12 Maret 2015
Penurunan Harga Baja Dunia dan Depresiasi Rupiah Tekan Kinerja Perseroan

Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk Irvan K Hakim mengatakan, belum pulihnya perekonomian dunia, terutama melambatnya ekonomi di Tiongkok dan tertekannya ekonomi di Rusia, membuat pasar baja dunia masih tetap mengalami kelebihan pasokan. Apalagi sepanjang tahun lalu, produksi baja dunia masih meningkat 1,1% (year on year) menjadi 1,637 miliar metrik ton. Produksi baja Tiongkok masih naik 0,9% (yoy) menjadi 823 juta ton dan Korea Selatan meningkat 7,5% menjadi 71 juta ton.

Di Indonesia, sekalipun permintaan baja domestik cenderung meningkat namun harga masih tetap stagnan, sejalan dengan perlambatan perekonomian nasional. Pasar segmen utama baja, yakni otomotif, produsen kapal, dan konstruksi hanya tumbuh tipis. Data Gaikindo menunjukkan, produksi mobil sepanjang 2014 hanya naik 6,6% menjadi sekitar 1,28 juta unit, sedangkan sektor konstruksi stagnan karena adanya perhelatan politik, pemilu legistatif dan presiden.

“Dalam situasi sulit ini, PT Krakatau Steel Tbk mampu mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar baja nasional,” jelas Irvan K Hakim di Jakarta. Irvan menambahkan, pangsa pasar baja canai panas perusahaan juga naik menjadi 44% dari posisi tahun lalu sebesar 41%. Utilisasi kapasitas produksi meningkat, seperti pada lini produksi hot strip mill yang naik dari 76% menjadi 78%.

Sepanjang 2014, harga baja flat di Asia Tenggara turun tajam dari bulan Januari 2014 sebesar US$ 540-570/ton cfr (cost and freight) menjadi US$ 460-470/ton cfr pada akhir tahun. Bahkan, produsen baja Tiongkok berani banting harga jual bajanya demi mendapatkan pesanan dari pembeli dan cash flow perusahaan, yakni dengan memasang harga jual baja hanya sekitar US$ 405/ton di luar pajak pada Desember 2014.

Irvan memaparkan, akibat faktor eksternal di atas, harga jual rata-rata produk baja Perseroan mengalami penurunan. Sebagai contoh, harga jual rata-rata baja canai panas (hot rolled coil/HRC) turun 3,1% secara year on year. Produk baja jenis lainnya juga turut mengalami penurunan rata-rata harga jual, seperti cold rolled coil/CRC yang turun 5,3%, wire rod turun 7,4%,baja tulangan (steel bars) turun 6,2%, dan baja profil (steel sections) turun 6,1%.

Menyikapi penurunan harga baja HRC yang lebih rendah, manajemen PTKS kemudian memfokuskan peningkatan produksi baja jenis ini dan penjualannya. Alhasil, penjualan baja HRC naik 13,2% menjadi 1.313.387 ton, seiring dengan meningkatnya utilisasi kapasitas HRC dari 76% menjadi 78%. Sedangkan produksi cold rolled coil (CRC), turun 8,7% dari 567.629 ton menjadi 518.171 ton seiring kebijakan perusahaan yang mengoptimalkan penjualan HRC.

Penurunan volume penjualan juga terjadi pada produk baja yang dihasilkan anak perusahaan, berupa baja tulangan (steel bars) turun sebesar 18,5% (yoy) menjadi 200.074 ton, baja profil (steel sections) turun sebesar 48,5% menjadi 42.525 ton, dan pipa baja (steel pipes) menurun sebesar 39,4% menjadi 50.464 ton. Penurunan penjualan baja profil (steel sections) dan pipa baja yang drastis ini disebabkan oleh membanjirnya impor baja boron pada semester I-2014 dan rendahnya harga jual rata-rata produk tersebut.

