24 November 2007
Kami Butuh Playing Field yang Sama - Fazwar Bujang, Direktur Utama PT Krakatau Steel (persero)

Sekalipun permintaan dan potensi baja sangat terbuka luas di negeri ini, ternyata semua itu tidak bisa dinikmati secara maksimal oleh produsen baja lokal sekelas Krakatau Steel. Mengapa bisa terjadi? Meningkatnya permintaan baja dalam negeri ternyata tidak sertamerta dinikmati industri baja dalam negeri. Pasokan baja impor ke pasar ternyata sangat besar dibandingkan kebutuhan yang ada., Hal itu bisa terjadi karena bebasnya pasokan baja berkualitas rendah dari luar negeri (impor) yang masuk ke negeri ini. Terjadinya impor baja secara besar-besaran disebabkan adanya regulasi yang sangat menguntungkan pemasok barang dari luar negeri dan importir. Serbuan baja impor ini pada akhirnya menggerus pemanfaatan kapasitas produksi (utilisasi) industri baja dalam negeri. Hingga pangsa baja lokal mengalami penurunan dari 54,6% (2005) menjadi 52,32% (2006) Penggerusan pangsa pasar terjadi, karena adanya kebijakan pemerintah yang meringankan beban bea masuk impor baja.Tak salah, jika pada akhirnya baja Tiongkok dan India membanjiri pasar di Indonesia. Petisi pun akhirnya diluncurkan oleh Gabungan Produsen Besi Baja Seluruh Indonesia (Gapebsi) pada 2005. Akan tetapi, permintaan tersebut tampaknya belum mendapatkan respons dari pemerintah.

Di sisi lain, industri baja dalam negeri dinilai sangat manja untuk selalu meminta proteksi, atas produksi bajanya agar tetap bisa diserap pasar. Benarkah? Untuk memperoleh informasi yang sebenarnya terjadi dalam industri baja di Indonesia, wartawan Investor Daily Muhammad Ali dan Encep Saepudin beserta fotografer Eko S Hilman mewawancarai Direktur. Utama PT Krakatau Steel (persero) Fazwar Bujang di ruang kerjanya di lantai empat Wisma Baja, Jakarta. Berikut petikannya.

Benarkah industri baja dalam negeri kewalahan menghadapi serangan baja impor?
Praktik impor dan ekspor baja di suatu negara sesuatu yang berlangsung normal. Apalagi aplikasi produk baja itu bermacam-macam, dan limitasi serta kapasitas produksi domestik terbatas. Karena itu, ditempuh jalan impor untuk memenuhi permintaan dalam negeri.Tegasnya, tidak ada satu negara pun yang bebas 100% dari impor baja. Pasti ada saja baja luar negeri masuk pasaran dalam negeri. Jadi, ini gejala lumrah saja, bukan? Tapi sayang, masuknya baja impor bukan terjadi karena ketidak  mampuan industri dalam negeri memenuhi kebutuhan pangsa dalam negeri.


Lantas bagaimana dengan peran Krakatau Steel (KS)?
Perlu melihat banyak sisi untuk menjawab pertanyaan ini. Tidak bisa kita harus main pukul rata karena setiap kasus berbeda-beda. Sekarang, aplikasi produk apa dulu yang kita bicarakan.Kalau bicara virgin material dari industri di Indonesia, hanya kami (KS) yang punya. Tapi, kalau bicara mempergunakan 100% serap (potongan), ada juga produsen baja lain.Krakatau steel is not a single player, bukanlah satu-satunya produsen baja nasional. Bicara industri baja harus terintegrasi dari hulu sampai hilir. Ada yang hanya di hilir saja. Nah, kami memproduksi baja dari hulu hingga hilir.

