23 Dessember 2015
Krakatau Steel Sasar Proyek Infrastruktur untuk Tingkatkan Volume Penjualan

KS Tetap Mempertahankan Posisinya Sebagai Pemimpin Pasar Baja Domestik untuk Produk Hot Rolled Coil dan Cold Rolled Coil.

PE 4.jpgJakarta (23/11) – Proyek-proyek infrastrukur pemerintah yang mulai terealisasi pada akhir tahun akan memberikan dampak postif bagi industri besi dan baja. PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) sebagai produsen besi dan baja nasional mulai mencatatkan peningkatan volume penjualan pada kuartal III 2015.

Direktur Utama PT KS Sukandar mengatakan, Perseroan telah melakukan revaluasi aset tetap pada kelompok aset tanah perusahaan pada September 2015. Hasil revaluasi aset tetap sudah dimasukkan dan tercermin dalam laporan keuangan konsolidasi perseroan per 30 September 2015. “Hasil penilaian ulang asset menggambarkan asset Perseroan meningkat 36,13% pada kuartal III 2015 menjadi US$3,545 juta dari sebelumnya US$2,604 juta pada kuartal III 2014,” jelas Sukandar di Jakarta, Rabu (23/12).

Ia menjelaskan, sebagai dampak revaluasi aset tersebut, Perseroan membukukan laba komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$910,9 juta, jika dibandingkan pada kuartal III 2014 mencatatkan rugi koprehensif sebesar US$109,8 juta. Dengan dampak ini Perseroan juga yang menghasilkan kenaikan nilai ekuitas Perseroan pada kuartal III 2015 menjadi US$1.794,9 juta.

Sementara itu, Direktur Pemasaran PT KS Dadang Danusiri mengatakan langkah sinergi antar BUMN bisa memberi dampak positif dan meningkatkan volume penjualan Perseroan. Ia mengatakan pihaknya berupaya memenuhi permintaan baja dari proyek-proyek infrastruktur BUMN, seperti proyek jembatan, pabrik semen, Light Rail Transit (LRT), proyek pipa gas, dan proyek jaringan transmisi listrik 46.000 kilo meter sirkit (KMS) PLN.

Menurutnya, pesanan baja yang diterima PTKS meningkat tajam, seiring respons pasar yang positif terhadap berbagai kebijakan yang diambil pemerintah. Sebagai contoh, sinergi BUMN karya dengan PTKS kemudian pengadaan tabung LPG, jembatan, dan pembuatan kapal, serta realisasi belanja pemerintah untuk proyek-proyek infrastruktur.

“Selama Juni hingga Agustus 2015, pihaknya telah menandatangani kerja sama untuk memasok baja ke berbagai pihak, seperti PT NS Bluescope Indonesia, PT Fumira, Cedex Steel and Metals Pty Ltd, dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Dengan PT NS Bluescope Indonesia, PTKS telah meneken perjanjian Long Term Supply Agreement (LTSA),” ujar Dadang.

Dadang juga menyambut baik rencana pemerintah yang akan melakukan efisensi dalam pembangunan transmisi listrik, yang bahan baku utamanya adalah baja. Apalagi, PT KS sebagai industri baja nasional diharapkan oleh pemerintah sebagai pemasok utama bahan baku untuk pembangunan transmisi tersebut.

Harga Pasar Baja Turun

Di tengah melemahnya harga dan permintaan pasar baja global, Perseroan tetap mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar baja domestik. “Perseroan menguasai pangsa pasar dominan untuk produk baja gulungan canai panas dan baja gulungan canai dingin, dengan menguasai pasar masing-masing sebesar 37% dan 28%,” tambah Sukandar.

Permintaan baja China turun sebesar 7,5% di bulan Juli 2015, merupakan penurunan terbesar sejak krisis finansial 2008, sedangkan untuk tahun ini diperkirakan turun sebesar 3,4% (YoY). Akibatnya, produsen baja di China mengalihkan fokus ke pasar internasional, yang ditunjukkan oleh kenaikan ekspor baja China sebesar 32,1% (YoY) di bulan September 2015 dan menyebabkan berlanjutnya kondisi oversupply di pasar global, sehingga berdampak pada turunnya harga pasar.

Dengan kondisi ini juga berdampak pada Perseroan yang mengalami penurunan pendapatan bersih pada kuartal III 2015 sebesar 27,0% (YoY) menjadi US$ 1.360 juta. Hal ini yang disebabkan oleh penurunan volume penjualan dan harga jual rata-rata produk baja.

World Steel Association (WSA) memproyeksikan penurunan permintaan baja global sebesar 1,7% menjadi 1.513 juta ton tahun ini, terutama disebabkan oleh melemahnya perekonomian China. Untuk tahun 2016 permintaan baja global diprediksi tumbuh sebesar 0,7% dengan ekspektasi perekonomian China mulai pulih.

Penurunan harga baja juga terjadi di pasar Indonesia karena stagnannya permintaan di semester I 2015. Namun permintaan baja sedikit menguat pada kuartal IV2015 setelah pemerintah mulai merealisasikan belanja untuk proyek-proyek infrastruktur.

 Dilihat : 4802 kali