20 Februari 2015
Kunjungi PT KS, Menteri BUMN Dukung Krakatau Steel untuk Terus Berkembang

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan pemerintah akan memberikan perlindungan kepada PT Krakatau Steel (Persero), Tbk. sesuai diberlakukan di negara produsen baja lainnya terkait dengan serbuan baja impor yang disinyalir menggunakan praktik dumping. Hal ini disampaikan ketika Menteri Rini melakukan kunjungan kerja ke kawasan industri PT Krakatau Steel (Persero) Tbk pada Selasa (17/2).

Rini mengatakan, Krakatau Steel merupakan industri dasar yang sudah seharusnya mendapat dukungan agar dapat terus berkembang serta dapat terus melakukan efisiensi.

"Krakatau Steel sebagai industri dasar memiliki aneka produk yang dibutuhkan industri-industri di bawahnya sehingga pemerintah akan tetap komitmen untuk memberikan dukungan," kata Rini usai melakukan pertemuan dengan direksi dan komisaris KS.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Irvan K Hakim mengatakan, dalam pertemuan dengan Menteri BUMN pihaknya telah meminta perlindungan terkait dengan tekanan eksternal yakni jatuhnya harga baja dunia, serta serbuan produk baja impor.

Sepanjang periode 2011-2014, harga baja dunia terus mengalami penurunan secara tajam akibat kelebihan pasokan baja yang signifikan dari Tiongkok yang mencapai 51 juta ton pada 2014. Pasokan baja dunia yang berlebih ini membuat harga rata-rata baja dunia menurun dari US$ 705/ton pada 2011 menjadi US$ 536/ton pada 2014.

“Harga baja dunia bahkan masih terus menurun. Rata-rata pada kuartal I-2015 adalah sebesar US$ 442/ton,” kata Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk Irvan K Hakim di Jakarta, Selasa (17/2).

Menurut Irvan, anjloknya harga baja dunia turut membuat harga baja domestik anjlok. Secara bersamaan, pasar baja domestik turut dibanjiri oleh produk-produk baja impor. Sebanyak 3,4 juta ton baja impor membanjiri pasar domestik pada 2009, kemudian meningkat menjadi 8,2 juta ton pada 2013, atau terjadi lonjakan hingga sebesar 240%. “Padahal, kebutuhan baja domestik pada 2013 mencapai 12,7 juta ton. Baja impor menyerap hampir 64,5% dari kebutuhan baja domestik,” kata Irvan.

irvan-rini.jpgIrvan memaparkan, masifnya serbuan baja-baja impor ke dalam negeri disebabkan pengenaan bea masuk baja impor yang relatif rendah dibandingkan negara-negara tetangga, yakni hanya sebesar 5%. Malaysia misalnya, mengenakan bea masuk sebesar 20% ditambah 24,8% tarif anti dumping sementara, termasuk kepada baja-baja produksi Indonesia. India dalam waktu dekat akan menaikkan tarif BM dari 7,5% menjadi 15%. Thailand mengenakan BM 5% ditambah kebijakan bea masuk anti dumping (BMAD) untuk 24 negara hingga 33%.

Irvan mengatakan, turunnya harga baja dunia berpengaruh terhadap kinerja perusahaan, meskipun volume penjualan mengalami kenaikan tetapi nilai penjualan tetap mengalami penurunan.

Irvan menjelaskan, perusahaan telah mengambil langkah-langkah efisiensi menghadapi kondisi eksternal yang tidak menguntungkan tersebut, di antaranya dengan menekan beban tenaga kerja, optimalisasi pola operasi pabrik, dan meningkatkan sinergi dengan Krakatau Posco.

Ke depan, kata Irvan, Krakatau Steel akan menyelesaikan sejumlah pembangunan proyek dalam rangka efisiensi biaya energi seperti proyek blast furnance kompleks, dan pengoperasian proyek 120 MW combined power plant. Pabrik Blast Furnace akan menurunkan biaya produksi di area hulu hampir 100 dolar AS per ton baja.

Sementara, kehadiran combined cycle power plant (CCPP) akan menurunkan biaya listrik di bawah harga PLN saat ini, menjadi sekitar 6,5 sen dolar AS per kWh.

 Dilihat : 10420 kali