09 Februari 2015
Industri Baja Masih Tertekan

Investor Daily, 9 Februari 2015

JAKARTA - Industri baja nasional tahun ini diperkirakan masih tertekan, seiring belum membaiknya pasar baja dunia. Hingga kini, kelebihan pasokan (oversupply) masih menimpa industri baja dunia, karena perlambatan ekonomi Tiongkok.

Oversupply bahkan kini sudah masuk tahap yang kronis, sehingga memukul harga baja dunia. Imbasnya, beberapa perusahaan baja besar dunia merugi.

Direktur Eksekutif Indonesia Iron and Steel Industry Association (USIA) Hidajat Triseputro mengatakan, pemulihan pasar dan harga baja dunia diperkirakan membutuhkan waktu lama. Semua tergantung pada pemulihan ekonomi Tiongkok.

Dalam pandangan dia, perlambatan ekonomi Tiongkok membuat permintaan baja dunia melemah. Sebab, kapasitas produksi industri baja Tiongkok mencapai 50% dari total kapasitas dunia. Tak ayal lagi, harga baja terpuruk.

Di tengah situasi itu, menurut Hidajat, pemain baja Tiongkok mencari pasar baru untuk melempar kelebihan produksi. Di sinilah muncul praktik membanting harga jual alias dumping. Salah satu pasar yang dibidik Indonesia.

"Korea Selatan juga dalam situasi tertekan karena laju impor baja murah dan masuk kategori dumping," kata Hidajat di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia memaparkan, berdasarkan data China Iron and Steel Association (CISA), akhir bulan Agustus 2014 dilaporkan 23 perusahaan dari total 88 perusahaan baja besar merugi. World Steel Dynamic (WSD), lembaga penelitian dan investigasi khusus baja, memperingatkan bahwa outlook profit tetap akan negatif tahun Kondisi ini disebabkan hanya terjadi pertumbuhan moderat di luar Tiongkok. Adapun pertumbuhan permintaan di Tiongkok hanya akan berdampak sedikit, karena permasalahan utamanya terletak pada kelebihan kapasitas.

Hidajat menjelaskan, industri baja nasional akan terkena imbas situasi baja global. Di sisi lain, produsen baja domestik mesti berhadapan dengan pelemahan rupiah yang menggerus margin laba industri baja. "Tidak hanya itu, industri baja harus menanggung beban kenaikan harga energi dan upah buruh," ujar dia.

Dia mengungkapkan, harga listrik di Indonesia paling mahal se-Asia Tenggara serta harga gas alam untuk industri di Indonesia berkisar US$ 7-9,3 per mmbtu. Bandingkan dengan harga gas di Malaysia sebesar US$ 4 per mmbtu dan harga internasional hanya US$ 2,8 US$ per mmbtu. Hal ini sudah berlangsung selama hampir tiga tahun.

"Rupiah terus melemah dan fluktuatif, sedangkan biaya bahan baku dan energi dalam dolar AS. Padahal, kontribusi energi dan bahan baku sebesar 80% dari total biaya produksi," ujar dia.

Hidajat mengatakan, dengan kondisi ini, harga bahan baku sama dengan harga jual sehingga sudah sangat tidak masuk akal. Dia juga meminta pemerintah harus menyiapkan medan laga yang setara dengan negara-negara Asean, misalnya dengan Malaysia dan Vietnam.

Penaikan harga jual kata dia, juga tidak bisa serta-merta dilakukan, karena harus bersaing dengan harga baja impor yang relatif lebih murah. Oleh karena itu, perlu dikeluarkan kebijakan tarif bea masuk supaya melindungi produsen baja nasional dari ancaman serbuan baja impor.

"Industri baja Asean akan mengadakan serangkaian pertemuan dengan otoritas Tiongkok dan CISA akhir minggu ini guna menyampaikan complaint atas tindakan berbagai subsidi yang diberikan pemerintah Tiongkok terhadap industri bajanya," tegas dia.

 Dilihat : 6245 kali