24 Agustus 2007
Insentif BM HRC Picu Perang Harga Seng

JAKARTA - Kalangan pengusaha seng yang tergabung dalam Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) menilai, penetapan insentif penghapusan bea masuk baja canai panas (hot rolled coil/ HRC) dapat menyebabkan perang harga seng karena harga bahan baku menjadi lebih murah. Insentif tersebut dinilai diskriminatif dan hanya menguntungkan perusahaan baja terintegrasi.

Ketua Umum Gapsi Ruddy Syamsuddin menerangkan, insentif penghapusan bea masuk (BM) HRC berukuran lebih kecil atau sama dengan 2 milimeter hanya akan menguntungkan produsen terintegrasi, seperti PT Essar Indonesia.

"Pasar seng nasional akan chaos karena produsen bahan baku HRC akan banting harga. Nah ini hanya akan menguntungkan Essar dan merugikan anggota Gapsi yang lain karena tidak bisa impor bahan baku itu," tuturnya, di Jakarta, Rabu (22/8).

Menurut dia, insentif penghapusan BM HRC akan menurunkan harga seng sekitar 5%. Akan tetapi, produsen seng yang tidak memiliki pabrik pengolahan HRC tidak bisa menurunkan harga karena bergantung pasokan perusahaan-perusahaan baja nasional.

"Keputusan pembebasan BM itu akan merusak mekanisme pasar. Perusahaan baja seperti Essar bisa impor HRC sekaligus memproduksi seng. Sedangkan kami masih bergantung pada PT Krakatau Steel," ucapnya. Pemerintah melalui Permen Keuangan Nomor 85/PMK.on/ 2007 menurunkan BM HRC untuk nomor HS 7208.27.00.00 dan 7208.39.00.00 dari sebelumnya 5% menjadi o%. Insentif itu berlaku sejak 7 Agustus 2007 selama enam bulan ke depan.

Secara terpisah, Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian (Deperin) Ansari Bukhari menerangkan, penghapusan BM HRC 2 milimeter itu diterapkan karena pasokan bahan baku tersebut defisit 300-400 ribu ton per tahun. Guna mengembangkan industri hilir baja, pemerintah menyetujui usulan PT Essar Indonesia untuk menerapkan insentif tersebut.

"Pemerintah mengakomodasi usulan Essar karena perusahaan itu berencana meningkatkan kapasitas produksinya. Di sisi lain, pemerintah meminta komitmen Essar untuk menjamin kebutuhan HRC 2 milimeter dalam negeri sebanyak i juta ton per tahun," paparnya.

Sumber: Investor Daily Indonesia, Thursday, 23 August 2007

 Dilihat : 4596 kali