06 November 2015
Pasok Baja 5.000 MT/Bulan untuk Saranacentral Bajatama

Pasok Baja untuk Saranacentral_3.jpgPT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (PTKS) selama 15 tahun sudah menyuplai material baja kepada PT Saranacentral Bajatama Tbk. Jumat, 6 November 2015, PTKS menandatangani LTSA dengan perusahaan ini untuk memenuhi kebutuhan cold rolled coil (CRC) dengan minimum volume 5.000 mt/bulan.

Menurut Direktur Utama Saranacentral Bajatama Handaya Susanto, kerja sama itu akan menguntungkan kedua belah pihak karena PTKS akan mendapatkan pelanggan yang stabil. Sementara itu, perusahaannya akan mendapatkan pasokan yang stabil dengan kualitas yang bagus. Perusahaan baja PT Saranacentral Bajatama Tbk. menargetkan penjualan senilai Rp1,5 triliun pada 2016 atau meningkat 15%–20% dibandingkan dengan perkiraan penjualan Rp1,2 triliun–Rp1,3 triliun pada 2015.

Handaya Susanto juga mengatakan pihaknya memperkirakan bahan baku baja paling banyak tetap berasal dari PTKS, sisanya perusahaan lokal lainnya serta impor pada tahun depan. Menurutnya, penjualan per bulan diperkirakan dapat mencapai Rp140 miliar–Rp150 miliar atau mencapai 12.000 ton per tahun. Emiten berkode saham BAJA ini memproduksi produk turunan baja yaitu galvanis dan saranalum.

Dalam sambutannya Direktur Pemasaran PTKS Dadang Danusiri menjelaskan bahwa tahun 2015 adalah tahun yang sulit untuk industri baja terutama nasional terutama dengan adanya perlambatan ekonomi global. Namun sejak bulan Agustus terlihat ada peningkatan konsumsi baja. Proyek pemerintah dan swasta pun mulai berjalan. PTKS sendiri pun mengalami peningkatan kapasitas produksi per September 2015, sedangkan untuk Oktober dan November sudah full capacity.

Kami sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya terhadap PT Saranacentral Bajatama Tbk. yang mengutamakan produk baja dalam negeri sebagai material produk mereka. Penerapan SNI, penggalangan nasionalisme melalui penggunaan produk dalam negeri dalam program TKDN dan P3DN akan sangat membantu industri baja dalam menghadapi serbuan impor dan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ke depan. Selama produk dalam negeri bisa unggul, maka industri baja ini akan survive. (WI)

 Dilihat : 7004 kali