20 Maret 2015
Baja Dumping Rugikan Industri Nasional

Investor Daily, 20 Maret 2015

Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) menyatakan, derasnya impor baja berharga murah (dumping) sangat mengganggu dan merugikan industri baja nasional. Untuk itu, sudah sewajarnya dan menjadi kewajiban pemerintahan setiap negara menjaga industrinya dari serbuan baja impor yang masif melalui praktik perdagangan tidak adil (unfair trade).

“Praktik dumping baja impor sangat mengganggu. Itu membuat injury (luka) industri baja nasional. Jadi wajar dan wajib setiap negara menjaga industrinya agar tidak diganggu,” kata Direktur Eksekutif IISIA Hidajat Triseputro di Jakarta, Kamis (19/3).

Pernyataan Hidajat ini dikeluarkan menanggapi situasi terkini mengenai harga baja global yang anjlok dan masifnya serbuan baja impor. Kabar terakhir, produsen utama baja Amerika Serikat (AS) mengajukan tindakan konkret dari pemerintah AS untuk mengatasi serbuan baja impor yang masif ke negara adidaya tersebut.

Salah satu tindakan yang diminta adalah kemungkinan penerapan tuduhan antidumping atas baja impor. Para CEO dari produsen baja utama AS akan bersaksi mengenai hal ini. Permintaan tersebut didasari masifnya serbuan baja impor. Menurut American Iron and Steel Institute (AISI), akibat masifnya serbuan baja impor, pangsa pasar baja impor di AS mencapai rekor tertingginya sepanjang sejarah, yakni 28% dibanding 23% pada 2013.

Data AISI menunjukkan, ekspor baja dari Tiongkok secara global mencapai rekor tertingginya, yakni 93,78 juta metrik ton pada 2014, melonjak 51% dari tahun lalu. Bahkan, impor baja Tiongkok ke AS meningkat lebih tinggi lagi, yakni 68%.

“Tingginya ekspor baja Tiongkok ke AS pada 2014 dan 2015 ini menjadi kekhawatiran terbesar kami,” demikian pernyataan AISI seperti dikutip Wall Street Journal.

Masifnya serbuan baja impor dari Tiongkok tersebut telah menelan korban, yakni terhadap US Steel Corp, produsen baja AS, yang terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 614 karyawan. Perusahaan baja yang telah berumur 114 tahun itu telah menghentikan operasional enam pabriknya sejak 2014. Tahun ini, perseroan telah mem-PHK dan mengeluarkan peringatan pemutusan kerja kepada sekitar 3.500 pekerja.

Atas hal ini, Hidajat Triseputro selaku direktur eksekutif IISIA mengatakan, pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Perekonomian memperketat pengawasan terhadap impor produk-produk baja yang terindikasi unfair trade. Praktik dumping banyak dilakukan terhadap produk-produk baja non-SNI (Standar Nasional Indonesia), sehingga sangat mengganggu produk-produk nasional yang telah berstandar SNI.

“Ada 15 langkah yang tengah dilakukan agar industri baja kita bisa menjadi tuan rumah di Indonesia. Apalagi menyongsong proyek-proyek infrastruktur yang menjadi program pemerintah,” kata Hidajat.

Harga indeks baja canai panas (hotrolled coil/HRC) dunia tercatat telah terjun hingga 18% menjadi US$ 492 per ton sejak 1 Januari 2015 hingga saat ini. Kondisi ini membuat para produsen baja, terutama dari Tiongkok, melakukan banting harga.

 Dilihat : 5906 kali