08 Juli 2015
Krakatau Bangun Pabrik Baja Otomotif

Kompas, 8 Juli 2015

 

Produsen baja PT Krakatau Steel berupaya meningkatkan penyerapan baja lokal, khususnya untuk industri otomotif. Upaya itu dilakukan dengan membangun pabrik baja Krakatau Nippon Steel Sumikin yang direncanakan berlangsung selama dua tahun.

 

Menurut Corporate Secretary PT Krakatau Steel Iip Arief Budiman di Cilegon, Banten, Senin (6/7) malam, pembangunan pabrik merupakan kerja sama dengan Nippon Steel.

 

"Produk yang dihasilkan berupa lembaran canai panas untuk otomotif. Pabrik bisa menghasilkan sekitar 500.000 ton baja per tahun," katanya.

 

Dimulainya pembangunan pabrik (groundbreaking) akan dilakukan pada 25 Agustus 2015. Nilai investasi pembangunan pabrik mencapai 400 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,2 triliun. Pabrik didirikan dengan pertimbangan industri otomotif di Indonesia yang didominasi Jepang.

 

Kini, industri otomotif itu sudah bisa diyakinkan untuk menggunakan produk yang dihasilkan PT Krakatau Steel. Karena itu, kebutuhan baja untuk otomotif akan dipasok dari Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS). "Kami memasok bahan baku baja. Diharapkan, baja lokal bisa lebih terserap," katanya.

 

Jika pembangunan berjalan lancar dan selesai pada 2017, permintaan baja dunia diharapkan sudah pulih sesuai perkiraan kalangan produsen baja global. Harga baja saat ini sekitar 375 dollar AS atau Rp 4,87 juta per ton dinilai sangat rendah.

 

Iip menambahkan, pihaknya juga akan melakukan peletakan batu pertama pabrik hot strip mill (HSM) atau baja lembaran panas kedua yang bertepatan dengan hari ulang tahun ke-45 PT Krakatau Steel pada 31 Agustus 2015. Pembangunan ditargetkan selesai pada 2017.

 

"Baja lembaran panas adalah tulang punggung PT Krakatau Steel. Awal kebangkitan kembali PT Krakatau Steel kami harapkan terwujud dengan pabrik tersebut. Kami meyakini itu," katanya.

 

Hendri Satrio, juru bicara Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), mengatakan, industri baja sedang kesulitan karena bersaing dengan Tiongkok.

 

"Penyebabnya isu boron. Itu campuran baja. Kalau pada baja ada sedikit saja campuran boron, produknya dikenai potongan pajak," katanya.

 

Keputusan tersebut dimanfaatkan Tiongkok. Akibatnya, produk yang dihasilkan PT Krakatau Steel kalah bersaing dari sisi harga. "Kalau produk PT Krakatau Steel 100 persen baja," kata Hendri yang juga pengamat politik Universitas Paramadina, Jakarta.

 

Beberapa waktu lalu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M Soemarno menyatakan pemerintah mewajibkan perusahaan jasa konstruksi pelat merah menggunakan besi baja dari Krakatau Steel. Pemerintah menginginkan agar antar-BUMN melakukan kerja sama yang menguntungkan.

 

Rini menuturkan, pemerintah sedang meningkatkan penggunaan kandungan lokal. Namun, jika tidak diwajibkan, jasa konstruksi cenderung tidak menggunakan baja Krakatau Steel. Ia mengatakan tidak tahu alasan mereka enggan menggunakan baja dari Krakatau Steel. Pemerintah akan segera membuat kesepakatan kerja sama antar-BUMN.

 Dilihat : 7808 kali