03 Juli 2015
Kinerja Krakatau Steel

Memanfaatkan Momentum Sinergi BUMN

Bisnis Indonesia, 3 Juli 2015

 

Kementerian BUMN berencana mengusung konsep sinergi BUMN sebagai salah satu strategi jangka panjang 2015-2019. Apa manfaatnya bagi perusahaan baja milik Negara PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.?

Pada saat ini, Kementerian BUMN tengah menyusun roadmap BUMN yang diharapkan rampung pada Agustus 2015. Peta-jalan itu kemungkinan akan menggambarkan perencanaan BUMN pada masa mendatang.

Di dalam rancangan dokumen bertajuk Transformasi BUMN Indonesia: Sinergi BUMN Membangun  Negeri, Kementerian BUMN mencantumkan konsep sinergi BUMN sebagai strategi pertama dari delapan strategi yang disiapkan.

Dokumen itu memberikan tiga contoh sinergi yang dapat dilakukan BUMN yaitu sinergi infrastruktur, sinergi ketahanan pangan, dan sinergi maritim yang ditopang oleh sinergi pembiayaan. 

Di dalam dokumen itu disebutkan, Krakatau Steel menjadi contoh BUMN yang melakukan sinergi  infrastruktur bersama sejumlah perusahaan milik negara yang bergerak di bidang konstruksi seperti PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT Hutama Karya, dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Apakah konsep sinergi BUMN itu hanya di atas kertas? Menteri BUMN Rini Soemarno setidaknya menunjukkan konsep sinergi BUMN itu dapat diwujudkan dengan sejumlah langkah pada tahap awal.

Pertama, Menteri BUMN mewajibkan BUMN sektor konstruksi untuk menggunakan bahan baku baja yang diproduksi oleh Krakatau Steel. Komitmen itu dituangkan dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Krakatau Steel dengan Adhi Karya dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

“Selama ini seluruh jasa konstruksi kami tidak menggunakan baja dari Krakatau Steel, dengan (MoU) ini maka seluruh kebutuhan baja yang diproduksi Krakatau Steel harus dimanfaatkan oleh jasa konstruksi kami,” kata Rini di hadapan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

Kedua, Rini juga mendorong produsen senjata dan alat pertahanan PT Pindad (Persero) untuk menggunakan baja yang diproduksi oleh Krakatau Steel. Seperti diketahui, Pindad juga berencana memproduksi alat berat berupa ekskavator.

Rini kemudian mendorong BUMN karya untuk membeli ekskavator dari Pindad sebagai bagian dari sinergi BUMN untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. “Tapi jangan lupakan steel-nya. Pakai baja dari Krakatau Steel,” kata Rini. Apabila berjalan konsisten, dukungan pemerintah terhadap penggunaan baja yang diproduksi Krakatau Steel oleh BUMN itu dapat menjadi sentimen positif bagi emiten berkode saham KRAS tersebut.

Selain itu, pemerintah juga berencana menggenjot pembangunan infrastruktur di berbagai sector seperti jalan raya, pelabuhan, dan bandar udara, yang tentunya bakal membutuhkan bahan baku baja. “Rencana pembangunan infrastruktur dan maritim, merupakan katalis jangka panjang pendukung pertumbuhan industri baja nasional,” seperti dikutip dari riset PT Henan Putihrai yang dirilis beberapa waktu lalu.

Sepanjang tahun lalu, kinerja Krakatau Steel dianggap kurang menggembirakan. Penjualan baja turun 2,5% menjadi 2,3 juta ton karena ketatnya kompetisi di pasar baja nasional.

 

HARGA BAJA

Analis PT Bahana Securities Bob Setiadi mencatat harga baja global yang lemah pada 2014 turut menyeret turunnya harga jual yang berdampak terhadap merosotnya penjualan Krakatau Steel pada tahun lalu. Pendapatan perseroan mengalami penurunan sebesar 10,3% menjadi US$1,86 juta pada 2014 serta harga pokok penjualan turun 8,1% menjadi US$ 1,828 juta.

Pada kuartal I/2015, Krakatau Steel juga masih membukukan kerugian sekitar Rp55,3,19 miliar atau turun 3,91% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya senilai Rp527,66 miliar.

Perusahaan yang memiliki pabrik di Cilegon, Banten itu memang menghadapi sejumlah tantangan yang berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Tantangan itu antara lain pelemahan pasar baja global yang menyebabkan penurunan harga produk baja secara signifikan.

Selain itu, membanjirnya impor baja ke pasar domestik, peningkatan biaya yang signifikan terutama dari harga gas dan biaya listrik, serta tingginya kontribusi kerugian anak usaha terutama PT Krakatau Posco. Salah satu penyebab membanjirnya impor baja ke pasar dalam negeri adalah perlambatan pertumbuhan

ekonomi China. Perlambatan itu menyebabkan industri baja China mengalami kelebihan pasokan sebesar 80 juta ton.

Seperti diketahui, China adalah produsen baja terbesar di dunia dengan total produksi sebesar 825 juta ton per tahun pada 2014 atau menguasai sekitar 50% pangsa pasar baja dunia. Dengan demikian, situasi industri baja China turut memengaruhi industri baja Indonesia.

Menghadapi situasi yang kurang menguntungkan bagi industry baja nasional tersebut, pemerintah kemudian menaikkan bea masuk impor baja menjadi 15% atau lebih tinggi dibandingkan dengan 0%-5% sebelumnya. Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Pemasaran Krakatau Steel Dadang Danusiri mengapresiasi regulasi tersebut karena sudah ditunggu oleh kalangan industri baja nasional.

Menurutnya, kebijakan ini berdampak pada peningkatan utilisasi kapasitas industri baja nasional yang saat ini sangat rendah akibat membanjirnya produk baja impor.

Dengan kebijakan tersebut, menurut Dadang, diharapkan industri nasional akan mendapat manfaat optimal dari rencana pembangunan infrastruktur yang tengah dipacu oleh pemerintah sehingga akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

 Dilihat : 7253 kali