24 November 2007
KADI Diminta Tegas atas Praktik Dumping Baja

Penjualan KS Meningkat JAKARTA (Media): Produsen baja nasional PT Krakatau Steel (KS) membukukan nilai penjualan melebihi target per bulannya, yang berada pada kisaran Rp1 triliunRp1,1 triliun. Mahalnya baja impor akibat kenaikan harga minyak mentah diyakini menjadi salah satu faktor yang mendukung pencapaian tersebut.

"Pasar baja sedang bagus. Kita masih di atas target dan tonase terpenuhi semua. Produk impor pasti sedang mahal saat ini akibat pengaruh harga minyak mentah," kata Direktur Utama PT KS Fazwar Bujang yang dihubungi Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Pencapaian tersebut menjadi sinyalemen bagus bagi perusahaan terkait dengan rencana penambahan kapasitas produksi ke depan. Besarnya potensi pasar industri baja ke depan akan didukung dengan penambahan kapasitas produksi menjadi 10 juta ton pada 2013 dan 20 juta ton pada 2020.

Namun, KS masih mewaspadai dampak terganggunya kurs tukar rupiah terhadap dolar AS akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia yang diperkirakan akan menembus US$100 per barel. Salah satu biaya yang diwaspadai adalah biaya pengangkutan bijih besi yang selama ini diimpor dari Brasil. Nilai impor bijih besi sekitar US$40 per ton.

Krakatau Steel, ucap mantan Direktur Keuangan KS itu, menargetkan perolehan laba bersih sebesar Rp368,7 miliar pada 2007.

Hingga semester III/2007, KS telah mengantongi kenaikan laba bersih Rp292 miliar pada semester III/2007 setelah merugi sebesar Rpl93 miliar pada 2006.

Harus tegas Menurut General Manager Penjualan KS Purwono Widodo, penjualan KS beberapa waktu lalu anjlok akibat keadaan injuries yang dialami perusahaan. Serbuan produk impor murah diyakini menjadi penyebab anjloknya penjualan KS yang memproduksi baja canai panas (hot rolled coil j HRC) dan baja canai dingin (cold rolled coil /CRC).

KS lalu mengajukan petisi kepada Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) terhadap lima negara yang diduga melakukan dumping. Kelima negara itu adalah China, Thailand, Taiwan, India, dan Rusia.

Namun, setelah setahun pengajuan petisi tersebut, KADI masih melakukan investigasi yang ditargetkan rampung akhir tahun ini. Rencananya, KADI akan melakukan public hearing dengan seluruh pihak terkait akhir bulan ini.
Purwono yang juga ketua tim antidumping KS meminta KADI bersikap tegas.

"Sekali terjadi dumping dan pemerintah tidak tuntas menyelesaikan, berarti negara lain akan melihat Indonesia sepele. Yang kita perjuangkan adalah perlindungan secara wajar terhadap unfair play. Bukan proteksi," cetusnya.

Berdasarkan data KADI, salah satu produsen baja asal India Essar Steel Ltd termasuk salah satu perusahaan yang masuk dalam verifikasi daftar perusahaan yang diduga melakukan dumping. Dalam beberapa kesempatan, Essar melalui anak perusahaannya di Indonesia membantah tuduhan dumping tersebut. (Zhi/E-1)

Sumber : Media Indonesia, Page : 14 

 Dilihat : 3148 kali