strategis untuk mengamankan industri di Asean maupun di negaranya masing- masing,"kata Co-Chairman Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Hidayat Triseputro di Jakarta, Selasa (5/1).

Hidayat menambahkan, dukungan pemerintah melalui penggalakkan program SNI, tata bea impor, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), pemberian tax allowance, serta peningkatan penyerapan produk baja terutama untuk proyek-proyek pemerintah yang menggunakan APBN diharapkan dapat menggerakkan industri baja nasional untuk terus tumbuh.

Hidayat menilai, ada tiga negara Asean yang berpontensi merebut pasar baja Indonesia. Pertama, Thailand, yang merupakan pasar baja terbesar di Asean dengan konsumsi 17,3 juta ton. Selanjutnya, Vietnam dengan rata-rata pertumbuhan tertinggi 20% lebih selama tiga tahun terakhir. Ketiga, Malaysia, yang pasar bajanya memang kalah oleh Indonesia, namun produksi dan konsumsi baja negeri itu terus melonjak.

Presiden Direktur PT Arcon Prima Indonesia Ari Slamet, mengatakan diperlukan konsolidasi dan persatuan industri baja nasional dalam rangka menyelamatkan industri baja nasional. "Pemerintah harus bisa menemukan cara agar menciptakan iklim industri yang baik, sehingga pertumbuhan industri dalam negeri lebih berpihak pada produsen lokal,"tambah Ari

Direktur Bukaka Teknik Utama sekaligus Ketua Asosiasi Pabrikan Jembatan Baja Sofiah Balfas berharap industri baja nasional bisa menjadi tokoh utama dalam pertumbuhan ekonomi.

"Setiap Industri yang menggunakan baja sebagai bahan baku sudah semestinya menggunakan produk lokal mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Kami dari asosiasi pabrikan baja mengharapkan jembatan baja disuplai oleh perusahaan dalam negeri,"terang Sofiah.

Sementara Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) I GUsti Putu Suryawirawan menjelaskan, industri besi dan baja merupakan industri prioritas yang dapat menopang sektor industri lain. Namun, saat ini, industri baja nasional menghadapi berbagai tantangan.(ac)

 Dilihat : 4589 kali