26 November 2007
KADI: Data Kasus Dumping HRC Valid

JAKARTA: Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) menegaskan proses investigasi dumping yang menggunakan petisi baja PT Krakatau Steel (KS) di
kirimkan pada 28 Juni 2006 tetap sah dan valid sebagai dasar untuk memutuskan sebuah perkara dumping impor hot rolled coils (HRC).
Ketua Umum KADI Halida Miljani menepis sikap sejumlah pihak termasuk produsen hilir baja yang meragukan validitas dan ketepatan waktu dalam penerbitan petisi baja dumping, karena isinya dinilai telah kedaluwarsa."Sesuai aturan organisasi perdagangan dunia (WTO), data yang kami gunakan dalam investigasi itu adalah data 6 bulan sebelum laporan tersebut dimasukkan. Jadi, kapan pun dilakukan investigasi tetap mengacu kepada data tersebut," kata Halida, saat dihubungi Bisnis, kemarin. Dia menjelaskan masa investigasi akan berlangsung paling lambat 18 bulan.

Atas ketentuan tersebut, keputusan atas kasus dugaan praktik dumping oleh lima negara di industri baja nasional tersebut akan ditentukan pada 27 Desember 2007 mendatang. "Jadi, masalahnya bukan pada keterlambatan tapi pada ketentuan internasional itu," ujarnya.
Saat ini, lanjut Halida, KADI telah melayangkan surat pertemuan dengar pendapat (public hearing) kepada seluruh pihak terkait kasus dumping yakni pihak tertuduh, penuduh, para importir dan produsen produk sejenis.Rencananya, pertemuan tersebut akan diselenggarakan besok (27 November). Dalam pertemuan itu, akan hadir perwakilan dari pemerintah yakni Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan dan Direktorat Bea dan Cukai, Departemen Keuangan.

"Ini hearing terakhir dan kami akan pertemukan mereka untuk pertama kali. Sebelumnya kami sudah melakukan private hearing dan personal hearing. Kami akan mendengarkan argumen terakhir mereka," tandasnya.

Merugi

Di tempat terpisah, Direktur Utama PT KS Fazwar Bujang mengatakan akibat serbuan baja dumping tersebut, perusahaan BUMN baja ini merugi Rp 193 miliar pada 2006. "Penjualan KS yang anjlok saat itu akibat keadaan injuries [kerugian] yang dialami perusahaan yang dipicu oleh praktik dumping HRC [baja canai panas]," katanya, akhir pekan lalu.

General Manager Penjualan PT KS Purwono Widodo menambahkan akibat serbuan produk impor murah yang menyebabkan anjloknya penjualan 2006, perseroan akhirnya mengajukan petisi kepada Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) terhadap lima negara yang diduga melakukan dumping yakni China, India, Taiwan, Thailand, dan Rusia.

"Kami sudah menyerahkannya kepada KADI dengan Period of Investigation (POI) pada 2005. Waktu itu kami menunjukkan kondisi injuries (kerugian) yang terjadi sehingga mengakibatkan penjualan baja kami pada kuartal I dan 11/2006 hancur dan merugi ratusan miliar."

Technical Advisor Perluasan dan Pengembangan PT Essar Indonesia Djoko Subagyo memaparkan impor HRC setiap tahun meningkat sejak 2000 sampai 2005, yakni rerata 13,3% per tahun.Namun, tindakan impor tersebut semata-mata akibat produsen HRC nasional tidak mampu menambah produksi dan kualitas HRC.

Sumber : Bisnis Indonesia, Page : T7 

 

 Dilihat : 2552 kali