Irvan K Hakim memaparkan, secara keseluruhan, volume penjualan hanya berkurang 2,5%, yakni dari 2.375.958 ton menjadi 2.316.121 ton. Namun, dampak anjloknnya harga baja dunia telah membuat pendapatan perusahaan turut menurun sebesar 10,3% menjadi US$ 1,86 miliar.

Selain itu, faktor kerugian lain adalah depresiasi nilai tukar rupiah selama 2014 yang menekan pendapatan perseroan. Menurutnya, perekonomian domestik yang belum kondusif terlihat dengan volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga hal ini semakin membuat margin laba PTKS tergerus. “Rupiah terus melemah dan fluktuatif, sementara bahan baku dan energi dalam Dollar AS.  Padahal, komponen energi dan bahan baku sebesar 80% dari total biaya produksi,” ujarnya.

Perolehan laba kotor perusahaan turun sebesar 57% (yoy) menjadi US$ 41,1 juta. Penurunan beban pokok pendapatan perusahaan sebesar 8,1% atau senilai US$ 161 juta, bahkan belum mampu mengimbangi dampak dari penurunan pendapatan bersih, yang disebabkan oleh turunnya harga jual rata-rata dan volume penjualan.
Pada akhir tahun lalu, PTKS membukukan rugi operasi sebesar US$ 70,4 juta dan rugi bersih sebesar US$ 156,9 juta. Kerugian yang dialami selaku pemilik entitas induk, yakni sebesar US$ 149,8 juta, di mana 47,7% kontribusi kerugian berasal dari perusahaan asosiasi, utamanya dari PT Krakatau Posco yaitu sebesar US$ 71,6 juta  Ruginya PT Krakatau Posco disamping karena dampak melemahnya pasar baja dunia sehingga pendapatannya di bawah target, juga karena perusahaan tersebut yang baru beroperasi di awal 2014 memerlukan waktu 2,5 bulan untuk proses “learning curve”, sehingga ikut berkontribusi pada rendahnya produksi dari target.

Program Efisiensi dan Ekspansi
Irvan menjelaskan, menghadapi kondisi dan tantangan perekonomian dunia yang belum kondusif, PTKS tetap melanjutkan program efisiensi yang di tahun 2014 berhasil memangkas pengeluaran biaya sebesar US$ 195,5 juta dengan cara optimalisasi pola operasi, mengurangi biaya overhead dan sinergi dengan PT Krakatau Posco.

Program efisiensi lain adalah pembangunan pabrik Blast Furnace dengan kapasitas 1,2 juta Ton pertahun yang diharapkan akan beroperasi pada semester 2 tahun ini. Dengan adanya Blast Furnace yang menghasilkan Hot Metal untuk proses pembuatan baja diharapkan dapat menurunkan biaya produksi 60 – 80 USD per ton. Kemudian pembangunan Combined Cycle Power plant (CCCP) dengan kapasitas 120 MW yang diharapkan dapat menurunkan biaya hingga 20% untuk biaya pembangkitan listrik.

Untuk program ekspansi saat ini sedang dibangun Hot Strip Mill (HSM) #2 dengan kapasitas 1,5 juta ton per tahun sehingga total kapsitas HSM menjadi 3,9 juta ton per tahun. Sedangkan pengembangan di anak usaha yang telah diselesaikan adalah pengembangan kapasitas pelabuhan dari 10 juta ton pertahun menjadi 25 juta ton pertahun, pengembangan kapasitas supplai air dari 1200 liter/detik menjadi 1800 liter/detik dan pembangunan pabrik pipa baja ERW #2 dengan kapasitas 115 ribu ton per tahun sehingga kapasitas total pabrik pipa baja menjadi 233 ribu ton per tahun.
 
“Dengan langkah dan upaya manajemen tersebut diharapkan kondisi keuangan akan membaik di masa depan,” ujarnya.

 Dilihat : 11243 kali