12 Oktober 2015
INDUSTRI HILIR BAJA, Pelaku Desak Tindakan Harmonisasi Tarif

Bisnis Indonesia, 12 Oktober 2015

Produsen baja mendesak pemerintah untuk segera melakukan harmonisasi tarif produk hilir baja seiring dengan meningkatnya importasi dari China.

Direktur Eksekutif Iron & Steel Industry Association (IISIA) Hidayat Triseputro mengatakan kapasitas produksi baja China yang besar diikuti dengan melemahnya perekonomian di negara tersebut, membuat produsen baja menggenjot ekspor. Asean termasuk Indonesia menjadi salah satu tujuan ekspor produsen negara tersebut.

Selain itu, dengan depresiasi mata uang Yuan disertai dengan adanya kebijakan tax rebate untuk ekspor produk akhir baja, berdampak pada terjangkaunya harga produk. "Dengan begitu sulit bagi negara lain bersaing termasuk Indonesia. Lebih baik pemerintah segera memberlakukan harmonisasi tarif untuk produk hilir," tuturnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Data South East Asian Industry Steel Institute (SEAISI) menyebutkan, total ekspor baja China ke seluruh negara meningkat dengan pertumbuhan sebesar 10% atau mencapai 4,5 juta ton pada periode Januari - Agustus 2015 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Di Mean, ekspor baja melonjak hingga 38% secara year on year (yoy) menjadi 800.000 ton. Lonjakan yang signifikan bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor tahun lalu sebesar 19,6%. Berdasarkan data tersebut, ekspor baja China ke Mean diproyeksi akan mudah menyentuh 1,4 juta ton pada tahun ini.

Hidayat mengatakan pemerintah sudah berupaya melindungi industri hulu dengan menerbitkan harmonisasi tarif. Namun, sayangnya kebijakan terse but tidak diikuti dengan proteksi di sektor hilir.

IISIA mengharapkan adanya regulasi yang sifatnya bisa mengendalikan ketersediaan dan kebutuhan, mencegah pelarian/migrasi pos tarif, serta produk yang memiliki ketentuan dengan SNI.

"Makanya rekomendasi teknis dari kementerian teknis, pre-inspection oleh surveyor masih mutlah diperlukan. Bahkan post audit sebaiknya juga digalakkan," tambahnya.

KATEGORISASI

Terkait dengan ekspor baja dari China, dengan kategori struktur baja lainnya tercatat 3,4 juta ton pada Januari—Agustus 2014 meningkat 14,9% pada tahun ini. Ekspor ke Mean melonjak 38,8% menjadi 645.000 ton dalam delapan bulan 2015.

Tujuan utama negara Asean adalah Indonesia dan Vietnam sebanyak 186.000 ton dan 166.000 ton, sementara ekspor ke Thailand sebesar 65.000 ton.

Sementara itu, untuk jenis scaffolding (steger) baja dari China ke Asean melompat dari pertumbuhan 8% tahun lalu, menjadi 33% pada tahun ini. Destinasi utama produk ini, ke Singapura, Malaysia dan Thailand. Untuk ekspor steel towers dan tiang besi ke Asean bertumbuh dari 12% menjadi 81% pada januari—Agustus 2015.

Pada kesempatan berbeda, Sekretaris Jenderal SEAISI Tan Ah Yong mengatakan industri besi dan baja Asean memasuki masa yang menantang akibat persaingan ketat sekaligus tidak adil hasil produk impor murah.

"Dalam waktu dekat, Industri besi dan baja Asean memasuki masa yang menantang akibat persaingan ketat sekaligus tidak adil atas produk impor murah. Jadi langkah pemerintah untuk melindungi pasar domestik dengan melakukan tindakan pengamanan pasar, akan banyak terjadi," tuturnya.

Dalam jangka panjang, penting bagi industri untuk melihat isu yang berdampak pada pembangunan berkelanjutan, yang salah satunya bagaimana menciptakan permintaan untuk produk baja. Untuk konsumsi baja terbesar di Asean, berasal dari sektor konstruksi, yang menyumbang 60% - 80% konsumsi baja total negara yang tergabung di SEAISI.

 Dilihat : 4924 kali