Menurut Anda, prospek industri dan pasar baja nasional bagaimana?
Prospek industri dan konsumsi baja nasional dalam proyeksi kami sangat cerah. Isu penolakan pemakaian hasil hutan dengan kampanye bumi hijau, secara langsung mendorong untuk konsumsi baja. Sekarang saja, roof rumah sudah memakai baja.
Yang kedua, terjadinya berbagai gempa mendorong orang memakai lebih banyak baja,khususnya untuk high risk building.Yang ketiga, permintaan atas penyediaan kapal-kapal baru di dalam negeri khususnya untuk pengangkutan seperti batubara luar biasa banyaknya. Anda bisa catat bahwa daerah Batam, misalnya, mengkonsumsi baja untuk galangan kapal lebih dari 500-600 ribu setiap tahun.

Sayangnya, kami pun menerima kenyataan lain di balik keunggulan Batam sebagai kawasan industri. Begini, Batam itu dekat dengan Singapura. Yang bangun kawasan itu, ownernya orang Singapura. Duitnya juga dari Singapura. Terus, desainer juga dari Singapura. Nah, Batam hanya kebagian jadi tempat ngejahitrnya. Kedekatan itu memungkinkan galangan kapal di sana lebih memilih produk baja impor. Jadi hal-hal seperti begini memang saya lihat pemerintah perlu memikirkan jangan sampai Batam itu hanya menguntungkan Singapura.Tapi, ini bukan berarti kita anti investasi asing. Sama sekali investasi itu penting. Tetapi bagaimana hasil industri manufaktur, vessel, dan kapal-kapal itu harus juga bermanfaat dan menumbuhkan industri di dalam negeri. Kalau Singapura diberikan kemudahan, harusnya produknya mengalir pula ke Indonesia tanpa perlu dikenai PPN. Harusnya kita menikmati industri galangan kapal itu.Sedangkan untuk industri baja yang menjadi pemasok seperti kami, tidak berlebihan kalau kami pun minta diberikan tax intensif Pemberian ini akan menempatkan kami bisa bersaing dengan produk impor. Selama ini bagaimana? Kalau kita kirim ke Batam, ada proses yang sangat selektif yang memungkinkan kita bebas PPN. Sementara kapal yang bahan bakunya kami pasok justru direekspor. Kenapa harus begitu? Kenapa produk itu tidak boleh di jual ke dalam negeri sehingga kapal harus kita beli di luar negeri. Padahal pembelian langsung ini mempercepat per-tumbuhan industri dalam negeri. Kenapa tidak memanfaatkan fasilitas industri sebagaimana yang diterima Singapura.

Apakah kebijakan pemerintah sudah mendukung industri baja nasional?
Sebetulnya seperti yang sering kita katakan. Yang paling utama sebetulnya orang salah mengartikan bahwa Krakatau Steel ini cengeng. Bukan begitu. Yang dibutuhkan Krakatau Steel adalah penegakan aturan sehingga membuat kami bisa bersaing dengan produsen impor pada level yang sama.Kalau kita mengharapkan standar yang tepat, seharusnya yang lain juga melakukan standar untuk industri nasional ini. Nggak mungkin saya memproduksi, katakan mobil sejenis Toyota Kijang, misalnya, diperbandingkan dengan Toyota Fortune. Kan nggak masuk akal. Lalu dikatakan kita cengeng. Belum lagi terjadinya impor underinvoice.Kalau hal-hal yang seperti ini tidak diperhatikan pemerintah, kita sulit bersaing. Dan, ini saya kira-bukan permintaan aneh, hal yang wajar di dalam negara mana pun. Di Tiongkok maupun India, pemerintah turut melindungi industri baja dari gempuran baja impor. Masa pemerintah negara lain mau membantu industrinya, sedangkan pemerintah kita tidak mau membantu industri sendiri.Tampaknya pemerintah membiarkan impor masuk karena harga baja impor lebih murah dibandingkan baja lokal? Kembali saya katakan tadi, kita tidak anti impor. Tetapi kita tidak sangat suka mereka masuk ke sini underinvoice sehingga dia tidak membayar PPN yang wajar. Kita pun nggak suka mereka mendatangkan baja yang standarnya tidak memenuhi standar industri nasional. Ini bukan soal murah atau mahal.


