28 November 2015
Industri Baja Siap Hadapi MEA

Investor Daily, Jakarta, 25 November 2015, hal 8

Penulis: (ac)

Industri baja nasional siap menghadapi berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) awal 2016. Modal industri baja adalah dukungan pemerintah, peningkatan produktivitas, dan usaha keras untuk berkembang.

“Kami harap industri baja menjadi industri yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa,” ujar Komisaris Utama PT Krakatau Steel Tbk (KS) Achmad Sofjan Ruky pada Conference & Technology Forum for Indonesia Steel Industry Development di Jakarta, Selasa (24/11).

Turut hadir pada acara itu, Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan, dan Pariwisata Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno yang mewakili Menteri BUMN Rini Soemarno,Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin, dan CEO Pohang Iron and Steel Company (Posco) Oh-Joon Kwon.

Achmad mengatakan, dalam acara itu, akan dibahas isu-isu penting terkait potensi konsumsi baja yang besar, rendahnya kemampuan pasokan, tantangan industri baja ke depan, dan solusiuntuk menjawab tantangan tersebut.

Sementara itu, Fajar Harry Sampurno mengungkapkan, pemerintah akan mendorong industri baja nasional menjadi industri terbesar pendorong kemajuan ekonomi dan pembangunan nasional. Untuk itu, pemerintah akan memberikan dukungan berupa pembenahan dari sisi regulasi dan penciptaan iklim usaha kondusif.

Dua hal itu diharapkan membuat pelaku industri baja nasional bisa menjalankan kegiatan bisnis dengan baik. Imbasnya, ekonomi nasional akan kena dampak positif. “Industri baja adalah induk dari industri lainnya atau mother of industries,“ kata Fajar Saat ini, demikian Fajar, industri baja menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari berlakunya Asea Free Trade Area (AFTA) dan MEA awal 2016.

Meski begitu, penjualan baja domestik terus meningkat. Pada 2014, penjualan baja domestic mencapai 13 juta ton. Saleh Husin yang menjadi keynote speaker pada acara tersebutmemaparkan, industri besi dan baja merupakan industri prioritas yang dapat menopang sektorindustri lain, seperti industri galangan kapal. Namun, saat ini, industri baja nasional menghadapi berbagai tantangan seperti kurangnya penguasaan pasar dalam negeri dan bahan baku.

Perlambatan ekonomi nasional juga memukul industri baja. Menurut dia, dengan kondisi tersebut, industri baja nasional perlu segera berbenah dalam menghadapi tantangan, di antaranya dengan meningkatkan kapasitas produksi.

Pemerintah melalui BUMN terus mendorong industri baja dengan mengeluarkan berbagai kebijakan. Bahkan, Presiden sudah menginstruksikan perusahaan BUMN untukmenggunakan produk baja lokal, terutama dalam pengerjaan menara listrik PT PLN.

Oh-Joon Kwon menambahkan, saat ini, dunia telah melewati terowongan gelap ekonomi global dan memasuki era normal baru, yakni pertumbuhan ekonomi rendah. Ini menawarkan peluang bagi industri baja. Posco memiliki pabrik baja terintegrasi berkapasitas 3 juta ton per tahun di Cilegon, Banten. Pabrik itu dioperasikan PT Krakatau Posco, perusahaan patungan Posco dan KS.

 Dilihat : 4396 kali