22 Juni 2015
Imbal Jasa Lingkungan, Pohon-pohon Kehidupan di Cidanau

IMBAL JASA LINGKUNGAN

Pohon-pohon Kehidupan di Cidanau

Kompas, 22 Juni 2015

Sepuluh tahun lalu, Ahmad Bahrani (57), petani di Citaman, Ciomas, Kabupaten Serang, Banten, kesulitan mengajak warga mendaftarkan lahan kebun mereka dalam kontrak imbal jasa lingkungan. Kini, tidak sedikit petani yang harus antre untuk jadi peserta.

Dalam skema kontrak itu, petani dibayar Rp 1,2 juta per hektar untuk menjaga kerapatan vegetasi 500 tanaman per hektar di lahan mereka selama kontrak. Mereka dibayar karena kawasan hulu terjaga lingkungannya sehingga menjamin aliran air di Sungai Cidanau.Aliran itu memastikan Krakatau Tirta Industri (KTI), anak perusahaan BUMN PT Krakatau Steel, memenuhi kebutuhan air untuk kawasan industri di Cilegon.

Kontrak imbal jasa atau transaksi saling menguntungkan itu, 10 tahun lalu, dijembatani Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Cidanau (FKDC).Forum terdiri dari pemerintah daerah, LSM Rekonvasi Bhumi, dan pelaku usaha.Transaksi menjamin petani dapat insentif, sedangkan KTI terjamin stok airnya.

Dengan antusias, Bahrani, ayah empat anak, Kamis (28/5), mengantar Kompas ke lahan kelompok taninya, Karya Muda II.Meniti jalan setapak melalui kandang domba, bagian dalam "hutan" begitu teduh.Tutupan pohon durian, petai, cengkeh, dan bambu memenuhi lahan."Di sini dulu cuma ada 1-2 tanaman dengan semak duri.Kami tanami padi gogo yang dipanen setahun sekali," ujarnya.

Saat itu, seusai musim tanam padi, sebagian besar laki-laki merantau ke kota, jadi kuli menanti panen. Kini, hampir setiap saat petani ada di desa.

Bergantian, mereka memanen cengkeh, melinjo, petai, dan durian. Bahrani, yang memiliki 0,2 ha (2.000 meter persegi lahan), memetik 0,7 ton-1 ton buah melinjo seharga Rp 13.000 per kilogram. Melinjo dipanen tiga kali setahun menghasilkan Rp 7 juta sekali panen.Itu belum dari penjualan cengkeh atau daun melinjo yang dipanen setiap saat seharga Rp 5.000 per kg.Adapun petai berbuah tak kenal musim.Belum lagi panen durian yang bernilai tinggi.

Berkah paling penting, warga tak lagi susah air. Air dari Gunung Karang setiap hari lancar meski debitnya turun saat kemarau."Dulu, seminggu tidak hujan kami susah air," ujarnya.

Saat musim hujan, warga tak lagi takut terkena longsor dan banjir.

Namun, keberhasilan ini tidak diraih dengan mudah.Dibutuhkan kesabaran dan keuletan untuk menjelaskan beragam manfaat ini kepada masyarakat.

Adlani (44), Bendahara Kelompok Tani Karya Bakti, di Desa Ujung Tebu, Ciomas, misalnya, juga awalnya susah mengajak masyarakat. Ia sampai menjaminkan diri agar tetangganya mau bergabung karena kontrak IJL menguntungkan masyarakat. Anggota kelompok hanya dilarang menebang 500 pohon per hektar.Adapun hasil buah dan kebun nonkayu masih boleh dimanfaatkan.

Jika kontrak dilanggar satu anggota saja, perjanjian dibatalkan dan kelompok tak dibayar. Itu membuat anggota saling mengingatkan dan bergotong royong saat ada yang perlu dana. "Jika tanpa kontrak, setiap ada kebutuhan pasti tebang pohon.Mudah jadi duit," kata Aldani.

Harapan dan kendala

Sekretaris Daerah Pemprov Banten Kurdi Matin, didampingi Mahdani dari Badan Lingkungan Hidup Banten, mengatakan, praktik IJL meningkatkan tutupan vegetasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidanau.Analisis citra satelit FKDC menunjukkan, tutupan vegetasi DAS Cidanau sebelum 2005 berkisar 20-30 persen.Kini, tutupannya 40-60 persen.

Jika DAS Cidanau gundul akan memperparah sedimentasi di Cagar Alam (CA) Rawa Danau, ekosistem unik sekaligus reservoir air alami. Air dari mata air di Gunung Karang, Aseupan, dan Parakasak melewati Rawa Danau sebelum dialirkan secara alami ke Sungai Cidanau.

"Sekitar 1.000 hektar dari 3.542,7 hektar luas CA Rawa Danau rusak karena perambahan," kata Dede Rusdirman, Komandan Resor I Wilayah CA Rawa Danau dan CA Tukung Gede, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat.

Hampir berjalan 10 tahun, IJL kini diikuti 15 kelompok tani dengan luasan 520 ha dengan nilai kontrak Rp 4 miliar hingga 2019. "Ada sekitar 30 kelompok tani yang ingin kami ikut sertakan, tetapi ada keterbatasan dana," kata NP Rahadian, Sekretaris FKDC dan pendiri LSM Rekonvasi Bhumi.

Ia menjelaskan, dari Rp 4 miliar nilai IJL, 88,75 persen dari Krakatau Tirta Industri (KTI). Sisanya dari Pemprov Banten (hibah Rp 300 juta) dan bantuan Asahimas Chemical (Rp 150 juta).

Demi meningkatkan besaran dana yang bakal memperluas keterlibatan jumlah kelompok tani, Rahadian berharap KTI memasukkan komponen IJL dalam komponen jual. Kini, IJL baru masuk biaya produksi.

Manajer Operasi KTI Raden Sugih Subagja mengatakan, sumber air satu-satunya KTI dari Sungai Cidanau. Tak ada sungai lain yang bisa memenuhi kebutuhan industri. Padahal, investasi di kawasan itu terus berkembang.

KTI merasakan manfaat IJL. "Debit air stabil, tidak turun tiba-tiba. Pada musim kemarau dan hujan tak terlalu jomplang," kata Subagja. Namun, payung hukum IJL belum cukup kuat bagi KTI untuk menghimpun dana lebih besar dari perusahaan atau konsumen.

Jika anggota masyarakat yang lain masih ragu dengan IJL, tidak bagi Bahrani dan petani lain. Pohon-pohon di Cidanau nyata menghidupi mereka.

 

 Dilihat : 6442 kali