Pasar KS lebih banyak ke mana?
Pasar kita mayoritas dalam negeri 80-85%. Tetapi kami juga melakukan ekspor, meski harus siap menerima kenyataan bahwa ekspor tersebut tidak memberikan kontribusi yang signifikan bagi perusahaan. Ini dalam rangka kami memperkenalkan bencmarking kualitas produk agar diterima pasar internasional.Bahkan, kami sanggup tembus pasar AS (Amerika Serikat). Tapi, sayang sekali kami dijegal pemerintah AS dengan diberlakukan bea masuk antidumping (BMAD). Jadi, kalau sekarang kami pun minta bantuan BMAD wajar saja, dong. Amerika saja membantu industrinya dengan BMAD itu. Kenapa sekarang yang kami minta malah diprotes dan dikatakan penyebabnya kami tidak efisien. Bagaimana mungkin kalau kami inefisiensi bisa tembus AS, bisa tembus pasar Australia.

Jadi, apa yang ingin saya katakan bahwa sebetulnya KS itu tidak cengeng. Bisa bersaing di dalam negeri maupun luar negeri. Persoalannya adalah persaingan itu harus sehat.Jadi mestinya ada kebijakan dari pemerintah untuk melindungi industri baja dari hulu sampai hilir dari persaingan tidak sehat. Pemerintah menurut hemat saya harus punya suatu konsep jangka panjang dan kebijakan yang konsisten yang bersifat komprehensif dan terintegrasi. Harmonisasi tarif harus dilakukan. Jadi, kita jangan berkata bahwa investor asing perlu diberikan kemudahan. Fine. Tapi jangan sampai setelah masuk dan membunuh industri yang sudah ada di sini.

Mereka mematikan pabrik di negara asalnya untuk bangun disini karena untuk mendapatkan tax holiday. Kemudian berjanji untuk naikkan kapasitas produksi asal ditambah tax holidaynya. Begitu seterusnya.Jadi pemerintah harus memperhatikan tingkah laku yang betul-betul serius menumbuh
kan industri dengan cara-cara yang wajar, dengan niat baik memperoleh manfaat maksimal dengan cara yang tepat.

Bagaimana respons Anda atas penilaian banyak pihak, termasuk dari kalangan pemerintah bahwa KS tidak efisien?
Kalau tidak efisien kenapa orang masih beli baja kami. Kalau masih tidak bersaing, kenapa kami masih bertahan. Kalau tidak efisien, kami habis dong. Jadi unsur positif yang orang tidak bisa menafikan bahwa kami adalah produsen yang dia minta.Sampai sekarang saya tidak pernah mengemis kepada, pabrik pipa untuk LNG agar beli produk Krakatau Steel. Tapi, buktinya mereka tetap beli kepada kami.Nggak perlulah kami dituding sebagai industri yang inefisiensi Kembali lagi saya katakan adalah harga yang wajar dengan mutu yang standar, itu yang kami pertahankan. Pernahkah kami korupsi dengan mutu yang sudah ditetapkan. Tidak pernah. Pernahkah kami korupsi dengan ukuran panjang, juga nggak pernah. Karena itu, high risk building nggak berani kalau pakai bukan dari KS. Ini masalah gempa. Sementara kami masih punya keterbatasan. Yang celakanya, tidak ada perlindungan merek dagang. Kami tulis cap KS. Tapi, ada KS-KS lain yang ditambah menjadi misalnya KSD atau KSI. Itu semua penipu.

Kalaupun kami inefisien, jangan sepenuhnya disalahkan pada kami. Sering kali apa yang kami minta dari Pertamina untuk bahan bakar gas tidak sesuai. Padahal, kami akan bayar sesuai perjanjian. Belum lagi masalah pasokan listrik, sehingga kami berencana untuk bangun pembangkit listrik sendiri agar produksi kami tidak terganggu.

Sumber :  Investor Daily Indonesia, Page : 24 

 

 Dilihat : 3850 kali