01 Dessember 2015
Industri Baja Nasional Siap Hadapi Tantangan Persaingan Global Menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2020

“Acara Conference & Technology Forum for Indonesia Steel Industry Development Yang Dihadiri Pelaku Industri Baja dan Stakeholders Diharapkan Menjawab Isu-Isu Penting Terkait Tantangan Industri Baja Ke Depan”

conference KSG.jpgJAKARTA, 24 November 2015 – Pemerintah akan mendorong industri baja nasional untuk menjadi industri terbesar sebagai penghela kemajuan ekonomi dan pembangunan nasional. Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan, dan Pariwisata Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno sebagai perwakilan dari Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan dukungan pemerintah dalam hal ini yakni melakukan pembenahan dari sisi regulasi dan penciptaan iklim yang kondusif agar pelaku industri baja nasional bisa menjalankan kegiatan bisnisnya dengan baik yang diharapkan berdampak bagi perekonomian nasional.

“Industri baja adalah induk dari industri lainnya, atau industri baja adalah Mother of Industries,“ kata Fajar Harry Sampurno, Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan, dan Pariwisata Kementerian BUMN yang mewakili Menteri BUMN Rini Soemarno dalam opening speech acara Conference & Technology Forum for Indonesia Steel Industry Development di Jakarta, Selasa (24/11).

Fajar Harry Sampurno dalam sambutannya menyatakan bahwa sebenarnya jika kita melihat sejarah dari industri baja nasional, Indonesia sudah lebih dulu mengembangkan industri bajanya melalui industri baja Trikora pada tahun 1960, namun sayang potensi ini kurang dimanfaatkan dengan baik pada masa itu. Terlebih dengan adanya krisis ekonomi tahun 1998 yang menempa banyak perusahaan di Indonesia. Regulasi pun dirasa kurang mendukung perkembangan sektor industri nasional terutama industri baja hingga akhirnya pada tahun 2014 muncul sebuah UU No. 3 Tahun 2014 sebagai undang-undang perindustrian baru yang pertama kalinya menjelaskan definisi tentang industri strategis. Undang-undang itu ditopang dengan UU Perdagangan No. 7 diharapkan menjadi dorongan yang luar biasa bagi industri nasional terutama industri baja.

Saat ini lingkungan dunia memang sedang tidak bersahabat, seperti adanya WTO, AFTA, dan MEA, namun permintaan baja terus meningkat. “Hingga akhir 2014, permintaan baja domestik mencapai 13 juta ton atau naik dibanding tahun lalu. Diharapkan mulai tahun ini industri baja bisa bertumbuh dan 15 tahun mendatang industri baja dapat menjadi industri yang menghela sektor industri lainnya,” kata Fajar.

Dengan adanya road map clustering seluruh BUMN di Indonesia, diharapkan di antara BUMN dapat memanfaatkan peluang untuk bekerja sama baik dengan perusahaan swasta nasional maupun dengan luar negeri.

“Kementerian BUMN selalu mendorong Krakatau Steel sebagai leader industri baja nasional,” tambah Fajar. Hal ini pun nantinya akan semakin terbantu dengan adanya arahan dan motivasi dari Menteri Perindustrian Saleh Husin dari Kementerian Perindustrian. Konferensi hari ini pun merupakan sebuah penawar dahaga ketika industri baja sedang membutuhkan dorongan. Diharapkan semua upaya ini tidak akan berhenti di sini dan kami akan terus menerus mendorong industri baja menjadi industri terbesar.

Conference & Technology Forum for Indonesia Steel Industry Development ini berlangsung pada 24-25 November 2015 di Hotel Mulia, Jakarta yang dihadiri para pelaku industri baja nasional dan stakeholders. Setelah acara tersebut dibuka oleh Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan, dan Pariwisata Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno sebagai perwakilan dari Menteri BUMN Rini Soemarno dilanjutkan dengan Menteri Perindustrian Saleh Husin sebagai keynote speaker.

Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam keynote speaker pada acara tersebut memaparkan industri besi dan baja merupakan industri prioritas yang dapat menopang sektor industri lain, seperti misalnya industri galangan kapal.

Namun, saat ini industri baja nasional menghadapi berbagai tantangan diantaranya kurangnya pasokan baja dalam negeri, kurangnya bahan baku material, maupun perlambatan ekonomi yang seharusnya ditargetkan sebesar 5,62% saat ini baru mencapai 4,35%.

Menurutnya, dengan kondisi tersebut industri baja nasional perlu segera berbenah dalam menghadapi tantangan, diantaranya dengan meningkatkan kapasitas produksi. “Pemerintah melalui BUMN pun terus mendorong industri baja dengan mengeluarkan berbagai kebijakan, bahkan Presiden pun sudah menginstruksikan perusahaan BUMN untuk menggunakan produk baja dalam negeri, terutama dalam pengerjaan Tower Listrik PT PLN dengan kebutuhan listrik sebesar 35.000 MW,” tambah Saleh.

Dengan menjaga iklim industri baik melalui penggalakkan program SNI, tata bea impor, TKDN, pemberian tax allowance, serta peningkatan penyerapan produk baja terutama untuk proyek-proyek pemerintah yang menggunakan APBN diharapkan dapat menggerakkan industri baja nasional untuk terus bertumbuh. Percepatan industri pun diharapkan dapat memacu industri baja sebagai tokoh utama dalam pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, Komisaris Utama Krakatau Steel Achmad Sofjan Ruky mengatakan, dalam acara forum ini akan dibahas isu-isu penting terkait potensi konsumsi baja yang besar, rendahnya kamampuan supply, tantangan industri baja ke depan, dan solusi untuk menjawab tantangan tersebut.

Ia berharap dukungan pemerintah, peningkatan produktivitas dan usaha keras untuk berkembang akan membawa industri baja menjadi industri yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Pada bagian lain, CEO Posco Oh-Joon Kwon menambahkan saat ini telah melewati terowongan gelap ekonomi global dan memasuki era "normal baru", yang merupakan pertumbuhan ekonomi rendah, dibanding perlambatan ekonomi sementara. Namun, setiap krisis, tidak peduli seberapa parah itu, akan ada peluang yang disiapkan.

Menurutnya jika PTKS dan POSCO bekerja sama secara penuh dan erat, pasti akan mampu mengatasi krisis. “Selain itu, kita dapat menemukan peluang baru untuk pertumbuhan lebih lanjut dengan menciptakan sinergi antara kedua perusahaan, dan dapat membuat industri baja Indonesia yang berdaya saing global,” ujarnya. (*)

 Dilihat : 4772 kali